Teenage Death Star Rilis Album Baru Usai Tujuh Belas Tahun, Kolaborasi Dengan Dua Belas Musisi

Categories: Music

Share
Skill is dead, Let's Rock!!! — Begitulah jargon yang mengaum dari grup band circus punk rock  asal Bandung, Teenage Death Star (TDS) yang sejak 2028 berkiprah cukup lama di kancah musik Indonesia.

TDS dibentuk oleh sekelompok anak-anak muda nyeleneh dan jenius yang terdiri dari Sir Dandy (Vocal), Alvin (Guitar), Helvi (Guitar), Satria NB (Bass), dan Firman (Drum). Lima punggawa ini menyatukan hasrat bermusik mereka di bawah bendera Macan Purba sebagai Ikon dari TDS yang liar dan buas.

Dengan jargon Skill Is Dead, Teenage Death Star menawarkan pertunjukan visual ganas daripada kemampuan musik yang hebat layaknya The Beatles, Dream Theater ataupun Led Zeppelin.

Sebuah Masterpiece Dengan Konsep Brilian

Album yang bertajuk “Thunder Boarding School” menyuguhkan sesuatu yang unik, dimana TDS dengan jeniusnya mengajak 12 musisi tanah air dengan 12 gaya bebas masing-masing. 

Kepada tim BVCKLE SMIGGLE Sir Dandy menceritakan  tentang proses kreatif saat menggarap album ini.

"TDS cuman buat musiknya aja lalu ada 12 vokalis, mereka mengisi lirik & vokal di album ini," ungkap vokalis liar tersebut.

Sepanjang Januari, album ini diawali dengan single "Drakilla" dan ditutup pada penghujung bulan dengan single "Wish I Was the One Who' s Driving You Home" menjadikan 12 track album “Thunder Boarding School” resmi beredar dan rilis dibawah naungan Sun Eater & FFWD Records. Bagi Teenage Death Star, band anti-skill yang dikenal dengan konsistensinya dalam tidak merilis apapun selain album pertama "Longway to Nowhere" pada 2008 silam. 

Tentu saja ini merupakan rilisan pertama setelah enam belas tahun, pasti punya gebrakan unik tersendiri dengan mengajak 12 musisi dengan latar belakang dan keahlian yang berbeda. 

"Konsep ini nampaknya belum pernah ada yang melakukan sebelumnya, lagi pula ini adalah cara untuk menutupi rasa malas kita, (dalam merilis materi baru) effortless tapi hasilnya maksimal." Ujar gitaris Alvin Yunata.

Thunder Boarding School, Punya 12 Murid Dan Dengan 12 Keahlian Berbeda

1. Drakilla (Bergentayangan Di Malam Hari)

Track pembuka Teenage Death Star "Drakilla" membawa suasana baru dengan sentuhan musikalitas yang lebih modern namun tetap mempertahankan identitas & esensi punk rock yang menjadi ciri khas Teenage Death Star. Single ini tercipta dari hasil kolaborasi Teenage Death Star dan Hary Foundation Goodnight Electric.

2. Pesantren Kilat

Di track nomor dua ini TDS mengajak duo punk new wave asal Purbalingga, Sukatani. Ovi aka Twister Angel memanifestasikan kontribusi dengan vocal gaharnya.

3. Good For Your Mental Health 

Acin The Panturas turut andil bersuara di track ini, frontman band Surf Rock Jatinangor pride ini  memberi warna baru pada lagu ini. Asik yeee.

4. Johnny Anak Sekolahan

Terpandang sebagai vokalis band hardcore punk comedy Tabrak Lari, Luthfi Tank Grunge ternyata ikut meramaikan hajatan TDS ini. Emang kalo hajatan besar harus begini sih ya.

5. Cinta Ini Tak Kan Membunuhku 

Bila dengan D'Masiv menyanyikan lagu "Cinta Ini Membunuhku", Rian Ekky Pradipta menyanyikan 180° hits D'Masiv itu dengan gaya yang nakal. Semua orang pasti akan kaget, biasanya doi nyanyi melow, di sini si Rian lebih rawk. Goks sih!

6. Pemuda Petir 

Ada Dila Lips! yang siap membuat onar di track nomor 6 ini, suara lady punk rock satu ini menyatu banget dengan corak musik TDS ya guys.

7. Kemana Benda Itu Pergi? (Pls Bantu Cariin)

Rapper sekaligus Youtuber asal Jakarta, Davidbeatt turut mengoceh di lagu ini. Wujud punk bisa bergaya bebas.

8. Ride The Lightning Boarding School 

Dikenal sebagai Bassist Polka Wars, Xandega turut serta bernyanyi di track ini. Xandega juga produktif dengan projek solo nya dance/electronic, keren sih TDS gaet musisi ini.

9. 30

Selain Davidbeatt, TDS juga mengajak rapper Nartok sebagai pengisi lagu urutan ke sembilan ini. Sepertinya rappercapek nyanyi lagu hip-hop ya, akhirnya menginvasi punk rock ala TDS.

10. Cuci Steam Lambung 

Refo dan Fauna yang dikenal sebagai musisi pop dengan lirik nyentriknya, kali ini Refo Alpha Ramadhan atau sering dipanggil Refo bergabung dalam hajat besar TDS buat ngisi track ini, bahkan ada suara merdu saxophone juga. Kira-kira Refo habis ngevokalin ini masih nonton Spongebob gak?

11. Persetan, ini Semua Tak Berguna

Muhammad Fadel Afredo Ginting atau biasa dikenal dengan Romantic Echoes dan juga vokalis Pijar, ikut berorasi di track nomor 11 ini. Punk is never dead baby! 

12. Wish I Was the One Who' s Driving You Home

Pamungkas, sesuai dengan namanya dia juga mengisi di track pamungkas di album ini guys, biasanya Pamungkas menyanyikan lagu-lagunya dengan gaya storytelling berbahasa Inggris andalannya, tapi di track ini Pamungkas berhasil menjadi ganas menyatukan soul-nya  dengan esensi punk rock khas TDS.

Melihat ragam genre dan konsep yang ditawarkan kepada para kolaborator, mungkin wajar untuk mempertanyakan seberapa jauh kebebasan berkreasi yang diberikan TDS kepada seluruh musisi yang terlibat.

 "Prosesnya bebas banget, gak ada aturan kalau sama kami," ujar Alvin. 

"Kami percaya keadilan bermusik bagi seluruh musisi di Indonesia, jadi bebaskan saja," sahut drummer Firman Zaenudin ikut menambahkan.

"Thunder Boarding School", dua belas kolaboratif single karya Teenage Death Star bersama dua belas musisi lintas genre sudah bisa didengarkan di seluruh platform digital mulai 31 Januari 2025. Kira-kira kalian suka yang mana? Bingung ya? Satu lagu yang dinyanyikan oleh dua belas musisi dengan freestyle masing-masing emang unik sih. Congratulation untuk Teenage Death Star atas rilis album barunya setelah 17 tahun. Cheers!!! (INQ)

“Sebelum Merayakan” EP Terbaru Dari For Revenge, Track Utamanya Bertajuk “Menunggu Giliran” Gaet Elsa Japasal

Categories: Music

Share
Tepat pertengahan Januari 2025 lalu, for Revenge grup musik rock alternative asal Bandung ini merilis EP terbaru bertajuk “Sebelum merayakan”. Kabarnya yang paling menarik dari EP ini, track utamanya menggaet artis wanita muda, menarik dan multitalenta Elsa Japasal. Tentu saja kehadiran Elsa Japasal yang kerap dikenal dengan Eca akan menjadi pemikat tersendiri di skena juga industri musik. Tidak hanya karakter suara yang ternyata cocok, bagi for Revenge, Elsa Japasal juga memiliki bakat besar di bidang musik.

 “Saat ini, Eca merupakan salah satu sosok yang sangat dikenal di generasi sekarang, namun belum banyak yang tahu kalau Eca juga memiliki potensi luar biasa dalam bermusik sehingga kami berniat untuk menggali potensi tersebut dan mengenalkannya kepada masyarakat. Bagi for Revenge, berkolaborasi dengan penyanyi di luar genre kami menjadi tantangan tersendiri yang menarik untuk dicoba,” papar Boniex vokalis for Revenge.

Total ada lima lagu dengan tiga versi akustik dari single mereka sebelumnya, yaitu "Sadrah", “Penyangkalan”, dan “Semula”, ditambah dua lagu baru, yaitu “Menunggu Giliran”, yang menyatukan mereka dengan Elsa Japasal dan “Kala Luka Berpesta”, di mana mereka berduet dengan Wira Nagara. 

Album ini sudah digarap sejak Oktober 2024 dan memakan waktu sekitar tiga bulan. Dengan konsep akustik dan kolaborasi, tantangan kami dalam mengerjakan Sebelum Merayakan adalah lebih ke usaha mencocokkkan karakter for Revenge dengan para kolaborator tersebut. Tapi, selain itu, semua proses berjalan dengan lancar dan siap dinikmati para pencinta musik mulai 18 Januari mendatang,” ungkap Boniex kembali.

“Sebelum Merayakanterpilih sebagai judul untuk EP akustik kedua for Revenge dan pemilihan tersebut bukan tanpa sebab karena ini akan adalah prolog menuju album kelima mereka ‘Perayaan Patah Hati – Babak 2’ yang akan dirilis setelahnya. Karena ini adalah mini album akustik, maka kelima track yang ada pun memakai aransemen akustik, termasuk dua lagu baru. Selain itu, dua lagu lainnya merupakan kolaborasi. 

Salah satu track andalan tentunya yang berjudul “Menunggu Giliran”, yang merupakan hasil kolaborasi mereka dengan Elsa Japasal. Menurut Arief Ismail (gitaris), track ini masih terhubung dengan “Sadrah” dan “Semula” karena merupakan bagian keempat dari tema besar “Stages of Grief” atau “Tahapan Kesedihan”.

Lagu ‘Menunggu Giliran’ masih memiliki keterkaitan dengan dua single kami sebelumnya yang kali ini mewakili fase Depression (Depresi), tahap saat seseorang kehilangan harapan karena kedukaan yang dialami. Lewat lagu ini, kami menggambarkan kondisi tersebut melalui sudut pandang seseorang yang sedang berada di titik terendah, kehilangan arah, dan tidak tahu harus ke mana. Pada akhirnya, di setiap baitnya, ‘Menunggu Giliran’ seperti menuntun seseorang yang sedang berada di fase tersebut untuk menemukan apa yang tersisa dari suatu keterpurukan.” ungkap Arief lagi.

Berangkat dari karakter atau nuansa lagu “Menunggu Giliran” yang dirasa perlu sentuhan suara perempuan, membuat for Revenge mantap untuk berkolaborasi dengan Elsa Japasal. 

“Saat mengerjakan lagu ini untuk album ‘Sebelum Merayakan’ kami merasa bahwa lagu ini terlalu kelam dan perlu suara yang bisa membuatnya terdengar menenangkan. Saat itu, kebetulan, kami pernah melihat dan mendengar Eca bernyanyi di beberapa kesempatan dan merasa bahwa karakter suaranya bisa memberikan warna lain di lagu ini. Ajakan kami untuk berkolaborasi ternyata juga disambut Eca,” ulas Boniex. 

Bassist Izha Muhammad juga menyebutkan bahwa suara Elsa Japasal sangat berpengaruh pada track “Menunggu Giliran”. 

Jika diibaratkan, di lagu ini, bagian Boniex seperti mewakili Gelap”, sementara Eca mewakili “Terang”. Artinya, for Revenge dan Eca saling mengisi sehingga terciptalah kolaborasi yang menarik.”

 Lebih lanjut, Izha juga menceritakan kerja sama dengan Wira Nagara di track selanjutnya, “Kala Luka Berpesta”. 

“Kolaborasi berikutnya di album ini adalah ‘Kala Luka Berpesta’ yang datang setelah proses pengerjaan EP ini hampir selesai. Berawal dari Wira yang akan merilis buku ketiga bertajuk ‘Diktiosom Anthophyta’ berisi sajak-sajak tulisannya yang secara benang merah memiliki kesamaan dengan tema pilihan for Revenge saat ini. Akhirnya, kami pun berkolaborasi dengan menuangkan sajak-sajak itu menjadi lagu ‘Kala Luka Berpesta’,” lanjut Izha.

Menurut sang drummer, Archims Pribadi, ini adalah kali kedua for Revenge berkolaborasi dengan Wira Nagara setelah lagu Perayaan Patah Hati”

“Hanya saja dalam ‘Kala Luka Berpesta’, kami menyuguhkan nuansa musik yang berbeda. Lirik Boniex dan sajak Wira dibuat saling bersahut-sahutan di lagu ini sehingga menghasilkan keunikan tersendiri. Tidak hanya itu, dari segi mood, lagu ini terdengar lebih kelam.” tuturnya.

Menurut drummernya lagi, jika ditarik satu benang merah, ada pesan khusus yang ingin mereka sampaikan melalui EP ini. 

Intinya, kebahagiaan dan kesedihan selalu berjalan beriringan lewat lagu-lagu yang kami suguhkan. Keduanya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Karena itu, kami berharap mini album akustik ini bisa diterima di telinga khalayak yang lebih luas lagi, sekaligus mengiringi proses kedukaan menuju terpulihkan, bagi siapapun yang mendengarkan,” tutup Archims.
 
Konsep for Revenge pada EP ini sangatlah matang dan luar biasa menarik. Awal tahun 2025 dirasa pas sebagai momentum for Revenge untuk terus menjaga kobaran panas eksistensinya. Dan bagi tim Bvckle Smiggle mendengarkan “Sebelum Merayakanadalah cara menikmati luka yang tepat. Dengan aransemen musik minor for Revenge yang selalu memukau, berbalut lirik-lirik indah sebagai bumbu penyedapnya. Tentu saja agar lebih berasa, dengarkan sekarang juga album milik mereka di seluruh platform digital favorit kalian. >>yeah<< (INQ)

Akhirnya Pure Saturday Kolab Bareng Rekti “The Sigit” Pada Single Bertajuk “Dry”

Categories: Music

Share
How you spend the time, we spend the same but, How you end up dry”— Penggalan lirik yang menyentuh, seolah mengajak pendengarnya masuk ke dalam sebuah dimensi dengan segudang pertanyaan dikepala. Sangat personal dengan majas yang indah, ciri khas lirik-lirik lagu yang tercipta oleh Rekti “The Sigit” dengan balutan harmoni syahdu namun tetap maskulin khas melodi rintik Pure Saturday.

Sebelumnya kolaborasi Pure Saturday pernah terjadi dikala album “Grey” muncul di tahun 2012, dimana terdapat track yang berjudul "Utopian Dream", dan Rekti berperan sebagai vokalis tamu di lagu yang membawa ke penghayatan yang dalam dengan komposisi musik bernuansa "folk-balad”.

Ternyata bukan sekadar pertemuan ataupun kolaborasi, tetapi juga representasi dari perjalanan panjang persahabatan yang saling menghormati di antara mereka. Rekti, dengan kepekaannya dalam menulis lagu berhasil menyatukan lirik dengan komposisi harmoni yang kaya emosi milik Ade Muir di lanjut dengan harmoni vokal Satria NB, sebuah esesensial khas  milik Pure Saturday.

Definisi Projek Persahabatan 

Perjalanan proses kreatif yang panjang dan berlapis ini diimulai pada tahun 2018 ketika Ade Muir mulai meracik kerangka musiknya, yang awalnya direncanakan sebagai materi lagu untuk single Pure Saturday. Kemudian di lanjut dalam pembuatan liriknya dengan menggandeng Rekti “The Sigit”. Ia juga menambah warna sentuhan vokal rock yang gagah bersama Satria NB pada garapan lagu ini. Dengan harapan kedua karakter vokal yang berbeda dari Satria NB menjadi perekat kolaborasi mereka. 

Projek santai dilanjut pada tahun 2022, yang pada akhirnya lagu ini menjadi berkembang dengan ambient nuansa pop romantis ala tahun 90-an. Dikemas sempurna dengan suara pop-rock milik Satria NB melebur bersama komponen alter ego yang kuat dan berat dari Rekti Yoewono berhasil merangkul lagu ini menuju relung emosional membawa “Dry” semakin bernyawa dan melekat pada persona mereka masing-masing namun tetap mengadopsi elemen romantis pop ala dekade 90-an milik Pure Saturday. Setelah melalui berbagai revisi dan eksplorasi musikal, akhirnya pada tahun 2023, “Dry” memasuki tahap finalisasi sebagai karya yang utuh dan matang hingga tahun 2024. 

“Dry” menghadirkan pengalaman nostalgia bagi para pendengar setia Pure Saturday, sekaligus memberikan dimensi baru yang segar dan memberikan warna yang berbeda, menyatukan energi dari generasi dalam sebuah karya yang indah. Definisi lagu melankolis namun tetap kritis.

Artwork “Dry” dikerjakan oleh Dewi Aditia seorang seniman/pelukis asal Bandung. Artwork ini memiliki visual sebuah makna dari esensi lagu Dry sendiri seperti Pop/Folk-Balad yang berhasil di tuangkan ke dalam kolasi akrilik berwarna dengan sentuhan objek dua ekor burung yang sedang terbang beriringan.

Lagu epik kolaborasi mereka sudah bisa didengar, serentak rilis pada tanggal 24 Januari 2025 di semua platform digital. Sangat cocok mengawali Februari yang masih saja dingin dan acap kali membuat kita termenung. Congrats for that “Dry” dudes! (INQ)

Production Credits:
Executive Producer: Labirin Records
Music Producer: Ade Purnama, Rektivianto Yoewono, Arief Hamdani & Satria Nurbambang
Recording Engineer: Loevi Wahyudi, Sofyan Effendi & Indra Adhikusuma
Mixing Engineer: Loevi Wahyudi & Indra Adhikusuma 
Mastering Engineer: Indra Adhikusuma, Loevi Wahyudi
Protools Editor: Arief Saefudin, Indra Adhikusuma 

Vocals: Rektivianto Yoewono & Satria Nurbambang 
Guitars: Rektivianto Yoewono, Rika Faizal Rezza, Ade Purnama, & Arief Hamdani 
Bass: Ade Purnama 
Drum: Sony Mulyana 
Artwork: Dewi Aditia 
All tracks Recorded, mixed & mastered at Binaural Studio, BandungUp