Manusmara kembali dengan single terbaru berjudul “Hukum Jantung”, sebuah karya yang merangkum pendekatan ilmiah berbumbu emosi diikat dengan keintiman narasi. Mereka melanjutkan kisah tentang penerimaan luka, dan cara manusia berdamai dengan diri sendiri.
Judul “Hukum Jantung” berangkat dari prinsip fisiologi yaitu di mana semakin besar volume yang diterima, semakin kuat pula dorongan yang dihasilkan, hingga mencapai batas tertentu. Gagasan ini kemudian diterjemahkan menjadi metafora—bagaimana cinta, kehilangan, dan kenangan yang terus menumpuk dalam diri seseorang dapat berubah menjadi energi yang mendorong, namun juga berpotensi menghancurkan.
Manusmara memposisikan luka sebagai bagian dari ritme kehidupan. Ada fase di mana perasaan menguat, ada pula saat di mana semuanya terasa runtuh. Dan seperti jantung yang terus berdetak tanpa henti, manusia pun terus hidup dan bergerak meski tidak selalu dalam keadaan hidup.
Secara musikal, “Hukum Jantung” hadir dengan warna baru yang berbeda dari single sebelumnya. Perubahan nuansa dalam lagu ini terasa seperti representasi dari fluktuasi emosi itu sendiri seakan tidak stabil, kadang tenang, lalu tiba-tiba meledak. Pendekatan ini memperkuat pesan yang ingin disampaikan,
“perasaan bukan sesuatu yang linear, melainkan siklus yang terus berulang.”
“Hukum Jantung” menjadi sebuah pengingat bahwa di balik setiap detak—baik yang tenang maupun yang terasa berat—selalu ada cerita yang sedang diperjuangkan. Manusmara mengajak pendengar untuk merasakan dan memahami bahwa merawat luka adalah bagian dari proses menjadi manusia itu sendiri. (INQ)