Hal Yang Sama, Gebrakan Eksperimental Kolaborasi Javanese Cat dan Ranggart

Categories: Music

Share
Setelah setahun senyap tanpa rilisan baru, Javanese Cat, satu-satunya band grunge asal Cikampek-Karawang yang masih panas mengguncang gigs ke gigs ini, hadir kembali dengan gebrakan terbarunya. Kali ini, mereka menggandeng Ranggart, solois ballad asal Pontianak, dalam single bertajuk "Hal Yang Sama". Dirilis akhir November kemarin, lagu ini bukan hanya pemantik untuk album kedua mereka yang akan keluar tahun depan, tapi juga sebuah pernyataan bahwa musik lokal punya daya dobrak luar biasa.

Bukan Lagu Cinta “Mainstream

"Hal Yang Sama" bukan lagu cinta biasa. Ini adalah anthem bagi siapa saja yang percaya bahwa cinta sejati tidak butuh alasan, hanya kejujuran. Dengan pesan kuat untuk menerima pasangan apa adanya, tanpa ekspektasi berlebihan, lagu ini merangkul emosi pendengar dengan lirik yang jujur dan aransemen yang menggebu. Dari riff gitar yang tajam hingga vokal khas Ranggart, setiap elemen terasa dirancang dengan hati sebagai target utamanya.

Dapur Produksi Dipenuhi Musisi Lokal

Proses kreatif lagu ini diproduksi dengan semangat kolektif. Ramadhan Tama dari "Lingkar Cendala" menggantikan Carlos di posisi bass sementara Ramdan Rhuswana dari "Sembilan Persen" mempercantik lagu dengan isian pianonya. Sentuhan megah orkestra diaransemen oleh M. Syidik Subagja “Hyperbolic Culture” sehingga mengantarkan dimensi baru pada lagu ini, menambah keintiman lirik dengan percikan energi musikal.

Kepada tim Bvckle Smiggle, Ray Cornell gitaris dan otak kreatif Javanese Cat menceritakan awal mula kolaborasi ini terlaksana.

"Sebenernya lagu ini awalnya gue ciptain buat proyek solonya Ranggart," ungkapnya, "Tapi Ranggart minta kolaborasi sama Javanese Cat. Tujuan kolaborasi ini buat menyatukan aja sih, antara musisi indie dan musisi reguleran. Rangga sering ngisi di cafe-cafe, sedangkan Javanese Cat lebih ke gigs underground. Akhirnya gue fokus di departemen gitar, dan hasilnya lebih dari yang gue bayangkan." pungkasnya.

Proses rekaman di Broadway Music, dengan M. Syidik Subagja sebagai produser, berlangsung selama tiga minggu penuh tantangan, mulai dari jadwal manggung yang padat hingga sakit yang sempat menghambat.

Gebrakan Aransemen Eksperimental

"Hal Yang Sama" adalah percampuran liar antara grunge, pop, dan jazz. Dengan beat drum sederhana dari Abay, teknik gitar Ray yang kasar dipadukan Seattle Sound  tak luput sayatan gitar yang penuh emosi dikemas dengan vokal unik Ranggart menjadikannya sesuatu yang sulit diabaikan. Overall lagu ini memiliki daya tarik tersendiri.

Perjalanan Panjang Javanese Cat di Skena Musik

Enam tahun lalu, di tengah riuh kota Cikampek, Javanese Cat lahir dari kreatifitas sekelompok karyawan Kompas Gramedia. Band ini kemudian tumbuh menjadi trio solid dengan formasi Ray (gitar/vokal), Abay (drum), dan Carlos (bass). Mereka adalah pionir lokal yang tak ragu mengeksplorasi genre, dari grunge 90-an hingga punk, jazz, dan heavy metal. Album perdana mereka, The Best of the Beast (2021), serta single seperti Larut, Amarila, dan Deselerasi Distorsi Rindu (2023), telah membuktikan kemampuan mereka sebagai salah satu band yang patut diwaspadai di skena musik, lokal khususnya.

"Hal Yang Sama" telah available di semua platform digital official mereka. Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan gebrakan baru dari Javanese Cat dan Ranggart. Mari bersama merayakan cinta, musik, dan gimmick kehidupan yang tak pernah lekang! (INQ)

Kredit Produksi

Lagu dan lirik: Ray Cornell

Recording, Mixing, dan Mastering: Broadway Music oleh Muhammad Syidik Subagja

Vokal: Ranggart

Gitar: Ray Cornell

Bass: Carlos Manalu

Drum: Akbar Zildjian

Instrumen tambahan: Ramdhan Rhuswana ("Sembilan Persen")

Lebih Personal, Karnamereka Rilis Single Ketujuh Bertajuk Ayah Untuk Album Fortune

Categories: Music

Share
KARNAMEREKA—Grup pop-punk asal Kulon Progo, Yogyakarta yang berdiri pada 17 Agustus 2010. Dipimpin oleh Heroherda (vokalis dan gitaris), band ini juga digawangi oleh Rolan dan Candra.

Fortune album yang sedang digarap oleh mereka, menambah pasokan single-nya satu lagi yang resmi rilis 13 Desember kemarin berjudul “Ayah”.  Lagu ini adalah lanjutan dari single sebelumnya yang berjudul “Di Persimpangan” yang telah rilis 18 Oktober 2024 lalu, dengan bridging versi terbaru lagu “Ayah Ibu” yang dijadikan pop punk, rilis kembali pada 15 November 2024.

Sisi personal “Ayah” dari sudut pandang Herda

Heroherda (Herda), frontman KARNAMEREKA, mengonsepkan lagu “Ayah” sebagai kisah soal sosok anak yang kehilangan ayahnya dan merindukan nasehat-nasehatnya selama sang ayah hidup. Herda menganggap “Ayah” adalah karya yang sangat personal. “Lirik yang ku tulis ini adalah sesuatu yang aku pendam dan rasakan.” Herda menambahkan, “Saat lagu ‘Ayah Ibu’ telah rilis, banyak yang suka. Orangtua saya juga sangat suka dengan lagu itu. Saya merasa bangga bisa membahagiakan mereka. Tapi tak selang lama setelah itu ayah saya meninggal dunia.” Herda mengakui bahwa karena itulah lagu ini tercipta.

Warna musik balada adalah genre yang terpilih untuk merepresentasikan “Ayah”. Bagi Herda, musik balada digunakan karena lagu ini penuh dengan pesan kehidupan. Dia juga berharap, “Kami ingin lagu ini dinikmati oleh kalangan universal, tidak hanya audience pop punk saja.”

Saat menulis lagu “Ayah”, Herda mem-flashback berbagai kenangan dengan sang ayahanda. “Saya hanya berandai-andai, siapa tahu lirik yang ku tulis bisa tersampaikan ke ayah yang sudah tidak ada lagi di sini.”

Rekaman “Ayah” melibatkan personil awal KARNAMEREKA

Formasi awal KARNAMEREKA–Herda, Rolan, dan Candra–terlibat di rekaman lagu terbaru ini. Bukan cuma pengonsepan aransemen, bahkan sampai cerita untuk video musik. Sementara untuk instrumen piano dan biola, posisinya diisi oleh Nereus Alvin. Momen yang menarik dari proses perekaman “Ayah” adalah ketika lagu sudah dalam tahap 90% mixing dan mastering, Herda iseng menambahkan part piano yang mirip dengan lagu “Nina Bobo” pada bagian interlude biola. Herda menjelaskan, “Kordnya masih ‘masuk’ dan ingin menambahkan suasana masa kecil yang ceria di tengah sayatan biola yang terdengar menyedihkan.”

Perekaman “Ayah” dilakukan pada bulan Oktober dan November 2024 lalu di studio Seventiga Labs, Yogyakarta.

“Ayah” juga hadir dalam bentuk video musik

Seperti single-single sebelumnya, “Ayah” juga disertakan dengan konten video musik yang bisa dinikmati di kanal resmi KARNAMEREKA di YouTube. Sutradara Usman Hasan lagi-lagi didapuk menjadi sutradara video musiknya. Namun turut melibatkan seluruh personil KARNAMEREKA untuk mengembangkan naskahnya.

Herda berpesan, “Kalian harus nonton video klipnya , ada pesan kehidupan yang sangat penting terutama untuk kalian yang sudah memasuki fase dewasa.”

Lagu “Ayah” sudah dapat dinikmati di berbagai kanal streaming favorit per hari ini , dengan video musik yang juga tersedia di kanal resmi KARNAMEREKA di YouTube. (INQ)

Dengarkan “Ayah” di melalui tautan di bawah ini:
https://karnamereka.bfan.link/ayah

My September Hadirkan Record Live Bersama Local Heroes di Danau Cinta Karawang

Categories: Collaboration

Share
Banyak cara dilakukan untuk promosi, seperti halnya studio rekaman My September Record yang hadirkan record live “Jamming Nyore” pinggir danau di Karawang.

Salah satu Founder My September Record Aditya Nugraha atau dikenal
juga dengan nama Radit Bilqis mengungkapkan event musik “Jamming Nyore” adalah bagian dari pengenalan studio rekamannya kepada para musisi atau pelaku musik di Karawang dan sekitarnya melalui konsep recording live.

“Recording live audio sendiri adalah untuk mengenalkan bahwa rekaman itu tidak selalu harus di dalam studio, rekaman pun bisa dilakukan di luar dari studio, dan bisa dilakukan secara live di panggung atau tempat yang lainnya, baik itu secara indoor maupun outdoor,” kata Adit saat kegiatan jamming sore berlangsung pada Minggu (15/12/2024) kemarin di Danau Cinta Eco Resort.

Saat pantauan di lokasi, ada 11 band yang tampil antara lain Urarig sebagai band pembuka, kemudian Reiwa, Torch, Mutasi, Tamoor, Numbhatenumb, Sembilanpersen, Lingkar Cendala, The Rice, September Music, dan Karinding Awak.

Selain itu, banyak musisi senior Karawang turut hadir memeriahkannya. Seperti Forum Musisi Karawang, Rental Band 21, Panji Guruh dan banyak lagi yang lainnya.

“Bagi kami, kehadiran musisi senior merupakan sebuah kehormatan, karena bisa menunjukkan support bagi perkembangan musik lokal Karawang untuk lebih maju dan bisa bersaing di tingkat nasional,” tegasnya.

Adapun, grup musik yang ikut dalam jamming nyore merupakan grup musik yang mendaftar recording live.

“Untuk band yang terlibat itu daftar semua,“ sahut Adit.

Sementara itu kata Adit, tujuan recording live juga untuk bahan portofolio bagi grup musik.

“Tentunya, hasil dari visualnya sendiri itu bisa dijadikan untuk portofolio untuk para band-band tersebut, karena portofolio band itu sangat penting adanya, agar mereka memiliki data, baik itu secara audio maupun visual,” tegasnya.

Apalagi ia memilih tempat atau lokasi yang layak untuk bisa dijadikan daya tarik dalam recording livenya. 

“Kami memilih lokasi Daci Eco Resort ini tentunya memiliki view yang bagus ada danau dan lapang yang luas juga tempatnya nyaman untuk bisa dijadikan area jamming nyore,” ujarnya.

Di akhir wawancara ia juga menjelaskan untuk paket record atau rekaman dihargai 1,2 juta pershift.

“Jadi per shift itu Rp 1.200.000,” pungkasnya. (YFS)