Modjorido kembali melepaskan single "Lost" yang merupakan single ketujuh setelah perilisan album "Modjorido - Self Titled" sebagai album perdana mereka pada tahun 2021.
Dengan formasi Rio Mahesi (vokal utama/gitar), Donee Sura (bas), Davie Duff (gitar/vokal latar) & Sechra Ahmad (drum) sepertinya band asal Pulau Dewata ini bereksperimen dengan warna musik baru untuk single ini.
Kembali Ke Dapur Rekaman
Modjorido sempat masuk menjadi 3 besar dalam pemilihan band untuk rangkaian showcase Pemanasan Pestapora 2024 serta masuk dalam album kompilasi Made In Bali by insight id 2025 Februari lalu, dan setelah bertamasya panjang, akhirnya band hard rock ini kembali ke dapur rekaman. "Seusai tour di 9 kota dengan Pestapora, kami merasa solid lagi "as a band," berpikir akan apa yang terbaik untuk musik kami," ujar Donee Sura.
Soulful, Groovy & Touchy
Vokal Rico yang soulful dan touchy, bass dan drum yang groovy sebagai landasan kuat ditambah dengan mood & situasi gitar yang teracuni banyak dari Radiohead membuat tone gitar di lagu ini terdengar hangat serta menyayat hati. Menariknya pada proses recording, bagian drum diisi oleh Reza Achman (Matajiwa, Rhythm Rebel & Galiju). "Mungkin sudah takdirnya lagu ini diisi oleh Reza, karena memang di menit-menit akhir, Reza diundang untuk menyumbangkan energi nya uldi lagu ini." Tutur Davie. Alhasil, sentuhan Reza menjadikan feel lagu ini terasa berbeda.
"Lost" menggambarkan perjalanan emosional dari sebuah cinta. Perubahan batin hingga rasa sakit karena kehilangan, Modjorido ingin menunjukkan ajakan untuk menyerah kepada perasaan terdalam membiarkan diri mengalir ke bersama emosi, dan menerima luka tanpa perlawanan. Lagu ini diracik dengan suasana puitis, melankolis & kontemplatif.
Dan untuk kalian yang sedang menjadi sadboy & sadgirl, gue rekomendasiin buat puter lagu ini yang rilis pada 30 Mei 2025 kemarin di semua digital platform kesayangan kalian. Cheeers!!! (RCAF)
Comments
AUTICED Mengawali Babak Barunya Dengan Gebrakan Kolaborasi Dan Kualitas Musik Yang Makin Garang
Sejak tahun 2007 sebuah entitas bernama Auticed terbentuk di Bandung dari bara api dibalut distorsi, mengawali karya mereka melalui jalur underground yang tajam yaitu death metal. Setelah bertahun-tahun tertidur, mereka akhirnya bangkit. Tentu bukan sekadar terbangun dari tidur yang panjang, Auticed memberi sebuah ultimatum garang, dimana Auticed tidak hanya sedang merayakan sebuah perayaan rilisan. “Ritus”, merupakan single baru yang memberi pernyataan keras bahwa—Auticed tidak pernah mati.
Menurut informasi dari rilisan mereka, “Ritus” tak menyisakan lagi satu pun founding member pada formasi; semacam fase keempat dari perjalanan Auticed. Adhi Prayoga pada vokal, Insan Kamil pada gitar serta Aden Indra pada drum menjadi personil yang tersisa dari formasi rilisan terakhir mereka. Pada posisi bass, Auticed kini dilengkapi oleh bergabungnya member anyar yakni Alwin. Turut hadir sebagai tamu pada lagu ini adalah Dirk, gitaris dari band Hellcrustdan Sentient. Bersama-sama, nama-nama tersebut menulis dan mengomposisi “Ritus" sebagai lanjutan langkah Auticed yang telah vakum sejak 2019 dikarenakan kesibukan personil masing-masing, setelah tiga tahun sebelumnya merilis album kedua mereka berjudul Arise, tepatnya pada tahun 2016.
Memahat Lima Bagian Dalam Satu Kutukan
“Ritus” adalah kolosal death metal yang terbagi ke dalam lima part, dengan total durasi lagu sekitar lima menit. Lagu ini bercerita tentang sosok Elizabeth Bathory, bukan sekadar sang pembunuh legendaris seperti yang mereka singgung di album Arise (2016), tapi kini sebagai penyihir yang dihukum mati karena dianggap melampaui batas norma. Ia tidak minta maaf. Tak juga meratap. Ia menari dalam kobaran api, dan mengutuk rakyat yang menyiksanya.
Dalam sekarat, Bathory melontarkan mantra terakhirnya dalam bahasa Nordik,
“Ævinlig böl yfir yðr öllum, ó bölvaðar sálir! Blóð yðvar renni sem myrk á, ok bein yðvar brotni undir þunga synda yðvarra!”
“Kutukan abadi atas kalian semua, wahai jiwa-jiwa terkutuk! Biarlah darah kalian mengalir seperti sungai kegelapan, dan tulang-tulang kalian hancur di bawah beban dosa-dosa kalian!”
Penggalan mantra kematian untuk semua yang menyaksikan kobaran apinya. Lebih dari sebuah penggalan lirik, ini merupakan worldbuilding dalam bentuk musik ekstrem. Sebuah narasi seru yang menjanjikan akan sebuah kelanjutan ceritanya. Apakah ini awal dari sebuah universe baru dalam rancangan kedepan Auticed?
Death Metal Dengan Horn Section?Yes, You Will Heard It Right.
“Ritus” bukan hanya menang di storytelling. Musiknya sendiri menampilkan evolusi sonik yang mengejutkan. Auticed tetap solid dalam kerangka death metal mereka, tapi sekarang dengan tekstur musik yang lebih garang, mixing yang lebih jernih, dan struktur yang jauh lebih kompleks. Tidak ada chorus yang diulang, hanya riff-riff padat yang siap mengutuk, siap menyiksa kepala agar pendengarnya mati ber-headbang ria.
Dan ya, di ujung lagu, tiba-tiba muncul trumpet dan saxophone. Sebuah “salsa dari neraka” yang menyusup di sela-sela riff, membuat akhir lagu terasa seperti pesta kematian.
Sax dimainkan oleh Ghifar, trumpet oleh Fahmi, yang juga memainkan sampler. Detail ini memperkuat nuansa industrial-ritualistik dari track ini, membuat “Ritus” terasa seperti ritual pemanggilan roh jahat yang indah.
Visual, Produksi, dan Sebuah Misi “Reintroduction”
Secara produksi, Toteng mengambil alih proses rekaman di Studio Fun House Bandung, sementara Winaldy Sennamengeksekusi mixing-mastering dengan presisi tinggi. Hasilnya? Sebuah track yang brutal, agresif, funky dan dancy.
Sisi visual tak kalah penting. Artwork dari Opung menampilkan wajah Bathory dalam sebuah potret monokrom yang mencekam, sedangkan visualizer garapan Dena R. Prabandara memperkuat aura gelap dan teatrikal yang menyelimuti rilisan ini.
“Ritus” adalah ritual pembangkitan. Sebuah senyuman hangat yang siap melempar pendengarnya kedalam api neraka. Lebih dari itu, ini juga awal langkah reintroduksi Auticed ke scene metal Indonesia yang kini riuh dan padat. Tentunya Auticed menjadi sorotan dan patut diwaspadai.
Apakah mereka akan gentar di tengah industrial musik yang makin panas? Tentu tidak, mereka siap membakar altar mereka sendiri, dan menari di atas kepulan asap dan abunya. Per 8 Mei 2025, single ini telah dapat didengar dan dinikmati di official kanal Youtube Auticed. Dan telah rilis di seluruh digital platform musik pada tanggal 15 Mei 2025. Hellyeah! (INQ)
Comments
“ènola” Bagi Over Dopamine Adalah Sebuah Pelukan Melodi Untuk Mereka Yang Merasa Sendirian
Kadang kata-kata tak cukup untuk menjelaskan perasaan racau, takut, atau lelaaah dalam kehidupan ini. Akan ada fase di mana kita merasa berjalan sendirian, ditengah dunia yang ramai. Dari ruang-ruang keresahan inilah Over Dopamine hadir membawa lagu perdana mereka, “ènola”, bak pelukan hangat bagi siapa pun yang “sedang” merasa sendirian.
Over Dopamine adalah band pop rock alternatif asal Bekasi yang dibentuk pada tahun 2023. Beranggotakan Muhammad Rifki (gitar), Aira Natasya (vokal), Rafa Eka (gitar), dan Rifa Adidea (drum), keempatnya merupakan sahabat sejak SMA yang menyatukan isi kepala, semangat, dan cinta terhadap musik yang kini mereka beri nama: Over Dopamine. Nama yang lahir dari kesepakatan empat kesawakan tersebut.
Setelah melewati proses pencarian identitas, band yang sebelumnya bernama “December” ini melakukan rebrandingpada 26 Maret 2025 dan memilih “Over Dopamine” sebagai wajah baru mereka. Nama yang bisa saja diasumsikan sebagai sekelompok orang yang sudah terlalu banyak mengonsumsi ‘kebahagiaan palsu’, namun tetap saja merasa hampa.
Single “ènola” menjadi jejak pertama dari perjalanan baru mereka. Lagu ini berbicara tentang seseorang yang capek menghadapi dirinya sendiri. Tentang tubuh yang tak lagi sanggup berdiri tegak, dan pikiran yang terus racau dititik terendahnya. Lewat lirik dan nada yang sensitif, “ènola” ingjn menjadi ruang teriak juga hiburan untuk pendengarnya bukan hanya bagi para personel Over Dopamine, tapi juga bagi siapa pun yang sedang mencari cermin untuk memahami diri mereka.
Dalam “ènola”, Over Dopamine duduk bersamamu dalam kesedihan itu. Mengakuinya, merayakannya, dan merangkulnya. Lagu ini adalah teman dalam fikiran di malam gelap, suara yang meyakinkan bahwa menangis bukan kelemahan, dan serta mencoba memeluk pelan saat dirimu merasa sendirian.
Visual artwork dari “ènola” pun menggambarkan perasaan itu dengan sangat jelas. Sosok samar seperti sosok “manusia” dalam ruang gelap, tak kuat berdiri dengan tegak, dengan latar rasi bintang yang seolah menjadi saksi dari beratnya sebuah perjalanan. Gambar ini memperkuat narasi lagu yang berisikan tentang pencarian diri, keterasingan, dan harapan-harapan kecil yang tetap bersinar.
Kabarnya “ènola” kini telah tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube, dan YouTube Music. Lewat lagu ini, Over Dopamine ingin menyampaikan satu pesan sederhana bahwasanya, kamu tidak sendirian. Congratulations! untuk debut dan lagu yang overall menyentuhhh dengan suara khas ala-ala musik wave to earth(INQ)