“Under Black Blossom Trees” Bentuk Ritual Gelap AMORPHOUS yang Siap Menelan Jiwamu

Categories: Music

Share
Hello Bvckle’s Fren kali ini ada unit black metal asal Tasikmalaya, Jawa Barat, Amorphous yang resmi membuka lembaran baru dalam perjalanan musikal mereka lewat single terbaru bertajuk “Under Black Blossom Trees.” Sebuah gerbang kegelapan, menuju konsep artistik yang lebih dalam, sekaligus menjadi pengantar untuk EP terbaru yang dijadwalkan meluncur tahun ini.

Mengusung tema kematian sebagai bentuk transendensi, “Under Black Blossom Trees” membingkai narasi suram. Lagu ini menghadirkan figur simbolis yang memposisikan diri sebagai pembawa wahyu yakni entitas yang menyerukan jiwa-jiwa terasing untuk meninggalkan dunia fana dan kembali ke asal yang telah lama menanti. Nuansa ini menjadikan lagu tersebut terasa seperti ritual sunyi dan penuh makna.

Liriknya lahir dari perenungan akan keseimbangan antara keyakinan, ketakutan, dan hal-hal yang tak mampu dijangkau oleh logika manusia. Di titik ini, “Under Black Blossom Trees” membiarkan pendengar tenggelam dalam makna pengalaman spritual yang mereka bangun sendiri.

Dari sisi produksi, single ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Proses rekaman dilakukan di Damage Studio, Tasikmalaya, dengan sesi drum yang direkam di QR Studio, Ciamis. Adit dan Bay dari Damage Studio bertanggung jawab dalam proses tracking, sementara tahap mixing dan mastering dipercayakan kepada Febri di Orvious Soundlab. Dengan hasil yang lebih solid, lebih tajam, dan terasa matang dibandingkan rilisan mereka sebelumnya.

Secara musikal, Amorphous kini tampil dengan formasi terbaru yang terdiri dari lima personel yang memberikan ruang eksplorasi yang lebih luas, menghadirkan aransemen yang agresif dan imersif. Kehadiran Lord Daevas dari Sethos sebagai vokalis tamu turut memperkuat dimensi emosional lagu ini, menambahkan intensitas yang memperdalam karakter gelap yang diusung.

Untuk sisi visual digarap oleh Serpentchron, yang menerjemahkan esensi lagu ke dalam artwork penuh simbol dan nuansa kelam. Visual ini mempertegas identitas Amorphous sebagai entitas yang serius dalam membangun dunia konseptual mereka.

Perilisan “Under Black Blossom Trees” menjadi langkah awal yang menjanjikan menuju EP terbaru Amorphous. Lebih dari itu, single ini menegaskan komitmen mereka dalam mengeksplorasi black metal sebagai medium ekspresi yang keras secara, dalam secara emosional dan filosofis.

Single ini akan tersedia di berbagai platform digital dan didukung oleh kampanye promosi bersama Metalgear Music. Ritualpun telah dimulai, Amorphous siap menarik siapa pun yang berani mendekat untuk masuk lebih dalam ke dalam kegelapan yang mereka ciptakan. (INQ)

Era Baru The SIGIT Setelah Enam Tahun Penantian Hadir Lewat “Bread & Circus”

Categories: Music

Share
Setelah enam tahun menanti hidangan, The SIGIT akhirnya kembali ke arena dengan sebuah masakan terbarunya. Single bertajuk “Bread & Circus” menjadi pelepas rindu sekaligus penanda dimulainya babak baru bagi unit rock asal Bandung in. Penegasan dimulainya era yang membawa The SIGIT, the new era.

Perubahan paling mencolok hadir dari formasi. Kini, The SIGIT diperkuat oleh Absar Lebeh (gitar), Aghan Sudrajat (bas), dan Raveliza (drum) sebagai personel resmi, yang bergabung bersama dua nama lama, Rektivianto Yoewono (vokal, gitar) dan Farri Icksan Wibisana (gitar). Kombinasi ini melahirkan dinamika baru, baik dalam komunikasi maupun proses kreatif di dalam tubuh band.

“Dengan bertambahnya tiga orang baru, ada etos yang berbeda, dinamika komunikasi yang berbeda, yang mana semuanya membutuhkan adaptasi. Kebetulan, proses adaptasi tersebut bisa dijalankan perlahan sambil bermusik,” sambut Rekti mewakili The SIGIT.

Dinamika tersebut terasa jelas dalam “Bread & Circus”. Lagu ini menjadi pintu masuk menuju spektrum musikal terbaru The SIGIT yang masih berakar pada guitar-driven rock yang menjadi ciri khas mereka, namun kini diperkaya dengan sentuhan synthesizer dan instrumen elektronik yang lebih dominan. Hasilnya adalah lanskap suara yang lebih psikedelik, lebih berwarna, sekaligus terasa segar tanpa kehilangan identitas mereka.

Secara tematik, “Bread & Circus” mengangkat isu yang jauh dari kata ringan. Lagu ini berbicara tentang persoalan struktural—perampasan ruang, penyalahgunaan kekuasaan, hingga pengelolaan sumber daya alam yang serampangan. Sebuah refleksi keras tentang bagaimana manusia seringkali mengorbankan lingkungan demi kepentingan sesaat, tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang harus ditanggung oleh alam itu sendiri.

Kehadiran Absar, Aghan, dan Ravel juga memberikan pattern baru dalam proses produksi. Perbedaan cara bermain serta latar musikal masing-masing membuka ruang eksplorasi yang sebelumnya belum tersentuh oleh The SIGIT.

“Kehadiran mereka jelas membawa nuansa yang berbeda pada hasil akhir karena cara bermain mereka yang sangat berbeda dengan kebiasaan formasi lama. Perspektif dan perbendaharaan musikal merekalah yang membuka cakrawala dalam pembuatan dan aransemen lagu,” lanjut Rekti.

Di balik layar, proses penggarapan “Bread & Circus” turut melibatkan sejumlah kolaborator. Tanya Ditaputri dari Rattlesmengisi vokal latar, sementara produksi ditangani oleh Budianto Setyadi sebagai produser sekaligus mixing engineer. Sisi visual juga digarap serius melalui kontribusi Gunkbudi dan Refantho Ramadhan, yang membentuk identitas visual kuat untuk rilisan ini.

“Bread & Circus” menjadi pembuka dari rangkaian materi baru yang tengah dipersiapkan oleh The SIGIT. Sebuah fase yang sudah lama dinantikan, mengingat terakhir kali mereka merilis karya adalah “Another Day” pada tahun 2020 silam.

“Saya rasa lagu-lagu baru lain yang sudah kami buat bersama juga memiliki daya tarik yang tidak kalah menarik dengan ‘Bread & Circus’. Ada pembaruan yang menyegarkan,” tutup Rekti.

Mulai 3 April 2026, “Bread & Circus” sudah dapat didengarkan di berbagai layanan streaming digital, disusul dengan perilisan video musik yang tayang perdana di kanal YouTube resmi The SIGIT pada pukul 20.00 WIB. Sebuah langkah awal yang menandai bahwa setelah penantian panjang, mereka berevolusi. (INQ)

FINGER! Bangkit dari Hibernasi Panjang Lewat “In Disguise” yang Lebih Berisik

Categories: Music

Share
Setelah sempat tenggelam dalam jeda panjang yang nyaris meredup, FINGER!, kuartet emo-punk asal Kota Batu, akhirnya kembali dengan single terbaru bertajuk “In Disguise”. Dirilis secara mandiri bak luapan energi yang selama ini tertahan sejak masa pandemi.

Terbentuk pada 2019, FINGER! dihuni oleh Caesar Nicko (gitar/vokal), Farkhan Ghani (gitar/vokal), Iqbal AR(bass/vokal), dan Ezra Adinugroho (drum). Sebelumnya dikenal dengan nama Finger Crossed, mereka sempat merilis single “Restroom Monologue” pada 2020 sebelum akhirnya berevolusi menjadi FINGER! dengan arah musikal yang lebih eksploratif dan berisik.

Akar musikal FINGER! tumbuh dari rasa penasaran terhadap berbagai spektrum genre yang tidak biasa. Mulai dari kompleksitas math-rock hingga energi liar emo-punk, referensi mereka meliputi band-band seperti Tiny Moving Parts, Elephant Gym, Tricot, Asian Kung-Fu Generation, hingga Jank. Perpaduan ini membentuk identitas FINGER! yang emosional namun tetap dinamis, kasar but masih terstruktur.

“In Disguise” sendiri sejatinya bukan materi baru. Lagu ini sudah digarap sejak pertengahan 2020 dan sempat direncanakan masuk ke dalam mini album. Namun, pandemi dan kesibukan masing-masing personel membuat proyek tersebut terhenti di tengah jalan, meski seluruh instrumen dan vokal sebenarnya telah direkam.

Baru pada akhir 2024, semangat untuk menyelesaikan “hutang lama” itu kembali muncul. Dengan energi yang masih terjaga, mereka memutuskan untuk mengulang proses rekaman dari awal demi mendapatkan hasil yang lebih matang. Hasilnya, “In Disguise” rampung pada awal 2026 dengan pendekatan yang terasa lebih segar namun tetap mempertahankan emosi mentah yang menjadi ciri khas mereka.

Secara tematis, “In Disguise” mengangkat kegamangan seseorang dalam mengekspresikan perasaan di tengah lingkungan sosial yang tidak sepenuhnya berpihak. Ada dorongan untuk bersikap acuh, namun di saat yang sama tetap ada keinginan untuk menyebarkan energi positif sebagai bentuk kompromi dengan keadaan. Sebuah konflik batin yang mudah relate dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam proses produksinya, seluruh instrumen dan vokal direkam di Haum Studio, dengan sentuhan akhir mixing dan mastering oleh Axel Kevin Y.D. serta Muhammad Fitryan Al-Fajri. Sementara itu, aspek visual dipercayakan kepada Rafi Wicaksana sebagai fotografer dan Romizan Iqbal (Yomi) sebagai ilustrator, melengkapi rilisan ini dengan identitas visual yang kuat.

Kembalinya FINGER! lewat “In Disguise” juga menjadi pembuka untuk rangkaian rilisan mereka ke depan. Selain berpartisipasi dalam kompilasi Revolution Autumn #3 melalui track “Epilogue”, mereka juga tengah mempersiapkan EP perdana yang dijadwalkan rilis pada kuartal ketiga 2026.

“In Disguise” sudah tersedia di berbagai platform digital sejak 13 Maret 2026. Sebuah awal baru bagi FINGER! dengan distorsi yang lebih berisik, dan tentu saja wajib diwaspadai! Congrats! (INQ)