Komunal adalah entitas, organisme yang hidup bernafas lewat distorsi dan menyalakan kehidupan lewat tiap hentakan drum dan gemuruh gitar. Tak semua band tetap percaya pada idealisme yang mereka yakini selama dua dekade. Nostalgia, album penuh keempat mereka, adalah bentuk energi paling liar dari sebuah pemberontakan “Raja Metal”.
Lahir di tahun 2004, Komunal susuri jalan panjang bukan demi panggung besar atau ketenaran yang semu. Panorama(2004), Hitam Semesta (2008), Gemuruh Musik Pertiwi (2012), sebuah album rekaman live, Live At De La Show (2019) adalah fragmen-fragmen dari peta besar yang akhirnya menemukan bentuk konkret dalam Nostalgia. Yash, sebuah artefak spritual.
Bagaimana jika semua fragmen masa lalu dibongkar dan disusun ulang dengan kematangan emosional hari ini? Itulah Nostalgia. Sepuluh lagu yang tidak hanya hanya bercerita, ia mencoba menyentuh, dan menggertak pelan-pelan.
Doddy Hamson (vokal), Anwar Sadat (gitar), dan Rezha Harry Kathana (drum) memimpin ritual ini. Tidak hanya memainkan musik; mereka membangkitkan ingatan, luka, cinta, amarah, dan spiritualitas yang membentuk Komunal dari akar hingga ujung mahkota. Lirik Doddy kali ini tidak lagi hanya serpihan puzzle puitik, yang kadang berbisik, kadang menjerit.
“Kalau sebelumnya aku memang cukup seenaknya saja merangkai kata, tapi di album ini memang aku cukup memperhatikan urusan teks dan merasa harus kena lah dengan apa yang mau kuomongin, dan kukeluarkan semua yang kurasakan; bahkan bisa dibilang macam curhat,” ujar sang vokalis menjelaskan.
”Kehidupan dan bermain musik heavy metal itu sama pentingnya, dan hidup yang kurasakan ternyata berpengaruh untuk bisa terus main musik metal. Maka bila sebelumnya aku enggak terlalu pede berbicara soal realitas sosial maka di album ini aku lebih pede karena pengaruhnya berasa dalam hidupku,” tambah Doddy.
Lirik-lirik yang menyiratkan akan kecintaan mereka akan rock dan metal memang bisa dibilang banyak mewarnai dan disuratkan dalam Nostalgia, seperti dalam “Bahagia”, “Raja Metal, dan “Suara Masa Depan”.
Album itu dibuka dengan nomer yang meratap bak kidung yang berjudul “Kesaksian”. Dan bagi yang paham dari judul lagu dan baris lirik “menjilat matahari” adalah semacam judul lagu dari Kantata Takwa dan God Bless.
Sepuluh lagu dalam Nostalgia merayakan keragaman dalam spektrum rock dan heavy metal. Namun sebuah album metal sejati tak lengkap tanpa momen reflektif. Setelah “Higher Than Mountain” dan “Higher Than Mountain II”.
Dalam press released komunal bercerita bahwa, Nostalgia bagi para personil Komunal bisa dibilang adalah sebuah retrospeksi atas eksistensi dan apa yang telah mereka kerjakan sebagai band, selain itu album keempat mereka itu juga adalah sebuah peziarahan Komunal menelusuri kembali lorong waktu, dan menjelajahi akar musikalnya. Sebuah ode untuk God Bless, Pantera, Van Halen, Andy Liany, dan tentu saja, persembahan tulus bagi Kawan-Kawan Komunal yang setia menanti bab berikutnya.
“Bisnis Cari Duit”, “Uang Dimana-Mana”, “Seleksi Alam” tersirat dan tersurat sebuah realitas. Dan Doddy tak lagi takut bicara tentang sosial-politik, karena sekarang semua terasa personal. Bagi Komunal, hidup dan heavy metal adalah satu tubuh. Luka dalam hidup, adalah distorsi dalam musik.
Dan ketika “KkK” diputar, kita tahu ini merupakan sebuah persembahan dan doa untuk Kawan-Kawan Komunal yang pernah berdiri di depan panggung, menggenggam bir, dan berteriak bersama.
Album ditutup oleh “Roda-Roda Api”, rock balada yang melanjutkan tradisi “Higher Than Mountain” dari era sebelumnya. Tapi kali ini lebih matang.
Untuk proses kreatifnya, Komunal kembali menggandeng James Plotkin untuk mastering.
“Sebelumnya kami bekerjasama dengan
James Plotkin untuk mini album Komando Badai Api, dan kami lanjutkan kerjasama itu untuk album Nostalgia karena dalam kerjanya James Plotkin tidak mengejar loudness, dan kami suka itu,” ujar mereka.
Visualnya juga bergerak keluar dari kebiasaan. Sebuah arca batu gunung—dipahat oleh Erlan Adi Kurnia dari Sketsa Morrgth, bassist terbaru Komunal—jadi artefak visual yang monumental.
“Ide ini muncul dari kemauannya Morrgth, karena kami pikir bosan juga kami dengan sampul album selalu ilustrasi. Dan, dari perkenalan manajer kami, Edo Gordo, dengan Erlan akhirnya kami eksekusi ide patung itu,” tambah vokalisnya bercerita akan konsep cover album mereka, dimana secara simbolik memberikan makna lebih untuk album Nostalgia.
Dipotret oleh Firman Rohmansyah, cover Nostalgia terasa seperti peninggalan zaman yang belum sempat kita baca sejarahnya.
Komunal belum selesai. Tapi kalau pun ini akhir dari sebuah bab, maka Nostalgia adalah arsip yang gagah namun penuh haru. Arsip dari para rocker sejati ataupun “Raja Metal” yang menua dengan semangat rock yang sama liarnya seperti saat mereka pertama kali menyetel gitar.
Di bawah naungan Disaster Records, album Nostalgia telah rilis secara fisik maupun digital diseluruh kanal resmi milik mereka. Selamat datang kembali, Komunal! (INQ)