Anesthecy, Anak-anak Muda Asli Karawang Siap Membius Dengan Single Debut "Kultuskan Aku"

Categories: Music

Share
Jika di dalam dunia medis ada istilah anestesi yang diartikan sebagai obat bius, ternyata di dunia musik pun juga ada band yang bernama Anesthecy. Band yang dibentuk oleh anak-anak SMA N 5 Karawang pada 3 September 2023 ini merupakan band jebolan festival antar sekolah pada masanya dengan formasi Sisil (vokal), Angel (kibor), Joshua (drum), Syaima (gitar utama 1), Ayub (bas), Alvyn (gitar utama 2) dan Lukman (gitar ritem). 

Pemberian Nama Anesthecy 

Dalam keterangannya kepada tim Bvckle Smiggle, Joshua sang drummer mengatakan "iyaa, dulu itu sebelum kebentuk nama Anesthecy, kita emang sering dipake buat main musik di acara acara sekolah kek pengiring angklung gitu, jadii awalnya itu gua sama Sisil lagi nongkrong kan, itu tu H-3 kita mau ada lomba pertama kita di Ramayana. kan ga asik kalo nama nya cuma SMAN LI BAND karna gapunya nama atau Candra Gemilang Band, nah gua itu dulu ga mau banget bawa bawa kaya gituan kan. nah akhirnya dari diem-dieman pas nongkrong yang terbesit di pikiran gua biusan anestesi, itu gara-gara gua abis nonton orang perawatan cidera tinju. Gua pikir anjir keren juga anestesi tapi biar ga obat banget akhirnya gua plesetin tulisan nya jadi “Anesthecy” dengan harapan musik kita itu bisa membius audience dari rasa sakit dan rasa rasa yang lain." ucapnya. 

Pernah Menjadi Opener Festival Besar

Jauh sebelum merilis debut single, band ini merupakan band spesialis festival. Bahkan bersama Javanese Cat, mereka lolos audisi lalu menjadi local heroes Karawang dan dinobatkan sebagai opener band sekelas Nidji, Guyon Waton & Feast di panggung Quarter Night Festival Chapter III 2024 di Galuhmas, Karawang. Dengan ditonton ribuan orang yang hadir, sungguh menambah pengalaman serta mental bagi anak-anak muda ini. 

Debut Karya "Kultuskan Aku"

Anesthecy sempat mengalami pergantian personil, Syaima dan Alvyn keluar lalu digantikan oleh Yohanes diposisi gitar utama dan membawa angin segar bagi Anesthecy, untuk menuju dapur rekaman. Single dengan judul "Kultuskan Aku" Anesthecy akhirnya meresmikan "monumen" sebagai tanda dimulainya perjalanan musik mereka untuk berkarya di masa depan. Dengan mengusung musik alternative rock dan warna musik-musik parade sebagai ciri khas mereka, single ini juga menjadi bahan eksplorasi ide-ide mereka. Pop rock, blues, ragtime hingga hard rock kuat mempengaruhi Anesthecy hingga menjadikan Queen sebagai kiblat utama musik mereka. "Kultuskan Aku" mengisahkan tentang sosok “aku” yang memanipulasi pikiran korbannya sejak pertama kali mereka memutuskan untuk membuat sebuah perjanjian. Sosok ini menyelamatkan hidup korbannya, namun di balik itu, ia membuat sang korban merasa menjadi tidak berarti tanpa kehadirannya. Aih gelap juga sih.

Proses Kreatif Single Ini.

"Kultuskan Aku" mulai digarap pada bulan Maret 2025 dengan melibatkan Sidik Subagja "Hyperbolic Culture" sebagai sound engineer dan untuk workshop serta penggarapannya berada di studio Broadway Pancawati, Karawang. Lagu ini sudah rilis sejak 19 April 2025 di berbagai platform musik digital. Perpaduan alunan piano yang manis, harmonisasi dua gitar yang selaras, serta dukungan bass dan drum dengan sound klasik menjadikan lagu ini lebih dari sekadar karya biasa, terutama sebagai lagu perdana Anesthecy.

Langsung cek DSP aja buat dengerin "Kultuskan Aku," seru ini lagu. Cheeers!!!!

Credits:

Written by Anesthecy
Lyrics by Lukman Al Rifki
Producer by Joshua Krisluis
Mixing & mastering by M. Syidik Subagja
Recorded at Broadway Studio Indonesia
Artwork Cover by Joshua Krisluis

Anesthecy are:

Vocal by Fricillia Amanda Putri
Keys/Piano by Angelina Lipina L
Lead guitar by Yohanes A. A. Purba
Rhythm guitar by Lukman Al Rifki
Bass by Ayub Tri Harsojo
Drum by Joshua Krisluis B. Sinaga
(RCAF)

Tunggangi Babak Barunya Dengan Gagah, Black Horses Teriakkan “Tirani Tua” Demi Menjaga Kewarasan 

Categories: Music

Share
“Sudah sekian kali kita melawan, Black Horses mengajak untuk memutuskan segala dosa-dosa mereka,  agar berhenti dikita dan bersenang senang”, ungkap mereka tegas kepada awak media.

Tampaknya Black Horses, band jebolan Jakarta tersebut, kali ini benar-benar larut dalam babak barunya. Berkarya sejak 2015, satu dekade telah mereka tapaki—dan akhirnya, mereka luluh juga untuk menciptakan lagu berbahasa Indonesia. Bukan sekadar perubahan bahasa melainkan sikap. Lirik-lirik tajam dalam lagu ini siap menggilas para tirani, membuktikan bahwa kritik tak harus datang dari mimbar para demonstran, cukup lewat karya. Toh, katanya, pemerintah Konoha paling takut sama hal yang begituan. 

“Penuh sesak hari-hari
Dan tak ada jalan tuk berlari
Dihadang para bedebah
Penguasa semua lini
Oh ya!”

Penggalan lirik lagu yang tetap getarkan semangat rock ‘70-an yang tak tergoyahkan, Black Horses akhirnya menyerahkan dirinya pada bahasa ibu. “Tirani Tua” jadi hidangan pembuka hangat untuk babak baru yang kini menunya lebih legit untuk perut-perut yang lapar. Setelah sepuluh tahun menunggangi anthem rock berbahasa inggris, saatnya mereka teriakkan dengan kepala tegak dan lantang bahasa yang tak perlu diterjemahkan.

“Tak ada waktu yang ku nikmati
Semurah itu kau jangan lari!
Hiduplah walau di titik nadir
Kelakar ku di dalam getir”

Lagu itu sendiri merupakan bentuk lain dari sebuah ketahanan hidup. Sebuah pernyataan bahwa bertahan di tengah absurditas sistem tidak perlu membuang energi untuk marah, cukup dengan menjaga kewarasan sambil tetap bersenang-senang. Di tengah riuh rendah kenyataan sosial, Black Horses memilih untuk tetap tertawa dan menari di atas bara. Karena mungkin, dalam dunia yang semakin gila, bersenang-senang adalah bentuk perlawanan paling waras.

“Sempit di luasnya kota
Hidup kehilangan makna
Mereka tertawa ku pun tertawa
Dengan gila yang berbeda
Ingin ku lari dari sini
Tapi hampir mati berdiri”

Ya, bukan hanya menginjak babak baru. Bak sebuah peluru pertama mereka yang selama ini bertahun-tahun terpendam. Black Horses akhirnya dengan lugas teriak tanpa basa-basi.

"Karena tidak ada pilihan lain selain terus menerobos segala kemungkinan, menguatkan mental, beraktualisasi sebebas-bebasnya, dan tetap marah pada tirani yang dilanggengkan oleh mereka yang tak pernah benar-benar peduli,” ujar Oscario, vokalis Black Horses.

Video Musik “Tirani Tua” milik mereka sudah diputar ribuan kali. Rock n Roll Blues yang kental dengan lirik yang sangat ganas telah rilis sejak pertengahan Mei 2025 lalu. “Tirani Tua” membuka jalan untuk EP Black Horses di bulan agustus nanti yang kabarnya akan full berbahasa Indonesia. Long Live Rock n Roll! (INQ)

Grup Rock Asal Bali "Modjorido" Kembali Melepas Single "Lost"

Categories: NEW REALESED

Share
Modjorido kembali melepaskan single "Lost" yang merupakan single ketujuh setelah perilisan album "Modjorido - Self Titled" sebagai album perdana mereka pada tahun 2021.
Dengan formasi Rio Mahesi (vokal utama/gitar), Donee Sura (bas), Davie Duff (gitar/vokal latar) & Sechra Ahmad (drum) sepertinya band asal Pulau Dewata ini bereksperimen dengan warna musik baru untuk single ini.

Kembali Ke Dapur Rekaman 

Modjorido sempat masuk menjadi 3 besar dalam  pemilihan band untuk rangkaian showcase Pemanasan Pestapora 2024 serta masuk dalam album kompilasi Made In Bali by insight id 2025 Februari lalu, dan setelah bertamasya panjang, akhirnya band hard rock ini kembali ke dapur rekaman. "Seusai tour di 9 kota dengan Pestapora, kami merasa solid lagi "as a band," berpikir akan apa yang terbaik untuk musik kami," ujar Donee Sura.

Soulful, Groovy & Touchy

Vokal Rico yang soulful dan touchy, bass dan drum yang groovy sebagai landasan kuat ditambah dengan mood & situasi gitar yang teracuni banyak dari Radiohead membuat tone gitar di lagu ini terdengar hangat serta menyayat hati. Menariknya pada proses recording, bagian drum diisi oleh Reza Achman (Matajiwa, Rhythm Rebel & Galiju). "Mungkin sudah takdirnya lagu ini diisi oleh Reza, karena memang di menit-menit akhir, Reza diundang untuk menyumbangkan energi nya uldi lagu ini." Tutur Davie. Alhasil, sentuhan Reza menjadikan feel lagu ini terasa berbeda.
"Lost" menggambarkan perjalanan emosional dari sebuah cinta. Perubahan batin hingga rasa sakit karena kehilangan, Modjorido ingin menunjukkan ajakan untuk menyerah kepada perasaan terdalam membiarkan diri mengalir ke bersama emosi, dan menerima luka tanpa perlawanan. Lagu ini diracik dengan suasana puitis, melankolis & kontemplatif
Dan untuk kalian yang sedang menjadi sadboy & sadgirl, gue rekomendasiin buat puter lagu ini yang rilis pada 30 Mei 2025 kemarin di semua digital platform kesayangan kalian. Cheeers!!! (RCAF)