“Romantic Misery” dan “3 AM”, Manifesto Lumeenals Melawan Sindrom Malas dan Abu Kota

Categories: Music

Share
Unit indie asal Serang yang digawangi oleh Sakti (gitar dan vokal), Gibran (Gitar dan vokal), Ichlasul (gitar akustik dan vokal), Dwi (bass) dan Fajri (drum) atau dikenal dengan Lumeenals, resmi merilis maxi single terbaru mereka yang berisi dua nomor segar berjudul “Romantic Misery” dan “3 AM.” Dua lagu ini menjadi penanda fase baru band setelah merilis EP Membiru (2023), sekaligus menghadirkan karya yang lebih matang.

Bagi Lumeenals, romansa bukan sekadar perkara cinta, bunga ataupun rayuan. Romansa adalah kegelisahan yang telanjang: rasa sakit yang tak terjawab, malam yang tak kunjung selesai, dan pertanyaan hidup yang hanya bisa dipeluk. Lewat Romantic Misery dan 3 AM, mereka menggambarkan kesepian sebagai jam biologis dalam tubuh yang letih, namun pikiran yang terus berseliweran.

Namun, proses di balik maxi single ini tidak mudah. Seperti halnya sistem kolektif lainnya, Lumeenals sempat terjebak dalam “sindrom tangan buntung”—metafora untuk sikap malas, ketika ide hanya dilempar tanpa respon. Alih-alih kandas, sindrom itu justru melahirkan proses terseok dan tarik-ulur yang pada akhirnya menghasilkan dua lagu yang lebih otentik.

Latar kota Serang menjadi konteks yang tak terpisahkan. Di tengah panas, polusi, dan sinisme urban, Lumeenals membuktikan bahwa musik masih bisa tumbuh. Seperti tanaman liar yang muncul di retakan beton, Romantic Misery dan 3 AM menjadi bukti bahwa bahkan di kota dengan abu sekeras ini, masih ada ruang untuk bernapas dan bertahan.

Maxi single ini adalah manifesto Lumeenals sebuah perlawanan kecil terhadap sindrom malas dan absurditas kota. Bahwa romansa masih bisa menjadi strategi bertahan hidup, dan bahwa pertumbuhan sejati sering kali lahir justru dari kerikil-kerikil kecil yang tak terlihat.

Maxi single ini tidak hanya menambah catatan perjalanan band, tetapi juga menandai pertumbuhan sebuah skena. Bahwa musik di Serang bukan sekadar mengejar eksitensi, melainkan proses menemukan identitas. Lumeenals—dengan segala kerentanannya—sedang menuju kematangan. Dan lewat Romantic Misery serta 3 AM, yang sudah dapat didengarkan dan bisa disimpan dalam playlist diseluruh digital platform favoritmu! (INQ)

Comeback Mengejutkan, Fletch Rilis “Zarah” Single dengan Pesan Sejati yang Bikin Merinding

Categories: Music

Share
Setelah merilis single terakhir pada 2023, Fletch kembali menghidupkan langkahnya di dunia musik lewat karya terbaru berjudul “Zarah”. Single ini menjadi simbol kembalinya energi kreatif sekaligus menegaskan kematangan secara musikal. Fletch—yang digawangi oleh Richard (vokal, gitar), Danti (ukulele), Ridla (vokal, keyboard), Naufalia (bass), Amanda (biola), dan Ade (drum)

Fletch tidak sembarangan memilih judul “Zarah.” Dalam bahasa Arab, kata ini merujuk pada zat atau partikel terkecil. Dalam Al-Qur’an, ia hadir sebagai pengingat bahwa sekecil apa pun amal maupun dosa, semuanya tetap akan mendapat balasan. Makna tersebut kemudian Fletch wujudkan dalam bentuk musikal, menjadikannya fondasi konseptual dari single terbaru mereka.

“Lagu ini berisikan peringatan hingga sindiran tentang kehidupan yang sebenarnya sering kita
dengar namun kerap kita abaikan” ucap Ridla, keyboardist sekaligus penulis lirik “Zarah”. 

Ridla bercerita bahwa proses penulisan lagu ini lahir dari perenungan yang mendalam, sebuah refleksi diri. Rangkaian kalimat yang tercipta awalnya ia tulis sebagai pesan pribadi untuk dirinya sendiri, sebelum akhirnya berkembang menjadi sebuah lagu  benar-benar bermakna.

“Harapannya, Zarah bisa jadi pengingat sekaligus tamparan halus soal hidup yang sering kita anggap remeh” tambah Ridla.

Secara musikal, “Zarah” hadir dengan warna yang lebih matang. Lapisan-lapisan instrumen terjalin lebih intim: petikan ukulele yang ringan, gesekan biola yang menyusup halus, dentuman drum yang kokoh mengikat, hingga vokal yang menyiratkan wejangan dengan tegas. Vibrasinya mampu membuat pendengar sejenak menunduk, merenung, dan kembali mengingat kefanaan hidup.

Rangkaian nasihat yang bergetar begitu dalam, berpadu dengan harmoni musik yang menyelubung, membuat siapapun yang mendengarkan sukses dibuat merinding.

Fletch menyebut “Zarah” sebagai tanda bahwa mereka masih berdiri dan berkarya. Single ini menjadi pembuka jalan mereka comeback sebagai lineup di beberapa perhelatan musik di bulan Agustus ini.

Mulai hari ini 20 Agustus 2025, “Zarah” sudah bisa kamu dengarkan di semua platform digital. “Zarah” sebuah partikel kecil yang mampu menyalakan kesadaran lewat telinga kita. Congratulations! (INQ)

"Fragments of Reality" Memberikan Emosional yang Kuat, Awalan Baru Dari Black Dig Menuju Album Mendatang

Categories: Music

Share
Black Dig, band asal Jakarta yang terdiri dari Fadel (Vokal), Adjie (Gitar), Rangga (Bass), Reza (Gitar), dan Amar (Drum), resmi meluncurkan single terbaru berjudul “Fragments of Reality.”

Single ini menghadirkan penggalan atmosferik yang menghajar realitas lewat ledakan gitar berdistorsi menggebu-gebu, membakar semangat yang terus membara, ruang hampa emosional yang kuat, serta balutan visual surealis.

“Siapapun yang merasa dunianya retak atau kehilangan arah, kami ingin pendengar tahu bahwa mereka nggak sendirian. Lagu ini mengajak untuk merangkul kenyataan, bahkan yang pahit sekalipun, dan mengubahnya jadi energi untuk bangkit dan terus maju,” ujar Black Dig kepada tim Bvckle Smiggle.

Sejak menit pertama, bara spirit yang mereka bawakan langsung terasa. Dentuman drum memberi tanda untuk bersiap masuk ke dalam ruang emosional lagu, sementara gitar melengking mengiringinya. Dalam proses penggarapan, Black Dig sedikit bercerita,

“Setiap personel bawa ide mentah dari pengalaman pribadi, lalu racik bareng di studio sampai jadi aransemen yang hidup dan penuh energi. Hasilnya, lagu ini terasa jujur dan punya karakter khas Black Dig.”

Tak hanya musik, single ini juga dilengkapi dengan artwork garapan Ading Atma. Visual tengkorak, gagak, kursi kosong, dan petir yang membelah ruang menjadi representasi dunia yang tidak baik-baik saja. Semua itu menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar musik, melainkan lanskap psikis yang ditumpahkan ke dalam distorsi dan gema.

Rilisan Fragments of Reality” menjadi langkah awal Black Dig menuju album penuh yang akan datang. Tunggu apalagi? Dengarkan sekarang juga dan masukkan ke playlist-mu! (DA)