Zine Perdana Anti Fake Merch (AFM) Bedah Skena Musik Karawang Saat Ini!

Categories: NEWS

Share
Anti Fake Merch (AFM) resmi meluncurkan zine perdana mereka bertajuk, "Mungkin keren yang kita anggap hanya ada di kepala kita sendiri" pada Minggu, (21/9) di G299 Hipster Karawang. Rilisan ini menjadi wadah baru untuk mendokumentasikan dan membedah dinamika ekosistem musik lokal.

Zine setebal 11 halaman dengan hardcover ini digarap secara kolaboratif bersama penulis lokal. Agoy, kreator di balik AFM, menjelaskan bahwa zine ini hadir sebagai medium alternatif untuk menyampaikan sudut pandang yang segar dan otentik mengenai perkembangan skena di Karawang.

Untuk memastikan aksesibilitas, zine ini dibagikan secara gratis dalam versi fisik. Namun, tersedia juga versi kolektor berbayar dengan desain eksklusif bagi para kolektor. AFM juga merilis versi digital, sehingga kontennya dapat diakses oleh publik secara lebih luas.

AFM berencana menerbitkan zine ini setiap bulan dan membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin berkontribusi. Mereka mengajak para penikmat musik dan pegiat skena untuk berpartisipasi dan menuangkan ide atau cerita mereka ke dalam rilisan berikutnya. (INQ)

Jadilah Jawara Rock Nusantara di JOGJAROCKARTA FESTIVAL 2025

Categories: NEWS

Share
JOGJAROCKARTA FESTIVAL, salah satu festival musik rock dan metal terbesar di Indonesia akan kembali menggelar hajatan pada 6 dan 7 Desember 2025 di Stadion Kridosono, Yogyakarta.

Festival tahunan tersebut yang telah menjadi tradisi panggung para musisi legenda dunia sejak 2017, tentunya akan sangat dinantikan para headbangers tanah air dalam menghadirkan atmosfir rock yang megah dan spektakuler. Tahun ini juga akan menjadi momen yang sangat spesial dan unforgettable, karena festival ini akan digelar di Stadion Kridosono untuk terakhir kalinya.

Sebagai suguhan utama di Jogjarockarta Festival 2025 nanti akan menghadirkan dua nama besar musik cadas dunia sebagai headliners yaitu HELLOWEEN dan ANTHRAX. Tidak lupa penampilan musisi legenda dunia lainnya seperti Ugly Kid Joe, The Hu, Loudness serta band rock/metal Tanah Air seperti Jamrud, Adromedha, The Panturas, Infernal Lamentations dan Rebellion Rose juga akan turut mengguncang Stadio Kridosono.

Selain menghadirkan penampilan dari band-band mancanegara dan nasional, Jogjarockarta 2025 juga tetap konsisten menjadi wadah regenerasi bagi musisi rock/ metal tanah air dengan kembali membuka “Program Band Submission” sebagai kesempatan bagi band-band cadas lokal Indonesia untuk ikut tampil dan berbagi panggung dengan para ikon dunia dalam melanjutkan warisan energi musik rock/metal.

Nah, sejak 15 September 2025 kemarin, program Band Submission telah resmi dibuka buat band-band di Indonesia dengan genre rock, metal beserta turunannya. Adapun tahapannya terdiri dari: Open Registration (15-30 Sept), Screening By Rajawali Team (1-3 Okt), Live Session Screening (6 Oktober), Offline Audition (10 Oktober), Pengumuman Pemenang (13 Oktober), Konfirmasi Ulang Pemenang (13-14 Okt), Pengumuman via Instagram (15 Oktober) dan On Stage pada Jogjarockarta 2025 (6-7 Des).   

Momentum ini akan menjadi kesempatan emas bagi dua musisi terpilih untuk unjuk gigi di hadapan ribuan penonton dan berbagi atmosfer bersama para musisi kelas dunia di Stadion Legenda Kridosono.

“Jogjarockarta bukan sekedar festival besar, tapi juga merupakan ruang pertemuan dan peristiwa multi budaya. Di satu sisi, kita merayakan musik legendaris dan di sisi lain kami ingin memberi panggung megah untuk generasi baru. Tahun ini, atmosfer Kridosono akan kita kenang bersama,” ujar Tovic Raharja, CEO Rajawali Indonesia.

Ayo, saatnya untukmu naik tahta di panggung legendaris JOGJAROCKARTA 2025 !!!
Segera Submit bandmu sekarang juga fren !!!

Informasi lengkap mengenai syarat, ketentuan, dan timeline Band Submission dapat diakses melalui akun instagram @jogjarockartafest atau official website: www.jogjarockartafestival.com (INQ)

Perayaan Emo Tahun 2000-an Lewat Single “The Screen 'Asked If I'm Still Watching (But, It's My Tears That Hit 'Yes')” Milik itrustyourlies

Categories: Music

Share
Jakarta punya darah baru di scene emo/alt rock, itrustyourlies. Band yang digawangi oleh Redy Mahendra (gitar), Raga Maharasta (bass, vokal), Vito Sanders (vokal), Rafliano (drum), dan Irvan Sandy (gitar) ini baru aja ngerilis single dengan judul super panjang, dan super emo “The Screen Asked If I’m Still Watching (But, It’s My Tears That Hit ‘Yes’)”.

"Judul sengaja panjang, karena dulu emang banyak banget band emo atau post-hardcore MySpace yang punya lagu judulnya panjang-panjang, kayak Chiodos atau bahkan Killing Me Inside," kata Vito menjelaskan.

Yap, judulnya emang kayak status Friendster tahun 2008. Tapi justru di situ letak keren-nya. Tentu mereka tidak mengejar “kedengeran modern”mereka malah sengaja ngebawa balik vibe emo raw, yang bikin kita inget zaman pas headphone cuma ada dua pilihan: putih ala iPod atau KW-an dari ITC Mangga Dua.

Lagu ini ditulis sama Redy (gitar), yang basically cuma lagi curhat putus cinta. 

"Intinya sih ini cerita putus cinta gue aja, personal memang. Jadi, ceritanya gue putus, tapi gue berusaha mempertahankan hubungan. Cuma emang semuanya udah kayak cermin yang jatuh aja gitu, serpihannya gak bakal bisa disatuin lagi," ungkap Redy.

Raga dan Vito nggak banyak ngotak-atik, cuma kasih bumbu biar makin emosional. Alhasil, lagunya tetap jujur, tetap raw, dan nggak dipoles kayak musik-musik template zaman sekarang.

Mereka cerita dalam proses rekamannya, itrustyourlies dibantu oleh juga oleh Pelatar. Secara musik, 'The Screen Asked If I'm Still Watching (But, It's My Tears That Hit 'Yes')' sengaja dibuat mentah tanpa tuning vokal berlebihan atau quantizegitar. Sebisa mungkin, semuanya mengalir agar terasa otentik seperti rekaman tahun 2007.

Dan bener, vibe-nya langsung ngasih throwback ke era Alesana, Chiodos, atau Killing Me Inside. Kalau lo dulu pernah spam lirik galau di bio MSN atau status Facebook, ini anthem buat kalian!

Proses Kreatif Dibalik MV 'The Screen Asked If I'm Still Watching (But, It's My Tears That Hit 'Yes')'

Untuk video klip digarap di Wolvnest Studio dengan Hamdy Bahasuan sebagai videografer dan Rafliano sebagai video editor. Rafliano sengaja menolak estetika visual modern yang serba jernih dan steril. Ia menghadirkan gambar yang buram, samar, serta format square ala TV tabung—sebuah keputusan artistik yang memanggil memori visual generasi awal 2000-an. Dalam buramnya gambar, kita justru menemukan perasaan yang jujur. Estetika ini bekerja layaknya fragmen arsip, seolah cuplikan dari masa yang sudah lewat namun terus menghantui, mengingatkan bahwa pengalaman emosional tidak pernah benar-benar selesai, melainkan terus diputar ulang seperti kaset lama yang mulai aus. So, video ini membawa narasi bahwa nostalgia bukan sekadar kerinduan, melainkan juga bentuk resistensi terhadap dunia yang semakin menyeragamkan ekspresi artistik. Untuk proses rekamannya, itrustyourlies dibantu oleh juga oleh Pelatar.

Emo Nggak Pernah Mati

itrustyourlies berhasil membuktikan emo bukan hanya sekedar sebuah momen nostalgia, emo akan selalu menjadi pilihan lagu yang selalu relate dalam kehidupan sehari-hari. Buat yang capek kerja kantoran, stuck kuliah, atau lagi ngerasa dunia absurd, lagu ini bisa jadi pintu balik ke masa lo masih cari band edgy di MySpace, atau nge-add stranger random di Friendster pake nama super alay.

“The Screen Asked If I’m Still Watching (But, It’s My Tears That Hit ‘Yes’)” udah ada di Spotify & Apple Music. Video klipnya bisa ditonton di YouTube. Congratulations! (INQ)