PVLETTE ft. Dixie Erlangga “Seribu Cara Untuk Berhenti”, Sebuah Permintaan Untuk Sekedar Pulih dari Lelah yang Berkepanjangan

Categories: Music

Share
PVLETTE band asal Tangerang Selatan ini melalui single terbarunya bertajuk “Seribu Cara Untuk Berhenti” luapkan teriakan emosional bak penyembuh untuk generasi yang sedang dilanda kelelahan. Menariknya mereka suguhkan kolaborasi ganas bersama Dixie Erlangga ‘STRANGERS’, hingga lagu ini didaulat sebagai salah satu karya paling jujur dari band rock alternatif tersebut.

Lirik lagu ini mengisahkan seorang yang terjebak dalam circle siklus penyangkalan/denial, memaksakan diri untuk terus berjalan, berpura-pura kuat dan akhirnya dipaksakan mengubur rasa lelahnya agar tidak tenggelam kian dalam lagi. Kejeniusan PVLETTE terletak pada sudut pandang yang mereka pilih. Mereka tidak menyanyikannya dari kacamata sang tokoh yang tenggelam melainkan menjadi seorang narator yang mencoba untuk menenangkan imaji kesadaran tokoh sentral dengan penuh empati, ikut berusaha merangkul sambil berucap 

“Tidak apa-apa untuk berhenti sejenak.”

It’s Not about Give up, It’s about to survive in any other chances. Ini seperti pergeseran narasi yang signifikan dan tidak mengadili kelemahan, melainkan memvalidasinya. Selayaknya menjadi ruang aman bagi “mereka yang berjuang dalam diam,” mengingatkan bahwa jeda bukanlah pengkhianatan terhadap perjalanan, melainkan bagian integral darinya. Its okay to be not okay.

Secara musikal, PVLETTE merangkai nuansa sendu dan megah dengan sangat epik. Aransemennya dinamis, bergerak dari bagian-bagian minimalis yang intim secara bertahap dan akhirnya tanpa sadar telah membawa kita terbawa emosi. Dinamika ini adalah metafora yang sempurna untuk pertarungan batin antara desakan untuk bertahan (“Keep Movin!”) dan kebutuhan mendesak untuk menyerah (“I’m Enough”).

Setiap dentuman drum dan raungan gitarnya seakan menggambarkan benturan antara keinginan dan kenyataan, antara topeng kekuatan dan wajah kelelahan yang sesungguhnya.

Kehadiran Dixie Erlangga (Vokalis Strangers) bukan sekadar gimmick. Vokalnya yang khas dan penuh warna emosional berfungsi sebagai personifikasi dari sang tokoh utama yang tengah kewalahan, lelah, dan terjebak. Sementara itu, vokal PVLETTE hadir laksana suara penuntun, naluri yang berusaha menawarkan pencerahan dan kelegaan. Kolaborasi ini menciptakan dialog musikal yang berkesinambungan, seolah mendengarkan dua sisi dari satu pikiran yang sama, sisi yang tenggelam dan sisi yang berusaha menyelamatkan.

Karya yang mirip seperti pada lagu Tiga Titik Hitam dari Burgerkill feat Fadly Padi yang menceritakan tentang dua sosok yang berbeda dalam satu jiwa.  

PVLETTE dengan jelas menyatakan, 

“Lagu ini bukan tentang menyerah. Kadang berhenti justru bentuk lain dari bertahan.” 

Hal tersebut didasari atas problematika di dunia yang sering memaksa kita untuk terus berlari, seakan haus pengakuan mengalahkan kekuatan sejati. Keberanian untuk mengaku kalah, untuk merawat luka dan untuk menarik napas panjang adalah sebuah pencapaian yang sudah sangat cukup untuk diapresiasi.

“Seribu Cara Untuk Berhenti” merupakan prolog dari album mendatang PVLETTE yang bertajuk “Semakin Buram dan Percuma”. Jika single ini saja sudah mampu menyentuh saraf empati dengan demikian dalam, maka pada album tersebut nantinya akan menjanjikan sebuah kisah mesin waktu yang lebih kompleks lagi dari sebuah kejujuran, pencarian diri, kekalahan, dan upaya untuk berdamai.

Music video “Seribu Cara Untuk Berhenti” telah tayang di kanal official Youtube PVLETTE. Pun lagunya telah tersedia di berbagai platform streaming kesayangan kalian fren. Congratulations! (INQ)

PAMAN Lepas Single Kedua berjudul “Pelita” Surat Seorang Ayah untuk Anak, Tentang Kekuatan dan Harapan

Categories: Music

Share
Setelah meluapkan amarah dan keresahan lewat single debut “Kesal”, PAMAN kembali dengan warna yang jauh lebih hangat dan penuh harapan melalui single terbarunya, “Pelita.”

Jika “Kesal” adalah potret pergulatan batin menghadapi rumitnya cinta, maka “Pelita” menjadi titik balik dimana ketika seorang ayah menemukan arah dan ketenteraman lewat kehadiran anaknya. Lagu ini terasa seperti  curahan yang personal, dan lembut. Tentang hidup yang tak selalu mudah, namun tetap layak dijalani dengan keberanian dan hati yang luas.

Dibungkus dengan nuansa pop-rock yang uplifting, “Pelita” memancarkan energi positif namun tetap menjaga emosi khas Paman. Aransemen yang mengalir dan dinamis bertemu dengan lirik reflektif, menciptakan atmosfer hangat seperti pelukan dan dorongan kecil yang datang dari seorang ayah kepada anaknya.

“Lagu ini ditulis buat anak-anak kita, tentang gimana hidup bakal keras dan penuh tantangan, tapi kita pengen dia tahu kalau ayahnya bakal selalu ada buat nemenin tiap langkahnya dimasa depan.” Ungkap salah satu personel.

Melalui “Pelita”, Paman menunjukkan evolusi musikal sekaligus emosional: dari letupan marah di “Kesal”, kemudian menuju cahaya yang menenangkan di “Pelita”. Sebuah perjalanan yang sangat relate bagi siapa pun yang sedang tumbuh hidup, mencoba bertahan, dan tetap berusaha bersemangat dalam menjalani hidup yang absurd ini.

Congratulation! Single “Pelita” sudah tersedia mulai 28 November 2025 di seluruh digital streaming platform kesayangan kamu. (INQ)

BRAINFART, Duo Rock Alternatif Bersaudara Asal Denpasar dengan Energi Brilian “Bravo-Foxtrot-101”

Categories: Music

Share
Di tengah derasnya nama baru yang muncul di skena independen, Brainfart hadir mencuri perhatian. Duo bersaudara asal Denpasar ini memperkenalkan diri melalui album debut “Bravo-Foxtrot-101”, sebuah karya brilian yang memantapkan identitas mereka sejak langkah awal.

Sebagai pendatang baru, Brainfart menempatkan dirinya melalui musik yang rapih dan terstruktur. Album penuh untuk rilisan perdana memberi sinyal bahwa kehadiran mereka tidak bersandar pada momentum singkat. Setiap ide disusun dengan kesadaran bahwa debut tak hanya memperkenalkan karya saja, melainkan sebuah komitmen artistik.

Format duo, DXC dan AGJ sapaan akrab mereka, menciptakan ruang interaksi yang lebih fokus. Komposisi gitar, bass, dan vokal yang harmoni dan bekesinambungan. Energi saudara kandung terasa pada kedisiplinan ritme dan pilihan melodi.

Secara sonik, “Bravo-Foxtrot-101” beroperasi dalam ruang rock alternatif dengan jejak punk dan sentuhan ska yang muncul sebagai aksen. Tekstur ini menghadirkan palet yang cukup berwarna untuk sebuah debut, tapi mereka membuktikan tone yang konsisten. Setiap track menampilkan karakter masing-masing, namun masih berada dalam spektrum yang sama.

Di antara keseluruhan materi, “Reinkarnasi” dan “Strong to Survive” menjadi track paling personal bagi mereka, dua lagu yang memuat kritik terhadap manusia yang kerap lupa “pulang”, sekaligus dorongan untuk terus melaju. 

“Bagi kami lagu yang paling menonjol adalah Reinkarnasi, lagu yang mengritisi semua orang yang lupa untuk "pulang" dan Strong to Survive, dan tetap kuat untuk terus melaju. Sebenarnya ada  saling keterkaitan antar lagu yang kalo dilihat dari liriknya akan jelas tersirat.” Kata mereka kompak.

Melalui lirik-liriknya, korelasi antar track akan terlihat jelas ketika pendengar yang menelusurinya secara cermat.

Perjalanan produksi album berlangsung selama satu tahun, dengan dinamika yang tumbuh dari proses yang awalnya sederhana. Brainfart sempat berencana merilis dua single saja hingga masukan dari sound engineer Helldean Records membuka jalan yang berbeda: menambah lagu, sekalian album. 

Pengalaman sekaligus tantangan pada proses produksi album tersebut yaitu seputar nada vokal. Kadang terlalu tinggi, kadang terlalu rendah, dan pada track “Lost”, pencarian nada yang “pas” justru menjadi momen yang paling menguji kesabaran dan naluri musikal mereka.

Dalam proses penggarapan album “Bravo-Foxtrot-101”, SE mereka, yang juga gitaris The Dissland, memberi kehadiran teknis dan perspektif yang melekat pada struktur album. Di luar itu, ada kontribusi kakak mereka, Gus Kleneng (Revelation), serta interaksi kecil dengan beberapa kawan musisi lain yang sesekali menajamkan materi.

Ada yang menarik untuk artcover album mereka, sebuah pesawat yang baru lepas landas, selaras dengan pembuka album berjudul “Pilot”. Seperti episode awal sebuah seri, cover tersebut bekerja sebagai tanda bahwa bab awal baru saja dibuka. Nama “Bravo-Foxtrot-101” sendiri memadatkan identitas mereka yaitu Brainfart (BF), sementara 101 menjadi simbol perkenalan.

“Dengan album ini kami berkenalan dan mengajak passenger/pendengar untuk menikmati musik kami.” Ungkap mereka menggebu.

Brainfart hadir sebagai pendatang baru yang membawa karakter musik yang segar. “Bravo-Foxtrot-101” menunjukkan komitmen yang matang, identitas yang jelas, dan kepekaan musikal yang berpotensi dan patut pula diwaspadai.

“Kami ingin pendengar merasakan keberagaman emosi dan energi yang selama ini kami simpan dan kembangkan bersama.” Tutup mereka.

Dengarkan semua track “Bravo-Foxtrot-101” yang baru saja mengudara, bak kapal yang telah lepas landas membawa pendengarnya terbang di udara. Congratulations! (INQ)