Marryanne is Comeback melalui maxi single "Feel the Pain"

Categories: Music

Share
Butuh waktu satu setengah tahun bagi Marryanne untuk muncul lagi setelah EP “Into the Void”. Band asal Cirebon ini tahu persis apa yang mereka lakukan. Lewat maxi single "Feel the Pain" mereka menawarkan sesuatu yang terasa segar, tanpa harus sepenuhnya meninggalkan karakter yang selama ini melekat.

Single ini juga menandai perjalanan Marryanne di tahun 2026 setelah menyelesaikan tour kedua mereka Distant Light Tour yang menyambangi beberapa kota di Pulau Jawa.

Formasi Marryanne yaitu Oya (Vocal), Cyril (Guitar & Vocal), Andhik (Bass), Ares (Drum) dan Erlangga (Guitar) datang dengan energi yang sedikit berbeda. Dua lagu di dalamnya, "Feel the Pain" dan "Forfeit" saling terhubung melalui satu alur emosional, menelusuri cerita yang persisten, rasa kehilangan akibat amarah yang tak terkendali dan bagaimana kehilangan itu tetap membekas meski sakitnya telah hilang.

Track pertama ”Feel the pain” langsung berpusat pada amarah sebagai kekuatan yang menekan bahkan menghancurkan. Lagu ini menangkap pikiran delusional yang kerap muncul seperti frustrasi berbalik kedalam dan insomnia mulai menjadi amnesia. Luapan emosi yang sangat berat dan kerap melelahkan membuat pergerakan terasa mendesak tanpa arah  terdorong oleh intensitas daripada kejelasan.

"Forfeit" melanjutkan cerita setelah amarah mereda, mengungkapkan apa yang tersisa, yakni kehilangan yang masih mengambang. Amarah di lagu pertama kini mereda, berubah jadi sesuatu yang lebih rapuh. Ada ruang untuk jeda untuk merenung hanya untuk menyadari bahwa beberapa hal memang harus pergi dan tak bisa kembali. Suasana yang dibangun terasa intim dan personal, seakan kita dirangkul masuk kedalam momen hening penuh kerentanan jiwa akan rasa sakit dan kepiluan.

Proses recording dan mixing yang direkam di dua tempat yaitu di Jags Studio dan di Room No.6 ditangani langsung oleh Cyril MF selaku produser dan Restu Yawendra di Hypocrite Sound pada mixing. Secara musikal, Maxi Single "Feel the Pain" banyak dipengaruhi beberapa musisi, mulai dari Nothing, Life on Venus, Whirr dan Momma. Proses produksinya sendiri berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025.

Maxi single “Feel The Pain” kini sudah bisa kalian dengarkan di seluruh playlist DSP Marryanne.

Jangan lupa follow IG @marryanne sebagai support salah satu band Nugaze saat ini yang layak diperhitungkan.

Debut Single "The Echo of Me", SILVERCRY Bawa Amarah Nu Metal Baru dari Bandung

Categories: Music

Share
Silvercry, band bergenre Nu-Metal asal Bandung resmi mengawali perjalanan musiknya melalui perilisan single berjudul “The Echo of Me” yang berkisah tentang konflik batin, kehampaan, dan ambisi untuk didengar di tengah kesunyian dunia sebagai titik awal dari karya mereka selanjutnya.

Terbentuk pada Juli 2025, Silvercry digawangi oleh Rida Wildani/Willy (vokal & founder), Ahmad Akbar Maulana/Abam(rap), Muhamad Rafly Satriani (gitar), Mahessa Akbar Rizky Ramadhan (bass & visual designer), dan Cucu(turntablist) mencoba menghadirkan kembali elemen-elemen musik yang memadukan DJ scratch, rap, heavy noise riffinserta nuansa elektronik dibalut vokal emosional sebagai ciri khasnya. Terinspirasi dari nama-nama besar diskena Nu Metal seperti Linkin Park, Korn dan Limp Bizkit, Silvercry meramu agresi dan kepekaan serta dengan pesan kuat tentang keberanian menghadapi luka batin dan suara hati sendiri. 

Secara komposisi musik perpaduan Nu Metal tahun 2000an yang raw, low tuning dan permainan scratch-nya yang menjadi benang merah disetiap riff dan verse-nya. Intro dan temponya sendiri seperti mengambil root dari lagu One Step Closer ‘Linkin Park’ dan karakter screamin voice ala Jon Davis ‘Korn’. Sebuah kombinasi yang apik dalam menyatukan dua unsur Nu Metal kedalam satu lagu yang penuh dengan teriakan amarah.

“The Echo of Me” merupakan potret perjuangan melawan rasa takut dan kesepian yang sedang menanti kehangatan dari dunia yang terasa membisu. Liriknya menangkap rasa terperangkap dalam gema pikiran sendiri suara batin yang berulang tanpa jawab. Lewat vokal yang penuh penghayatan dan aransemen musik yang intens, Silvercry menyampaikan pesan universal yaitu perjuangan untuk tetap bertahan di tengah kesunyian.

Willy, vokalis sekaligus penulis lagu menjelaskan “The Echo of me” adalah suara dari sisi terdalam yang sering kita sembunyikan dan terluka secara batin. 

“We want you to know that you’re not alone in the silence. We’re here with you too”

Silvercry mencoba hadir sebagai ruang ekspresi bagi generasi kini yang ingin senantiasa didengar keluhannya. Dengan latar belakang sebagai mahasiswa musik, para personelnya membawa semangat eksperimental dan idealisme muda yang kuat. Mereka juga telah aktif di stage lokal (FINDER 7: MINDSPACE) dan akan terus bergerak dalam ekosistem musik independen Bandung dan Nasional kedepannya.

“The Echo of Me” kini resmi dirilis pada melalui label mandiri mereka, Crossvelium Records dan telah tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Deezer. 

Lesgowww support mereka dengan follow IG @silvercry dan nantikan karya-karya mereka selanjutnya. Congratulations! (INQ)

Dari Kota Kecil di Riau, WEARS Lahirkan EP “Heal Your Wounds” Leburkan Era Grunge dan Post-Hardcore

Categories: Music

Share
Dari sudut kecil di Bangkinang, sebuah gema baru dari skena alternatif mulai terdengar. WEARS terbentuk pada tahun 2024, kembali menegaskan keberadaannya lewat EP perdana bertajuk “Heal Your Wounds.” Sebuah rilisan yang lahir dari kegelisahan personal, namun dibungkus dengan energi distorsi yang liar penuh emosional.

Sebelumnya, WEARS sempat memperkenalkan diri melalui single perdana mereka bertajuk “Enough.” Dari sana, arah musikal mereka mulai terbaca dengan menggali tema-tema personal yang tidak selalu nyaman untuk dibicarakan yaitu tentang krisis identitas, ketakutan, kehilangan, hingga ketidakstabilan mental. Dalam “Heal Your Wounds,” tema-tema tersebut berkembang menjadi narasi yang lebih utuh, menjadikan EP ini terasa seperti catatan luka yang diubah menjadi suara.

Secara musikal, WEARS memadukan fondasi alternative rock dengan karakter grungy yang kental. Distorsi gitar yang berat dan cenderung muram dipertemukan dengan sentuhan emosional khas post-hardcore, sementara jejak emo awal 2000-an tipis-tipis dan atmosfer grunge revival ikut memperkaya lanskap suara mereka. Hasilnya adalah komposisi yang melankolis namun tetap agresif seolah bergerak di antara keheningan dan ledakan perasaan.

Proses rekaman EP ini dilakukan di Uhuuy Records yang berbasis di Bukittinggi. Sementara distribusi digitalnya dirilis di bawah naungan Backstabbed Records, label yang aktif mendukung pergerakan band-band dalam skena underground di Riau.

Dalam EP ini, WEARS menghadirkan riff gitar yang kuat dengan struktur sound yang berat. Pengaruh dari band-band seperti Superheaven, Narrow Head, Sunny Day Real Estate, hingga Fleshwater terasa membentuk atmosfer melankolis yang kemudian meledak dalam klimaks post-hardcore yang emosional.

“Heal Your Wounds” terasa seperti upaya WEARS untuk menemukan bahasa mereka sendiri—bahasa yang lahir dari luka, kegelisahan, dan keberanian untuk mengekspresikannya melalui distorsi.

Pasca perilisan digital ini, WEARS juga tengah mempersiapkan sebuah showcase untuk memperkenalkan materi dari EP tersebut secara langsung. Detail mengenai acara tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat melalui kanal resmi mereka.

EP “Heal Your Wounds” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital, menandai langkah awal WEARS dalam memperluas resonansi suara mereka dari kota kecil menuju skena yang lebih luas! (INQ)