Purple Night Vol.7: Nyalain Lagi Api Musik Karawang

Categories: Collaboration

Share
Hi guys, Tanggal 04 Oktober kemarin salah satu event lokal, Purple Night Vol. 7 yang digelar di Bro King Cafe Karawang bener-bener jadi epicenter of good music! Bukan cuma sukses bikin jantung berdebar, tapi juga bikin kita makin jatuh cinta sama musik lokal. Buat mereka yang dateng, pasti setuju ini salah satu best moment untuk melepas penat di Malam Minggu.
 
Apa sih yang bikin malam itu spesial? Yap, kombinasi antara ketiga band dengan vibes saling silang genre dan sama-sama all out ngebakar panggung! Ketiga band tersebut terdiri dari Javanese Cat, Taksanada dan James Steady, band asal Cirebon.

Pukul 19.00 lewat dikit, Opening duo MC, Adji dan Ferry menyapa para audiens dengan gaya kocak mereka dan menghibur diselingi gimmick game bersama beberapa penonton terpilih. Selain itu juga mereka mengunjungi booth salah satu mitra Karawang Trend Market (KTM) yaitu Girls Day Out yang custom specialized membuat aneka koleksi aksesoris lucu untuk kaum hawa seperti gelang, kalung, hair clip, keychain dll. 

Tidak lama kemudian, trio grunge Javanese Cat sebagai penampil pertama kompak naik kepanggung dengan kostum unik bin ajaib yaitu dengan baju batik PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), sebagai bentuk perayaan Hari Batik Nasional mulai beraksi diatas panggung dengan membawakan beberapa lagu mereka seperti “Hal yang Sama”, “Senja di Rawa Buaya” dan kolaborasi bersama vokalis Taksanada, Aprilia membawakan lagu “Terbuang dalam Waktu” milik Barasuara dan lagu “Larut”. Disini penampilan Abay (drum), Fikri (bass) dan Ray a.k.a Iga Masyallah (gitar) sedikit “out of the box” dari yang biasanya tampil lepas tanpa beban saat manggung, tapi khusus di Purple Night mereka rupanya “nekad” bawain lagu-lagu yang tidak biasa dan penuh test mental sebagai bagian dari pengalaman yang tidak terlupakan.

Pada penampilan kedua, suasana malam sedikit mencair dengan hadirnya Taksanada dengan pop folk mereka yang membawa kita semua bernostalgia dengan nuansa tenang yang menghanyutkan. Di malam itu, formasi Taksanada yang tampil tanpa sang vokalis Fizol membawakan beberapa karya single mereka seperti “Diskusi”, “Nirmala Paling Sempurna”, “Selagi dalam Peluk” & “Alinea Problematika”. Lantunan lagu folk puitis yang Taksanada bawakan membuat audiens seperti mendapatkan teman bicara yang baik dalam membuka ruang untuk kita sesaat merasakan, mengingat, dan merenung. 

Sebagai Klimaks pada Purple Night Vol.7, James Steady dari Cirebon yang datang dengan energi rawk and beat mereka yang bikin gak bisa diem! Beatnya bikin badan auto goyang, gitar riffnya catchy, dan energinya dari awal sampe akhir bikin gerah! Beberapa hits single mereka seperti Riot City Rockers, Funky Fire dan Politik Adalah Tuhan udah cukup membuat para penonton berpogo ria tanpa henti didepan stage. James Steady yang terdiri dari Rangga (vokal), Bayu (gitar), Nicko (keyboard), dan Teguh (drum) udah buktiin kalo musik ala reggae dan funk itu masih hidup dan tetap berdenyut keras di Karawang malam itu. Their stage were "steady" but unstoppable steady on the dance floor!!!

“Purple Night merupakan event berkala untuk musisi lokal yang bergerak sejak 2024 kemarin dan saat ini sudah memasuki momen yang ketujuh (Vol.7) dan akan terus berlanjut dalam mewadahi talenta musik yang ada di sekitar Karawang.” ujar Wijay selaku Creative Director Event Purple Night.

Wijay yang awalnya juga merupakan bagian dari anak tongkrongan biasa yang hobi nonton festival musik, dan tergerak untuk membuat acara musik sendiri memiliki harapan agar Karawang menjadi salah satu barometer musik nasional dan akan terus memperkenalkan bibit-bibit musisi agar bisa dikenal secara luas melalui event seperti Purple Night. 

"Tujuan Purple Night nggak cuma sekedar ngadain acara musik doang, kita mau bikin wadah dimana musisi lokal terutama yang punya warna khas bisa terus berkarya dan akhirnya dapat face to face langsung dengan penikmat musiknya." tutupnya.

Wijay juga ngasih bocoran dikit kalo diakhir tahun nanti akan ada pagelaran Festival Purple Night yang tentunya akan lebih besar dan megah dari yang biasanya. Sementara untuk agenda Purple Night selanjutnya akan diadakan pada tanggal 18 Oktober ini.

So stay tuned di social media Purple Night untuk informasi band line up nya yang pasti bakal bikin kalian ga sabar untuk segera ikutan! (INQ)

Special Thanks to: Kedai Kopi Bro King, Karawang Trend Market, Bvckle Smiggle, Forum Musisi Karawang, Girls Day Out, Mechanical Struggling & Dprtman.00. 

The Polar Bears Rilis Threadbare, Sebuah Catatan Emosional Tentang Tumbuh dan Terluka

Categories: Music

Share
Yuhuu fren! Buat kalian yang nungguin rilisan album yang segar di scene musik Indonesia terutama pada genre math rock/ midwest emo, maka kamu wajib pantengin salah satu band jagoan dari Malang, The Polar Bears. Band ini baru aja meluncurkan album perdana mereka yakni, “Threadbare” pada bulan September kemarin dan udah bisa streamingeksklusif di semua music platform dan Bandcamp lewat label indie Malang, Haum Entertainment sejak 20 September 2025.

By the way, nama band mereka ternyata inspired by sama salah satu lagu legenda Midwest Emo, Tiny Moving Parts, yang judulnya "Polar Bear” So, bisa ditebaklah music influence mereka kuat banget dari para jagoans genre ini kayak Covet, CHON, Free Throw, sama American Football. Kalo di Indonesia pastinya wajib ada Eleventwelfth dong, hehehe.

Band Trio yang terdiri dari Yudhistiro Lilo Pambudi (Guitar/Vocal), Reffyga ‘Pey’ Pratama Yudana (Bass/Vocal), dan Marcellino Gibrany (Drum/Percussion/Vocal) ternyata awal bikin The Polar Bears tahun 2022 itu cuma sebagai proyek iseng belaka lho! Tapi seiring dengan berjalannya waktu, sekarang band ini udah jadi band solid dengan satu visi yang relate banget buat nemenin kita-kita yang lagi melewati fase quarter life crisis. Vibesnya tipikal Midwest Emo/Math Rockyang twinkly banget, dengan guitar chops yang variatif plus vokal yang gritty tapi tetep melodius. Trust me, buat kalian yang suka dengerin aliran ini, rasanya kayak ketemu long-lost sibling dari Amrik sono!

Album “Threadbare” milik para Beruang Kutub ini sejatinya kayak diary digital yang isinya curhatan emosional seputar jatuh cinta, patah hati, hingga suka duka fase kedewasaan, dan arti self-reflection. Lewat 10 lagu yang disusun secara naratif, kita diajak nyebur kedalam aransemen musik yang twinkly dan lirik yang dalem banget. Tracks yang wajib kamu pantengin di album Threadbare: “More than You Can Chew”, “Cold Feet” sama “Being Alone Means...” Oh iya, lagu yang judulnya “524” juga keren tuh karena liriknya satu-satunya yang bahasa Indonesia di album tersebut.

“Di umur middle age 20’s ini, kami ngerasa proses hidup emang harus lewatin momen senang dan sedih buat bikin kita jadi pribadi yang lebih matang. Dan semua itu tertuang secara kompleks di album Threadbare sesuai sudut pandang kami sendiri,” jelas Reffyga.

Nah untuk proses produksi albumnya juga pure independent banget! Mereka ngumpulin lagu-lagu buat bikin album ini sejak 2024 sampe 2025 via home recording di beberapa studio hingga terkumpulah 10 tracks yang menjadi karya final di album “Threadbare”. Asli semuanya dikerjain sendiri seadanya, tapi hasilnya aesthetic banget pokoknya! 

“Kami sadar produksi album butuh resource yang nggak murah, jadi kami bagi tugas dan bikin sebagian lewat pendekatan rekaman rumahan,” tambah Marcel.

Kesimpulannya, Album “Threadbare” milik The Polar Bears adalah sebuah rollercoaster emosi dimana perpaduan kerumitan instrumen teknikal yang memukau otak, lirik yang berkisah secara jujur dan vokal yang berteriak menyentuh jiwa. Sungguh sebuah pengalaman yang melelahkan secara emosional namun juga menghibur. 

Kondisi sebuah pelarian yang justru membuat kita berhadapan dengan perasaan sendiri, dan akhirnya merasa lebih ringan dan tidak sendirian setelahnya setelah mendengarkan album ini..

Jadi, buat kalian yang lagi cari soundtrack jatuh cinta atau sebuah catatan emosional ketika tumbuh maupun terluka, wajib dengerin lagu - lagu mereka. Pejamkan mata sejenak dan rasakan sensasi makna dari semua lagu di Album “Threadbare”, The Polar Bears. Congratulations! (INQ)

Modernheads Rilis “Oh No (We're Scared Anyway)”, Lagu Buat Generasi Romance Trouble

Categories: Music

Share
Jika sosok alter ego dari Joey Ramones bareng Sid Vicious nyasar disebuah pesta rumahan yang hingar bingar dan sudah mabok berat kemudian saling debat garing soal siapa yang punya leather jacket style yang paling ikonik? Nah, kira-kira kayak gitulah vibes dari lagu terbaru Modernheads, "Oh No (We're Scared Anyway)". 

Mereka berhasil bikin lagu indie rock yang soniknya emang enak di kuping, tapi sebenernya ini adalah kronik kejahatan emosional kita. It’s like a bad decision soundtrack yang somehow terasa terlalu seru buat dihentikan dengan classic happy atau epic ending.

Intro beat drum solo disusul dengan raungan para gitaris ala The Strokes seperti berjibaku dengan lirik unplanned love story

"i meet you at the back of a late night scene 
don't plan to fall, but tonight oh girl you look so clean”

“you laugh at all my jokes, i lose my things, now I can't let go...”

dan berakhir dengan keraguan tanpa kejelasan:

“we both know what is wrong, and we're scared anyway”

“oh no... we don't care, that the night won't end
so we're not just a friend, need to get away from all this thing // I can't pretend...”

Ibaratnya seperti mantra suci buat pasangan sejoli yang sebenarnya udah tahu kalo hubungan ini akan gagal, tapi tetep aja nekad dilakuin. Karena jujur aja, syair pop mendayu terasa terlalu sehat dan membosankan banget~ye kan... IYKYK

Modernheads adalah sebuah band garage rock revival asal Surabaya yang lahir sejak awal 2020. Band yang kini digawangi Erwin (vokal), Aswin (bass), Ardi (drum), Glaop (gitar), dan Prass (gitar) dikenal dengan musik rawk yang terinspirasi oleh skena New York dan band-band seperti The Strokes dan Arctic Monkeys. Selain single diatas, Modernheads juga telah merilis beberapa karya musik, termasuk mini album berjudul "Lo/Hi" (2021), beberapa single seperti, “Self Comfy-Dance” (2020), "Modern Junk Art" (2020), “Old Crush, New Year” (2022) dan "1331" (2022). 

Single "Oh No (We're Scared Anyway)" officially telah dirilis dibawah naungan Paska Records pada bulan September kemarin di platform Spotify.  

So, coba deh selipin lagu “Oh No (We're Scared Anyway)” di antara "I Love You So" nya The Walters dan "Last Nite" nya The Strokes di playlist Spotifymu. Dengerin sekali dan kamu mungkin bakal nyengir sambil keinget satu malam konyol yang entah kenapa sampe sekarang masih kamu anggap sebagai salah satu good decision that you‘ve ever made. Congratulations Modernheads! (INQ)