Stromberry Blue rilis streaming Album EP “See You Darling”,  Sebuah Romantisasi Problematik Yang Melankolis Dari Hulu Sungai Kapuas, Pontianak

Categories: Music

Share
Kali ini kita akan membahas dari skena alternative, Stromberry Blue yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat dengan personil Ori Natasha  (Vokal/Gitar), Gian (Gitar), Adi (Bass), Andhanika (Drum), serta tambahan Wikri (Terompet) dan Aryo (Synthesizer). Mereka secara resmi merilis EP “See You Darling” dalam format digital pada akhir Maret lalu melalui Dirtwave Rekords selaku distributor rilisan fisik dan digital resminya. Sebelumnya rilisan fisik kaset pita juga sudah dirilis pada September 2025 dan sempat direview di kanal Youtube Vixtape Eps. 13. Pada EP tersebut memuat 6 tracks alternative dalam muatan chamber pop, jazz, psychedelic dan nuansa dreamy sebagai ciri khas musik mereka.

Alkisah dari pengapnya sebuah studio kecil yang mereka kelola sendiri dan diberi nama Studio Berdikari, mereka telah memulai perjalanan bermusik Stromberry Blue dan akhirnya merekam EP “See You Darling” pada pertengahan 2022 dengan dua single pertama "Close" yang dibuka dengan kick drum dan menjadi opener dalam EP ini, yang berkisah tentang kejujuran dalam romansa dingin dalam menyatakan sebuah perasaan, kemudian "Bimbang Daku Dengan Puan" yang menceritakan tentang problematika kisah nyata dalam kehidupan asmara personal Stromberry Blue. Kedua materi tersebut rampung sekitar setahun dan dirillis Agustus 2023.

Dan ditahun berikutnya Stromberry Blue kembali melanjutkan merekam empat materi dan selesai di tahun 2025. Didalam 4 materi yang sudah direkam, masing-masing diberi judul "Rabu”, sebuah lagu melankolis tentang perayaan duka disetiap malam, kemudian “Dimana Jalanmu”, yang menceritakan sebuah refleksi dari perjalanan mati rasa dalam menemukan kenangan masa lalu yang kelabu, lalu ada “See You Darling” yang bernuansa gloomy yang menjadi tanda perpisahan kepada seseorang dan ditutup dengan track “Terka”, yang menjadi kesimpulan dari keseluruhan cerita dari EP ini, bahwa semua perjalanan romansa yang sudah terjadi dan rusak itu tidak dapat kembali dan tidak dapat diobati.

Direkam kembali secara mandiri di Studio Belantara dan proses mixing dan mastering digarap oleh Hadyan F Amirullahsbagai kesatuan yang utuh dalam EP “See You Darling” milik Stromberry Blue dan kini boleh kalian dengarkan di seluruh penyedia layanan Digital Streaming. Cocok didengar sambil nikmati nuansa musik yang khas dengan lirik melankolis namun romantis dari album mereka. (INQ)

ANGEL OF DEATH Rilis “PESTA BUNUH DIRI”, Kritik Brutal Tentang Kematian Nalar di Era Global

Categories: Music

Share
Di tengah hiruk pikuk yang semakin bising oleh propaganda digital, polarisasi sosial, dan budaya instan yang menggerus identitas manusia, unit metal asal Sukabumi, ANGEL OF DEATH kembali muncul membawa ledakan baru bertajuk “Pesta Bunuh Diri”. Sebuah manifesto perlawanan terhadap kematian kesadaran manusia modern.

Formasi terbaru mereka diisi oleh Faizal (vokal), Okky (gitar), Wig (bass), dan Adji (drum). Chemistry tersebut terasa semakin matang dan terasa lebih agresif, dan lebih berani membongkar realitas sosial melalui medium musik ekstrem.

Dengan karakter agresif yang selama ini menjadi identitas mereka, Angel Of Death memperluas spektrum musik dengan atmosferik yang lebih gelap. Lagu yang meraung seperti alarm darurat di tengah reruntuhan peradaban digital yang brutal dan sesak.

“Pesta Bunuh Diri” adalah metafora satir mengenai bunuh diri eksistensial. Sebuah kondisi ketika manusia secara sukarela menyerahkan nalar, spiritualitas, bahkan identitas personalnya demi diterima dalam sistem sosial yang seragam dan dikendalikan secara masif.

Angel Of Death membedah fenomena tersebut melalui lirik yang tajam. Mereka menyoroti bagaimana manusia modern perlahan dipaksa berdansa mengikuti ritme budaya global yang menciptakan standar kebahagiaan palsu. Di balik ilusi kemajuan, manusia justru semakin jauh dari realitas dirinya sendiri.

Dalam semesta “Pesta Bunuh Diri”, media sosial digambarkan sebagai arena penghancuran kolektif. Polarisasi menjadi alat kontrol paling efektif dimana manusia sibuk saling menyerang demi ideologi yang pada akhirnya berasal dari sumber kekuasaan yang sama. Kebencian dipelihara, ego dipertentangkan, sementara kesadaran perlahan dilumpuhkan.

Angel Of Death juga menyentuh konsep digital panopticon — sebuah kondisi ketika algoritma menjelma menjadi penjara tak kasat mata. Setiap klik, interaksi, hingga data pribadi berubah menjadi komoditas dalam sistem pengawasan modern. Kita merasa bebas, padahal sedang berjalan menuju bentuk penghambaan baru yang lebih halus dan lebih mematikan.

Kematian individu menjadi inti dari keseluruhan narasi lagu ini. Sebuah perayaan massal atas hilangnya jati diri akibat kontrol sistemis yang bekerja secara perlahan namun nyata. “Pesta Bunuh Diri” terdengar seperti soundtrack generasi yang hidup di tengah kebisingan informasi namun kehilangan nalar mereka.

“Lagu ini adalah pengingat bahwa jika kita tidak segera bangun dan mengambil alih kemudi pikiran kita sendiri, kita hanyalah tamu yang diundang dalam sebuah perayaan yang bertujuan untuk melenyapkan kemanusiaan kita.”

Bersamaan dengan perilisan single-nya di berbagai platform digital, Angel Of Death juga menggelar ritual pelepasan amarah sekaligus refleksi kolektif bagi skena underground bertajuk “Pesta Bunuh Diri” dalam event live show Ruang Berisik Chapter 8 yang diselenggarakan di Pride Palace Coffee, Sukabumi bulan April lalu.

Lewat rilisan ini, Angel Of Death menawarkan kemarahan yang nyata. Mereka sengaja menyusun sebuah cermin besar bagi masyarakat modern dan memperlihatkan bagaimana manusia perlahan kehilangan dirinya sendiri di tengah pesta besar bernama peradaban. Congratulations! (INQ)

MEGATRUH SOUNDSYSTEM Lepas Single “Tari Di Medan Api” Sebagai Wahana Berdansa Wong Kalahan

Categories: Music

Share
Berawal pada tahun 2023 hingga kini, sejatinya Megatruh Soundsystem memang hampir tak pernah bermain aman. A unit Duo Mystical Heavy Dub dari Yogyakarta yang diperkuat oleh Ari Hamzah dan Kiki Pea rupanya memilih konsep meramu heavy mystical dub sembari menyelipkan aroma post-punk dan darkwave yang terasa kelam dan mencekam. Tak sekadar musik sahaja, Megatruh Soundsystem malah menjadikan suara dan bunyi-bunyian menjadi senjata perlawanan dalam membaca realitas para kaum minoritas.

Setelah "Palu Kuasa" memberi hantaman isyarat yang tegas, kini mereka kembali meluncurkan single "Tari di Medan Api” yang merupakan sebuah komposisi instrumental sekaligus menjadi awal menuju album kedua. Dirilis melalui Dugtrax Records (DOM 65, Sukatani, B.O.A.R., The Glad, Viva City, Sakarin, Amok) bekerjasama dengan produser Wok The Rockmenjadikannya tidak sekedar heavy ska-dub, tetapi lebih ke menggabungkan bass beat ala subkultur Jamaika, ska instrumental menyatu padu dengan perkusi barongsai lokal dan getaran ritual Jathilan yang hipnotik. Hasilnya seperti menjalani ritual di tengah hiruk pikuk bass beats yang bergema, delay yang membentuk lorong waktu, dan menciptakan ruang mistisisme dan politis.

Yang menarik, "Tari di Medan Api" sengaja dirilis pada malam takbir menjelang Idul Fitri lalu untuk mencoba memaknai berbagai bunyi-bunyian khas takbiran, petasan, drum jalanan, riuhnya perayaan malam jelang lebaran. Momen tersebut diibaratkan menjadi narasi musikal tentang bertahan di atas api zaman. Kiki Pea menyatakan bahwa Ini adalah tarian orang tanpa panggung, tanpa mimbar politik, tanpa mikrofon. Yang mereka punya hanyalah dentuman bass dan tubuh yang terus bergerak.

Bagi Megatruh, dub dan ska merupakan bahasa kelas pekerja yang lahir dari jalanan Jamaika yang berasal dari tumpukan speaker di gang sempit hingga mengubah ruang publik menjadi ruang resonansi kolektif yang konon tidak diberikan oleh penguasa.

Di tangan mereka, semangat itu dicoba diterjemahkan kedalam karakter kontemporer lokal Indonesia seperti trance, ritual, noise, dan kegelapan post-punk disatukan bukan sekadar untuk uji coba estetika, melainkan untuk merakit ulang serpihan kebudayaan yang selama ini dipisahkan oleh industri hiburan dan logika pasar. 

Nama Megatruh sendiri diambil dari tembang macapat Jawa, menggambarkan momen lepasnya ruh dari raga. Sebuah metafora melepaskan kesadaran dari ilusi kekuasaan modern (propaganda, nasionalisme kosong dan kebohongan politik). Dalam dunia yang terus membara oleh konflik sejarah yang tak pernah reda, Megatruh Soundsystem memilih untuk menari karena hanya itu yang dimiliki oleh buruh, pekerja malam, pemuda jalanan, dan mereka yang tinggal di pinggiran.

Karena pada akhirnya, musik adalah wahana berdansa orang-orang yang kalah.

"Tari di Medan Api" by Megatruh Soundsystem kini telah menjadi bagian dari perilisan Album  "HEAVY MYSTICAL DUB" dan telah dibuka sesi preorder Albumnya melalui bandcamp Dugtrax Records. Akses melalui tautan resmi dugtraxrecords.wordpress.com dan videoklipnya bisa kalian saksikan di kanal Youtube Frogstone. (INQ)