MANUSMARA Kembali Rilis Single Bertajuk “Hukum Jantung”, Tentang Merawat Luka dalam Ritme Emosi

Categories: Music

Share
Manusmara kembali dengan single terbaru berjudul “Hukum Jantung”, sebuah karya yang merangkum pendekatan ilmiah berbumbu emosi diikat dengan keintiman narasi. Mereka melanjutkan kisah tentang penerimaan luka, dan cara manusia berdamai dengan diri sendiri.

Judul “Hukum Jantung” berangkat dari prinsip fisiologi yaitu di mana semakin besar volume yang diterima, semakin kuat pula dorongan yang dihasilkan, hingga mencapai batas tertentu. Gagasan ini kemudian diterjemahkan menjadi metafora—bagaimana cinta, kehilangan, dan kenangan yang terus menumpuk dalam diri seseorang dapat berubah menjadi energi yang mendorong, namun juga berpotensi menghancurkan.

Manusmara memposisikan luka sebagai bagian dari ritme kehidupan. Ada fase di mana perasaan menguat, ada pula saat di mana semuanya terasa runtuh. Dan seperti jantung yang terus berdetak tanpa henti, manusia pun terus hidup dan bergerak meski tidak selalu dalam keadaan hidup.

Secara musikal, “Hukum Jantung” hadir dengan warna baru yang berbeda dari single sebelumnya. Perubahan nuansa dalam lagu ini terasa seperti representasi dari fluktuasi emosi itu sendiri seakan tidak stabil, kadang tenang, lalu tiba-tiba meledak. Pendekatan ini memperkuat pesan yang ingin disampaikan,

“perasaan bukan sesuatu yang linear, melainkan siklus yang terus berulang.”

“Hukum Jantung” menjadi sebuah pengingat bahwa di balik setiap detak—baik yang tenang maupun yang terasa berat—selalu ada cerita yang sedang diperjuangkan. Manusmara mengajak pendengar untuk merasakan dan memahami bahwa merawat luka adalah bagian dari proses menjadi manusia itu sendiri. (INQ)

Manusmara Nyalakan Harapan Lewat “Nyala”, Gerbang Menuju Album Kedua

Categories: Music

Share
Manusmara kembali membuka lembaran baru dalam perjalanan musikal mereka lewat single terbaru bertajuk “Nyala”. Lagu ini menjadi gerbang awal menuju album kedua yang tengah mereka persiapkan, sekaligus memperkenalkan benang merah emosional yang akan mengikat keseluruhan karya tersebut: tentang bertahan, menerima luka, dan perlahan memulihkan diri.

Manusmara merupakan kolaborasi antara Surya Noviand dan Gangga Yudhistira, dua musisi dengan latar belakang musikal yang berbeda namun di Manusmara mereka saling melengkapi. Karakter introspektif dan pendekatan emosional dari Surya berpadu dengan energi eksploratif serta kecenderungan lintas-genre dari Gangga, menciptakan ruang kreatif yang luas bagi keduanya.

“Nyala” berangkat dari bayangan yang sederhana namun terasa sangat intim yaitu tentang menjemput seseorang yang tengah kehilangan harapan. Sosok itu bisa saja sahabat, keluarga, atau bahkan refleksi diri sendiri di masa-masa paling rapuh. Lagu ini membawa pendengar masuk ke ruang batin yang sunyi, tempat luka lama masih berdiam, namun secercah cahaya kecil di sudut jiwa belum sepenuhnya padam.

Dibalut aransemen bernuansa alternative yang mengalir seperti doa, “Nyala” tumbuh perlahan bersama emosi yang dibangunnya. Tidak meledak-ledak, namun justru menetap dan mengendap. Lirik seperti “masalahmu takkan lebih besar dari Tuhanmu” dan “bicaralah pada hati dan jiwa” menjadi titik refleksi spiritual yang terasa personal, namun tetap mampu menjangkau banyak orang dalam cara yang universal.

Manusmara melakukan pendekatan hangat, dimana “Nyala” mengajak untuk menerima kerapuhan sebagai bagian dari proses pemulihan. Sebuah sudut pandang yang terasa jujur, sekaligus menenangkan di tengah banyaknya narasi tentang “harus kuat” yang seringkali terasa melelahkan.

Dengarkan single “Nyala” yang telah rilis di semua DSP favorit kalian fren! Melalui “Nyala” Manusmara menyampaikan pesan sederhana, bahwa tidak ada yang benar-benar sendirian di tengah gelap. Sebelum terang benar-benar datang, selalu ada cahaya kecil yang tetap bertahan di dalam diri meski nyaris padam. (INQ)

FOVHERE Hadirkan Emo Revival yang Relatable Lewat “Our Own Shade”

Categories: Music

Share
Unit pop punk/alternative asal Sidoarjo, Jawa Timur, FOVHERE, resmi memperkenalkan langkah awal mereka menuju debut EP yang telah rilis lewat single bertajuk “Our Own Shade”. Digawangi oleh Yogi (drum), Ulul (gitar), dan Raffi(bass/vokal), Fovhere membawa kembali nuansa pop punk era 2010-an yang terasa familiar namun tetap segar.

“Our Own Shade” dibangun dari ketukan drum yang energik, riff gitar yang catchy, serta balutan lirik penuh emosional yang langsung memeluk pendengarnya. Bak ruang refleksi di mana kenangan, perasaan, dan realita bertabrakan dalam satu waktu.

Secara naratif, “Our Own Shade” mengangkat fase paling rumit dalam sebuah hubungan yaitu ketika rasa masih ada, namun keadaan memaksa untuk melepaskan. Fovhere berhasil menangkap momen di mana seseorang masih terikat secara emosional, tapi perlahan belajar menerima dan merelakan. Bukan tentang menyerah, melainkan tentang memahami bahwa tidak semua hal harus dipertahankan.

Lagu ini menghadirkan sudut pandang yang lebih dewasa dengan menghargai setiap proses yang sudah dilalui, seburuk atau seindah apa pun itu. Ada pesan harapan sederhana dari mereka yang terselip yaitu ketika nanti di masa depan, masing-masing kita semua akan tumbuh dan menemukan versi terbaik dari diri sendiri.

Dengan sentuhan emo revival yang kental, “Our Own Shade” menjadi representasi perasaan generasi sekaran. Fovhere membungkusnya dalam konteks yang relevan dengan realita hubungan masa kini.

Single ini menjadi pembuka yang kuat sekaligus pemanasan menuju debut EP mereka yang direncanakan rilis pada pertengahan 2026. Sebuah sinyal bahwa Fovhere siap mengambil ruang dalam skena dengan identitas yang mereka bangun sendiri.

“Our Own Shade” kini sudah dapat dinikmati melalui Bandcamp, dengan tautan yang tersedia di bio resmi mereka. Congratulations! (INQ)