Kembali lagi ke kota Malang, sebuah kota yang tak pernah lelah melahirkan luka dalam bentuk chord dan raungan. Julukan “Kota Emo” tampaknya tak terlalu berlebihan hingga saat ini vibrasinya masih menggaung, masih berdarah dan masih setia melahirkan suara-suara yang berbicara tentang retakan jiwa para pemberontak romantis. Yapp, suara itu datang dari No Heart Feeling, sebuah unit yang sejak 2017 telah menyimpan amunisi kesedihan dan akhirnya meluapkannya dalam maxi single “Unresisted/Kill Myself”.
Setelah melalui kondisi pasang surut ala perjalanan anak band berbasis pertemanan SMA, No Heart Feeling tak sekadar “comeback”. Mereka juga melakukan rebranding, seolah memutuskan untuk menggali lebih dalam luka lama sekaligus membalutnya dengan riff gitar yang pedih, dan menjadikannya senjata maut. Rekaman yang dirilis bulan lalu bentuk penegasan bahwa tidak ada keputusasaan yang berhak dibungkam.
“Unresisted/Kill Myself” dari judulnya saja tampak seperti pengakuan yang tercekat. Dua sisi koin pertarungan batin antara bertahan atau menyerah. Bak comfort zone bagi yang terluka dan teriakan emosional yang semakin depresif. Well you’re not alone My fellas~
Secara musik, No Heart Feeling dengan jelas bermain di area emo era 2000-an awal dengan sentuhan getirnya post-hardcore. Pengaruh band-band seperti Pierce The Veil dan Saosin terasa, terutama dalam dinamika gitar yang berlapis dan vokal yang berayun antara melankolis dan ledakan emosi. Tapi yang paling menyita perhatian adalah scream yang melengking pilu seolah menjadi suara dari segala dendam yang tak terucapkan. Rekaman di Haum Studio oleh Dheka, Axel, dan Abu berhasil menangkap keautentikan. Dengan sentuhan aransemen yang kasar juga distorsi yang mencekam.
Untuk segi lirik, mereka implementasikan potret generasi yang lelah namun masih ingin memberontak. Relate bagi pendengar yang sedang terasing di tengah keramaian. Melihat sudut kota Malang sebagai metafora untuk kekosongan yang harus dihadapi.
Setelah vakum sejak 2023, No Heart Feeling kembali dengan persona yang lebih gelap, lebih matang, dan lebih berbahaya. Di penghujung 2025, mereka berhasil menyalakan kembali semangat emo yang tak pernah redup. Mereka siap meramaikan lagi scene lokal, mengingatkan kita bahwa musik emo adalah bahasa perlawanan terhadap keputusasaan bukan hanya sekedar elegi patah hati.
“Unresisted/Kill Myself” sudah tersedia di seluruh platform streaming. Dengarkan, rasakan dan jika kau pernah merasakan kesendirian maka ingatlah, No Heart Feeling mampu luapkan isi kepalamu. (INQ)
Comments
Ketika Upah Tak Cukup dan Mimpi Dipermainkan, Sandstorm Of Youth Menjawab Lewat Single Bertajuk “Galat”
Menyambut awal tahun 2026, dibuka dengan band asal Yogyakarta Sandstorm Of Youth. Mereka menguak kehidupan yang sering kali melenceng dari rencana. Upah yang tak pernah cukup, tekanan yang datang bertumpuk, dan mimpi yang pelan-pelan menjauh adalah kenyataan yang akrab bagi banyak orang hari ini. Dari keganjilan itulah SOY merilis single terbaru mereka, “Galat” sebuah catatan kehidupan yang tak pernah benar-benar selaras.
“Konsekuensi natural negara gagal: lahirnya lagu-lagu seperti ini. Dan memang sudah saatnya.” Ungkap Soni Triantoro, Penulis Musik Protes/Executive Producer Narasi
Setelah merilis album debut “Flying Colors” pada April 2025, SOY kini melangkah lebih dekat ke realitas yang mereka pijak. “Galat” hadir sebagai refleksi masa kini yang lebih lugas, lebih berani, dan lebih terbuka dalam memotret kehidupan yang sedang mereka jalani bersama.
Single ini juga menandai pergeseran penting dalam perjalanan SOY. Untuk pertama kalinya, mereka memilih bahasa Indonesia sebagai medium utama. Tentunya sebuah keputusan yang membuka gerbang pintu pembuka menuju album kedua SOY yang recana seluruhnya akan ditulis dalam bahasa Indonesia.
Secara lirik, “Galat” berangkat dari obrolan sehari-hari yang sering dianggap sepele namun menyimpan luka kolektif. Lagu ini berbicara tentang ketimpangan, keganjilan, dan rasa lelah yang terus menumpuk tanpa menunjuk siapa yang harus disalahkan. Tema-tema yang diangkat terasa sangat dekat, upah yang tak sebanding dengan tenaga, tekanan hidup yang datang bersamaan, mimpi yang terasa kian mustahil, hingga kerja keras yang tak selalu berujung hasil. Kritik sosial hadir, namun dibalut sebagai pengalaman personal lebih jujur, intim, dan relate dengan kehidupan saat ini. SOY memilih pendekatan reflektif seperti mengajak pendengarnya berhenti sejenak dan bertanya,
apa jadinya jika hidup memang tidak berjalan sebagaimana mestinya?
Bagian chorus menjadi pusat emosional lagu ini. Di sanalah kontradiksi paling keras terdengar ketika mimpi besar berhadapan langsung dengan kenyataan pahit, perjuangan panjang yang tetap harus dijalani meski tak ada kepastian akan terbayar. “Galat” menawarkan ruang untuk mengakui bahwa lelah itu nyata dan sah untuk dirasakan.
Reggae Dub, Post-Punk, dan Keresahan yang Mengendap
Secara musikal, Sandstorm Of Youth tetap menjaga identitas mereka. Warna reggae dan dub yang hangat berpadu dengan groove yang hidup, sementara tempo repetitif dan gitar ritmis membangun atmosfer cemas yang konstan. Sentuhan post-punk revival menyelinap, mempertebal rasa gelisah tanpa membuat lagu kehilangan arah. Tidak ada yang berlebihan semuanya dibangun dari kejujuran.
“‘Galat’ adalah kritik multidimensi: dari retorika politik kosong, ACAB, hingga ketidakadilan ekonomi yang mengancam kebutuhan dasar. Chorus-nya menghadirkan kontradiksi eksistensial—harapan tinggi berhadapan dengan kenyataan pahit. Lagu ini menolak narasi manis dan memilih menyajikan realitas yang mendesak.” Sebuah review langsung oleh Wendi Putranto, Editor Brainwashed Zine / CEO Lokananta.
Ingin vibes gundah kehidupan kalian lebih asoy? Gas dengerkan single mereka yang telah dirilis pertengahan Desember lalu di seluruh digital platform official mereka. Congrats! (INQ)
Comments
“Desemberantakan” : Riuh Kecil, Gaung Panjang Skena Indie Cikampek
Kalau ada yang masih mengira geliat musik independen di kawasan industri Karawang hanya bergulat di pusat kota, maka “Desemberantakan” membuktikan sebaliknya. Digelar oleh Synergigs di Warkop De Palawa, Cikampek, Kamis (13/12), acara ini menegaskan bahwa denyut skena lokal hidup dan tumbuh juga di arah lintas wilayah jalur Pantura dengan karakter dan ruangnya masing-masing. Event ini bentuk penegasan masih hangatnya ekosistem kalcer skena musik indie Indonesia khususnya daerah Karawang dan sekitarnya.
Minigigs “Desemberantakan” dibuka dengan tepat oleh DJ Zdeza. Membuka percakapan yang cerdas, menyambungkan titik-titik antara berbagai setlistgenre dari reggae yang melayang hingga beat soul and funk yang menggigit. Penampilannya sukses mencairkan suasana dan mengajak penonton ikut menikmati suasana venue terbuka De Palawa sebelum break Maghrib.
After break Maghrib, panggung diserahkan kepada debut Marryanne dari Cirebon. Mereka menaklukkannya dengan penuh keyakinan dan percaya diri. Meski sedang dalam Distant Light Tour dengan formasi tidak lengkap, tapi kehadiran Oya (vokal), Cyril dan Erlangga (gitar) yang dibantu Bangkit (bass) dan Nazar (drum) terasa sangat solid. Vibrasi yang gelap, sound distorsi yang padat dan vokal Oya dan Cyril yang melayang-layang bersilang dengan dark noise-nya secara langsung menegaskan identitas shoegaze mereka. Mereka membawakan lagu-lagu andalan dari EP Into The Void seperti “Bookshelves Epilogue”, “Violet”, dan “Numb”, plus preview lagu baru yang akan mereka rilis dalam waktu dekat. Suasana menghanyutkan yang mereka ciptakan adalah momen berharga bagi pecinta shoegaze dan membuktikan bahwa musik yang sering dianggap ‘introvert’ ini bisa sangat powerful jika dibawakan secara live.
Energi spontan meledak ketika Kale asal Bandung bergantian naik ke panggung. Band ini membawa alternatif modern rock dengan intensitas yang berbeda, frontal, enerjik dan tanpa jeda. Lagu-lagu seperti “Brood”, “I’m Done”, “Selamanya”, dan “Sermon” mereka sodorkan penuh semangat dan diserap riuh oleh penonton yang sudah kepalang panas. Kakang (gitar/vokal), Erwin (gitar), Adit (bass/vokal latar), dan Budi (additional drum) tampil dengan kematangan panggung yang didapat dari tour panjang Mei-Oktober lalu. Puncaknya adalah ketika Kakang stage diving, melebur dalam lautan penonton sebagai sebuah simbol hubungan simbiosis mutualisme antara band dan penikmat musiknya.
Sebagai penutup dari band tuan rumah, Emilio and The Groves membawa perubahan atmosfer yang pas. Setelah dua band penampil yang intens, mereka kemudian mengajak penonton bersantai, berayun-ayun dengan alunan reggae yang hangat. Mereka memainkan dua lagu orisinal (“Melangkah” dan “Will Be a Way”) yang rencananya akan masuk EP perdana mereka, diselingi lagu coverBob Marley dan Momonon yang langsung disambut meriah. Penampilan mereka menutup malam dengan senyuman dan rasa penuh syukur, menunjukkan sisi lain dari musik indie yang tak kalah penting yakni kebersamaan dan kecintaan pada musik lokal yang menyenangkan.
Mumpung suasana masih hangat, kami berkesempatan ngobrol santai dengan para penampil di "Desemberantakan" tentang pandangan mereka terhadap skena indie lokal. Cyril ‘Marryanne’ melihatnya sebagai optimisme yang terus berkembang sesuai perkembangan zaman. Menurutnya, skena lokal indie terutama shoegaze, terus beregenerasi dengan sehat.
“Berbagai genre sudah banyak saling silang menyesuaikan selera sekarang, seperti dicampur emo, metal, dan lain-lain,” ujarnya.
Oya menambahkan, meski selera personel bisa berbeda, akar Marryanne tetaplah shoegaze.
“Itu ‘wajib’ buat kami. Tapi ramuannya bisa universal sesuai karakter masing-masing. Jadi nggak terikat pakem shoegaze aja,” jelasnya.
Mimpi terbesar mereka adalah karya mereka bisa dikenal lebih luas dan berkesempatan tampil dipanggung besar seperti Synchronize Fest atau Joyland. Mari kita doakan semoga lancar terus dan mimpinya terwujud yap Marryanne!
Pandangan serupa diungkapkan Kakang ‘Kale’ yang menekankan ragam kekayaan dalam musik indie sudah cukup banyak, terutama alternative.
“Apalagi jika digabungkan dengan rock dan metal, pemahaman dan karakter musiknya tentu akan semakin luas,” ujarnya.
Bagi Kale, eksplorasi ini adalah napas yang membuat scene tetap dinamis dan tidak stagnan. Obrolan tentang peta musik indie makin menarik ketika Kakang ‘Kale’ berbagi pengalaman tur mereka.
"Waktu tur 'Mistake' di 15 kota, terutama Jawa Tengah dan Timur yang lagi hype itu hardcore dan turunannya," ujarnya.
Namun, ia menekankan ada perbedaan keberagaman selera terutama di Jabar dan sekitar Bandung.
"Di Jabar lebih general. Nggak cuma hardcore, tapi jenis musik lain juga tetap jadi pilihan sesuai selera publik. Intinya, secara keseluruhan industri musik indie lokal terus mencari celah pasar dengan keunikan sendiri yang otentik dan tanpa dipaksakan."
Pandangan ini memberi highlight bahwa ada dinamika yang sehat yang selama ini terjalin. Skena lokal tidak bergerak seragam seperti trend massal pada umumnya, tetapi lebih merespon ke karakter dan identitas lokal masing-masing. Seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur yang punya gelora hardcore waves, sementara Jawa Barat menunjukkan eklektisisme genre yang lebih cair. Ini bukan soal yang lebih baik, tapi soal bagaimana musik hidup dan beradaptasi dalam konteks komunitasnya.
Sementara pandangan dari kalangan musisi Cikampek sendiri sebagai para pelaku skena lokal, DJ Zdeza dan Emilio and The Groves. Mereka sepakat bahwa perkembangan musik indie di Cikampek dan Karawang pada umumnya juga sudah sangat berwarna, tidak didominasi satu genre tertentu.
"Dengan adanya berbagai event terutama di Cikampek jadi mood booster sekaligus exposure positif buat kami para musisi lokal buat mengembangkan mimpi dan bakat di dunia musik indie" ujar Emil selaku vokalis di Emilio and The Groves.
Event seperti "Desemberantakan" adalah ‘nafas’ penggerak siklus kreatif yang memberikan panggung, kepercayaan diri dan jaringan yang vital bagi pertumbuhan musisi di Cikampek dan Karawang pada umumnya.
Tansyah, selaku founder Synergigs yang juga merupakan musisi lokal memberikan penegasan tentang filosofi di balik “Desemberantakan”. Harapannya sederhana namun mendalam yaitu agar event seperti ini terus berlanjut sebagai wadah ekspresi dan tempat berkumpulnya para kolaborator.
“Kami ingin bersama-sama mengangkat potensi musisi lokal, terutama di Cikampek, tanpa harus terikat dengan genre tertentu,” ujarnya.
Pernyataan ini menangkap esensi dari apa yang telah terlihat pada malam itu sebuah panggung inklusif dimana shoegaze, alternative rock, reggae, dan set DJ bisa tampil bersama dan masing-masing juga mendapat apresiasi dari para penontonnya.
Rencana Tansyah dan Synergigs tidak berhenti di situ. Ada ambisi yang lebih besar yang tengah dirancang.
“Kedepannya Synergigs berencana membuat event yang lebih besar lagi dan tentunya akan lebih keren di Cikampek,” tambahnya dengan semangat. Ini adalah janji dan proyeksi yang menggembirakan.
“Jadi, tunggu tanggal mainnya ya!!!”
Pernyataan Tansyah ini merupakan doa yang harus kita bantu laksanakan agar supaya event seperti “Desemberantakan” menjadi sebuah proof of concept bahwa ada komunitas yang solid dan antusiasme yang cukup besar di Cikampek.
Rencana event yang “lebih besar” dan “lebih keren” mengisyaratkan sebuah evolusi dari mini gigs menuju sebuah festival atau seri event berkelanjutan yang bisa menempatkan Cikampek di peta musik indie regional secara lebih permanen. Bisa dikatakan “Desemberantakan" trigger dari semangat besar skena musik indie Indonesia yang berani unik, tumbuh dari komunitas, dan maju bersama. Remindering bahwa terkadang momen-momen berharga justru lahir dari kesederhanaan sebuah panggung, segelas kopi, dan deru distorsi yang menyatukan hati. Selain itu juga sebagai ruang berkumpul, bertukar energi, dan membangun narasi bersama.
Congrats! Synergigs, Warkop De Palawa dan tentu saja Marryanne, Kale, Emilio and The Groves, serta DJ Zdeza. Kalian telah membuktikan bahwa “keriuhan” yang sesungguhnya bisa dimulai dari sebuah panggung kecil disebuah Warkop Cikampek dan semoga gaungnya akan terus terdengar hingga kemana-mana. Sampai jumpa di gigs-gigs keren selanjutnya! (INQ)