Sun u See Rilis EP “Last Illusion”, Teriakan Kaum Muda Sukabumi tentang Perjalanan Memori dalam Tekanan Sosial

Categories: Music

Share
Formasi solid Sun U See sejak 2020 yang terdiri dari Reza (vocal & gitar), Rival (gitar), Bobby JP (bass), dan Panji (Drum) mencoba menggelorakan energi Garage Rock Revival dan Post-Punk Revival era 2000-an dengan sentuhan lokal yang authentic.

Yang bikin keren lagi, nama Sun u See ternyata terinspirasi dari K.H Ahmad Sanusi,  pahlawan nasional asal Sukabumi yang merupakan tokoh agama sekaligus politikus dan salah satu perumus dasar-dasar negara serta menjadi penengah dalam perdebatan pembentukan NKRI. 

Pada EP Album “Last Illusion” terdiri dari lima lagu yang saling merangkai cerita kehidupan anak muda yang rebel, ambitious dan tentunya critical:

• Anthem of the Youth - Ajakan buat lepas dari beban benar atau salah dan  merayakan hidup aja

• Dancing in the Fire - Kritik tajam atas budaya destruktif yang makin merajalela

• This is What You Will Feel If You Dare to Try It - Peringatan soal tekanan sosial yang berkedok solidaritas

• Taktik Jitu - Satir pedas soal permainan manipulatif di dunia malam

• Cigarettes Smoke Swirl - Narasi puitis tentang kenangan yang membaur diudara seperti asap tebal rokok kretek.

Secara keseluruhan, album “Last Illusion” mengajak kita road trip imajinasi sambil curhat tentang hidup yang isinya teriakan mental melawan tekanan sosial, kritik atas budaya mainstream hingga tentang individualitas yang ingin merdeka. 

"Album Last Illusion bukan tentang pencitraan atau tren. Ini murni pengalaman pribadi yang dikemas menjadi sekumpulan lagu berkarakter kuat. Kita ingin para penyendiri diluar sana tahu kalo ada suara lantang yang terinspirasi dari keresahan mereka selama ini," ungkap mereka.

Buat yang penasaran nih, Album "Last Illusion" kini bisa dipantengin 24 jam disemua platform streaming. Siapa tau jadi temen kalian pas lagi overthinking jam 2 pagi mikirin beban kerjaan! LETS ROCK !!! (INQ)

  1. Schecter Pilih Fritz Faraday! Gitaris Bless The Knights Jadi Ikon Baru Musik Keras

Categories: NEWS

Share
Jakarta - Skena metal Indonesia punya kabar yang bisa bikin kepala angguk-angguk bangga. Fritz Faraday, shredder dari unit djent metal Bless The Knights, resmi digaet jadi brand ambassador Schecter Guitars , yup! salah satu brand gitar paling legendaris di dunia musik keras.

"Puji Tuhan, luar biasa banget rasanya, ga pernah gue bayangin bisa merepresentasikan brand sebesar Schecter. Happy banget karena Schecter itu legendary brand yang dipakai gitaris-gitaris dunia seperti Synyster Gates & Zacky Vengeance (Avenged Sevenfold), Keith Merrow sampai Pupun Dudiyawan (Kapten) yang bikin gue main musik keras," ungkapnya.

Kenapa Harus Schecter?

"Pada akhirnya pilihan gue jatuh ke Schecter karena sesuai sama karakter gue — 7 strings, humbucker & active pickups, dan tentu aja karena brand ini identik dengan rockers/metalheads. Support luar biasa dari tim Tiga Negeri Musik (Pak Yandi & Mas Abiem Endy) juga bikin gue mantap buat join keluarga Schecter," jelas Fritz melanjutkan alasan kenapa Schecter.

Meski sempat dapat tawaran dari brand lain, Fritz gak main-main soal pilihan. Dia jatuh ke Schecter karena feel, sound, sampai identitasnya nyatu sama gaya mainnya: 7 strings, humbucker, active pickups, dan vibe metalhead sejati. Plus, support dari Tiga Negeri Musik (Pak Yandi & Mas Abiem Endy) bikin langkah ini makin solid.

Cerita awalnya pun cukup organik, dari nyoba gitar Schecter di acara Kompas TV, terus nyambung diskusi, dan akhirnya berlabuh jadi keluarga besar Schecter. Gitar Schecter bahkan siap nongol di video musik terbaru Bless The Knights.

Sebuah Senjata Perang: Damien 7 & C-7 Pro

Sekarang, Fritz mengandalkan dua gitar utamanya: Schecter Damien 7 dan Schecter C-7 Pro. Dua-duanya jadi perpanjangan tangan buat menyalurin agresi musik keras khas dirinya.

 "Schecter was built for heavy music, jadi playability, dimensi, sampai pickup udah support banget buat gaya main gue. Bahkan orang kalau denger nama Schecter aja udah langsung tau, ‘oh, gitar metal nih,’" tegasnya.

Lebih dari Sekadar Nama Brand

Endorsement ini bukan cuma label buat dipajang di bio. Buat Fritz, Schecter adalah dorongan ekstra buat ngejaga konsistensi berkarya dan nge-push diri lebih jauh. Dari movement album Bless The Knights sampai proyek-proyek lain, kerja sama ini jadi energi baru buat perjalanan kariernya.

Lebih personal, Fritz nganggep gitar udah kayak bagian dari hidupnya:

 "Gitar itu benda sakral ke-2 setelah Alkitab, belahan hidup gue selain istri. Gitar yang bikin gue semangat jalanin hari-hari, udah nemenin gue bertahun-tahun menghadapi kerasnya hidup, Jadi gitar gue ya sama dengan diri gue, gak bisa terpisahkan. Bahkan lagi liburan, kerja atau persiapan nikah pun selalu bawa gitar" tuturnya.

Pesan ke Generasi Metal Indonesia

Sebagai penutup, Fritz gak lupa titip pesan buat gitaris muda yang lagi ngebet ngegas di jalur musik keras:

 "Kerja keras dan berdoalah. Cari lingkungan yang positif karena musik ini bisa bikin hidup kita berwarna kalau dimanfaatkan dengan baik, tapi juga bisa menghancurkan kalau lifestyle-nya yang dijadikan acuan, bukan karya,"pungkasnya.

Dengan langkah ini, Fritz Faraday gak cuma jadi gitaris metal dari Jakarta. Dia udah nunjukkin kalau musisi skena bisa berdiri sejajar di level global — bawa nama Schecter, bawa nama Bless The Knights, dan bawa nama Indonesia. Congratulations! (INQ)

Scene Resonansi (Day 1), Eleventwelfth Sukses Gelorakan Semangat Wong Kalahan di Karawang

Categories: Collaboration

Share
Geliat industri kreatif di Karawang kembali menunjukkan taringnya melalui event musik spektakuler bertajuk “HQ FEST: Resonansi Kota Industri”. Event yang digelar pada Sabtu & Minggu, (20-21 Sept 2025) menghadirkan ELEVENTWELFTH (Day 1) dan BARASUARA (Day 2) sebagai headliners. Event tersebut berlangsung di Kaze Headquarter (Kaze HQ), Teluk Jambe Timur, Karawang, Jawa Barat.

Pada HQ Fest: Day 1, Suasana mulai padat sejak sore hari menuju malam, ketika penonton yang didominasi kaum muda mulai berdatangan ke area event. Dentuman musik pertama kali dibuka oleh performa apik band Morning Attack dengan single terbaru mereka yaitu “Rupa” dan punk rawk version “Cantik” milik Kahitna, kemudian tanpa basa basi langsung dilanjutkan band On The Rock (OTR) asal Karawang membawakan lagu single-nya seperti “Budak Korporat” dan “Highest Rock” dengan Flamboyan Retro Rock-nya dan band duo Normatif dengan genre Modern Alternatif melantunkan sejumlah hits lagu mereka seperti “Jesika” dan “Ijazah di Lemari Berdebu” yang penuh intrik sosial.

Eleventwelfth sebagai Headliner DAY 1, yang merupakan salah satu pionir band emo kenamaan asal Jakarta yang beberapa waktu lalu membuat Japan Tour kini hadir di Karawang menghadirkan atmosfer yang energik dan penuh gelora serta membius para Wong Kalahan (fanbase Eleventwelfth) untuk ikut sing along pada penampilan mereka malam kemarin di Kaze Headquarter Karawang.

Nah sebelum mereka tampil, kita melakukan sesi interview singkat bersama Rona Hartriant (vokal, gitar), Almas Makitsuna (drum), Yogawerda Kessawa (gitar), dan Tir Saputra (bass). Band yang lahir sejak 2014 silam secara garis besar menyampaikan statement bahwa Eleventwelfth memiliki karakter tersendiri dalam menciptakan musik sesuai ciri khas masing-masing personil dan tidak memiliki batasan tentang influence musik ataupun hanya sekedar emo saja, tetapi dalam artian luas mereka juga tetap mengexplore musik lain sebagai wahana idealisme bermusik. Mereka juga sering mendengarkan influence musik lokal sebagai bahan referensi mereka saat ini, salah satunya adalah Band asal Bogor RRAG yang menurutnya sangat layak untuk diapresiasi dan diacungin jempol.

Diakhir percakapan, Eleventwelfth mengajak para Wong Kalahan untuk tetap kompak menyuarakan kondisi ketidakadilan di Negeri ini tanpa harus membedakan jenis ataupun genre musik tertentu karena musik adalah pemersatu bukan pemecah belah.

“Buat orang yang bilang anak Emo takut sama pemerintah itu salah. Justru kami menyuarakan kegelisahan kami melalui lirik dan lagu. Jadi emo itu tidak selalu tentang romance tetapi juga ada kritik sosial didalamnya,” ujar Tir Saputra, sang bassis dan Rona sang vokalis.

Puncak klimaksnya terjadi ketika Eleventwelfth mulai on stage dan nama mereka lantang diteriakkan oleh sorak Wong Kalahan bersama penonton yang hadir, Eleventwelfth pun langsung membuka performa mereka dengan lagu “Take Care” dan “Later On” dari album selftitled mereka ditahun 2014 kemudian dilanjutkan dengan “(stay here) for a while” dan “ANTARA” dari album SIMILAR dan beberapa lagu hits mereka yang lain.

Penampilan mereka akhirnya ditutup dengan lagu “Your Head As My Favourite Bookstore” sebagai encore yang disambut dengan sing along dan tepuk tangan meriah dari seluruh penonton. Eleventwelfth juga mengajak para penonton untuk berfoto bersama sebagai bagian dari kenang-kenangan kemeriahan malam itu. So memorable~

Good Job Eleventwelfth, Good Job Scene Resonansi! (INQ)