Ada jam-jam tertentu yang terasa seperti ruang hampa; senyapnya membungkam suara dari luar dan memperjelas gema tiap sudut kepala. Bagi Daririna, jam itu diberi nama “Jam Segini”. Merupakan sebuah single terbaru yang berasal dari puisi yang merekam keresahan eksistensial, karya ini terus memantulkan relevansinya hingga sekarang.
Di balik aransemen atmosferik yang indah sekaligus getir, “Jam segini” menyalakan lampu ditengah lelahnya mata, tetap terjaga karena insomnia, overthinking, atau karena realitas hidup sedang menguji daya maupun upaya.
“Setiap orang punya jam segini-nya sendiri,” ungkap Daririna.
“Momen saat kita sadar bahwa hidup ternyata tidak sebagus yang dibayangkan. Ketika pertanyaan datang, dan kita tahu jawabannya tidak banyak.” Tutupnya.
Kolaborasi ini menghadirkan Ahmad Farid dan Reza Buldanul Hakim sebagai penulis lagu, serta Mart dan Feri yang membangun keberagaman ritme dalam komposisi ini menemukan pasangan idealnya pada karakter vokal Daririna, membentuk aransemen melodi yang berhasil membangun atmosfer “Jam Segini”. Seperti sepucuk surat yang baru tiba di tengah malam; dibaca dengan perlahan kemudian menetap di ingatan.
Dari Catatan Pandemi ke Harmoni yang Mengobati
Puisi “Jam Segini” pertama kali ditulis pada masa awal pandemi 2020, di tengah krisis pribadi: kisah cinta kandas, usaha tutup, tagihan datang tanpa henti. Dunia sedang lumpuh, tapi tekanan personal justru melaju kencang. Dari luka itu, lahirlah bait-bait yang akhirnya menemukan harmoni yang mengobati. Liriknya ringkas, setiap kalimat seperti pisau tipis yang menggores tanpa sadar.
“Jam segini apa yang engkau pikirkan
Sebotol pembersih lantai untuk kau tenggak
Jam segini apa yang engkau pikirkan
Dua butir pil untuk tidurmu—Jam Segini”
Cermin Generasi yang Terus Mengarungi Badai
“Jam Segini” adalah cermin yang memantulkan wajah generasi sandwich: bekerja lebih awal dari seharusnya, menopang keluarga, menunda mimpi, sambil berhadapan dengan ongkos hidup yang terus menanjak. Lelah! Refleksi sebuah realita bak badai yang sedang menerjang. Upah tak setara, biaya melambung, dan kecemasan yang terus merangkak diam-diam hingga ranjang dan semuanya terbenam di balik melodi.
Lagu yang sangat menyentuh dan personal, untuk kita yang perlahan lelah. Dan kini lagunya telah rilis 7 Agustus lalu, wajib dinikmati diseluruh digital platforms official milik Daririna. Congratulations! (INQ)
Tentang Daririna
Solois folk-pop asal Karawang ini telah aktif sejak 2020 membawakan musik beraliran folk-pop dengan sentuhan melankolis yang sangat puitis. Dikenal lewat karya seperti Sandiwara, Anila dan Angkasa, Seperti Lukisan, dan Down and Blue. Suara lembutnya yang khas, dikombinasikan dengan lirik yang relate dengan realita menjadikannya sosok yang menonjol di skena musik independen.