Dari kedalaman Bantul, Yogyakarta sebuah band yang diam-diam menyimpan potensi melalui resonansi radikalnya, Everyday Nabati band yang kini berdiri lebih tegap dengan EP perdana mereka bertajuk “Ameliorasi”. Lima trek yang berisi keresahan terhadap realitas kehidupan, ditarik dari kisah pribadi dan kolektif kemudian menjelma menjadi sebuah metamorfosa sonik. Dirilis dengan gagah pada tanggal 11 Februari 2025.
Makna Ameliorasi dan Sebuah Langkah Baru
Bak sebuah pondasi, band ini menyusun kerangka lama dan merakit ulang dirinya. Setelah dua single awal “Munafik” dan “Sesal” yang masih mencari arah, EP ini hadir seperti vibrasi dan semangat baru. Disinilah mereka menemukan nadir dalam lima lagu yang tajam secara emosional dan lebih agresif secara musikal. Ada “Petarung” dengan kisahnya melawan dunia, “Pesta Pertemanan” yang kental dengan punk rawk-nya, “Harapan Baru” tone nada yg sedikit rintik namun memiliki lirik yang mengajak untuk tetap berdiri di kaki sendiri, sesulit apapun itu. Untuk lagu “Melambung Tinggi” berisi keluhan tentang harga yang saat ini melambung tinggi. Dan lagu terakhir “Terbit” yang segar dengan melodik punknya.
Mereka tak menyuapi pendengar dengan formulasi pop punk manis ala MTV. Yang mereka bawa adalah gabungan raw energy dan disonansi khas Japanese pop punk, lalu ditarik lebih dalam oleh atmosfer emo dan diberi semburan melodi heavy punk rock. Hasilnya? Sebuah soundscape yang masih jarang terdengar di belantara musik Indonesia, namun memiliki peluang besar bagi para pendengar musik yang memiliki punk rock taste yang kuat.
Ada sedikit sentuhan Totalfat, nuansa getir seperti Ling Tosite Sigure, dan melodik yang resisten dari The Used atau Silverstein. Tetapi dikemas lebih otentik ala-ala band melodik punk lokal.
Formasi Baru, Energi Baru
Dengan formasi terbaru Nibras (vokal), Alfian (bass), Rangga (lead guitar), Dimboy (rhythm guitar), dan Arya (drum), Everyday Nabati seperti menemukan nyawa baru. Vokal Nibras tak hanya sebatas pembawa lagu berbalut suara, ia gelorakan berapi-api. Sementara permainan gitar Rangga dan Dimboy yang tetap selaras dan harmoni dengan riff-riff kasarnya, disambut dentuman ritmis Arya yang agresif. Lalu peran Alfian menjaga dinamika dan karakter beat lagu, tepat sebagai pelengkap.
“Ameliorasi” bukan hanya sekedar EP. Ia adalah sebuah langkah awal dari sebuah proses. Everyday Nabati bukan band yang hanya serta-merta hadir di kerumunan padatnya industri musik, keresahan mereka ingin didengar dan tersampaikan. Tidak menjual fantasi, tapi mengajak berdamai dengan kenyataan. Dan di masa ketika segalanya serba cepat dan mahal, kejujuran adalah bentuk radikalisme paling murni.
Dengarkan “Ameliorasi” di Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan biarkan ia menjadi soundtrack yang menemani beban realitas yang sedang kau peluk diam-diam. (INQ)
Comments
Tetap Independen, Iksan Skuter Gaungkan Perlawanan Dengan Album Terbaru “Vis A Vis”
Iksan Skuter kembali hadir dan tetap menyuarakan musik perlawanan di jalur independen, jalan yang sunyi yang berani ia jalani layaknya "Serigala Petarung", sebutan yang disematkan oleh dia sendiri. Memasuki album ke-20 (16 full album + 4 album live) album, Iksan Skuter hadir dengan album “Vis a Vis” yang dirilis pada 7 Maret 2025 lalu.
Album ini lahir dari kegelisahan dan kemarahan terhadap ketimpangan serta ketidakadilan yang semakin eksplisit dan terang-terangan terjadi di negeri ini. Idiom “vis a vis” yang berarti face to face atau saling berhadapan muka ini sudah cukup menjelaskan kalo ketimpangan dan ketidakadilan ini terjadi langsung di depan muka semua rakyat negeri ini.
Alih-alih membawa optimisme, ketimpangan yang semakin kasat mata justru membuat keadaan negara semakin gelap hingga muncul hashtag #indonesiagelap di media sosial. Iksan Skuter mempersiapkan 11 lagu untuk gaungkan kegelisahan dan kemarahan tersebut, terhadap kondisi Indonesia saat ini.
Ber'GUMAM' Mewakili Vis A Vis
Sebagai single andalan, "Gumam" menjadi representasi utama dari album “Vis a Vis”. Lagu ini mengangkat fenomena pembungkaman kritik dalam berbagai bentuk, baik secara halus maupun kasar, mulai dari intimidasi hingga strategi elit dengan memberikan posisi yang dekat dengan pemerintahan agar lebih mudah diawasi. Dengan nuansa yang lebih segar dan cenderung rock, "Gumam" dibuka dengan intro sederhana yang hanya diisi oleh sequencer dan vokal, menggambarkan kondisi Indonesia yang sunyi dan suram, di mana hanya segelintir orang yang berani bersuara terang-terangan.
Saat verse pertama dimulai dengan lirik "infiltrasi menyusupi", setelah baris terakhir intro "itulah kenyataan politik jadi tunggangan" dan "itulah kenyataan pemuja keserakahan", lagu ini seakan menegaskan bahwa suara-suara yang melawan kesunyian mampu menggebrak ketidakadilan. Synth bass ber-arpeggio yang terus bergerak menghadirkan nuansa gelombang yang mencerminkan suara-suara perlawanan yang semakin lantang. Dengan sentuhan indie rock dan synth rock, Iksan Skuter tetap setia menyuarakan ketidakadilan dan kebobrokan negeri, sembari tetap mengikuti perkembangan zaman. "Gumam" menjadi simbol bahwa satu suara yang terkumpul dapat mendisrupsi upaya pelemahan kekuatan rakyat.
Proses Kreatif Yang Kilat
Proses produksi album “Vis a Vis” terbilang singkat, dilakukan selama Januari 2025 di kediaman Iksan Skuter di Yogyakarta. Album ini direkam dan diproduseri sendiri olehnya, sementara proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Rama Studio Project di Kota Malang.
"Proses rekaman aku kerjakan sendiri, dan relatif cepat selesai kalau tangan sendiri yang memainkan instrumen dan merekamnya. Kalau masalah efisiensi, memangnya pemerintah saja yang bisa efisiensi? Kami musisi yang hidup di Indonesia ya sudah lebih dulu dan lebih lama efisiensi dalam produksi," ujar Iksan Skuter dengan gaya khasnya.
Dengan album “Vis a Vis”, Iksan Skuter kembali mengukuhkan dirinya sebagai musisi yang tak hanya meracik melodi, tetapi juga tetap lantang dalam menyuarakan kritik sosial. Perilisan album ini juga di sela-sela produksi bersama proyek band terbarunya Bagava baru saja rilis album Klandestin dan lepas tur "Safari Ramadhan" bersama Trio Lesehan yang dibentuknya bersama Jason Ranti dan Bagus Dwi Danto.
Simak Album “Vis a Vis” yang funky, telah beredar disetiap platform kesayanganmu! Congratulation! (INQ)
Comments
The People Of The Sun Konfirmasi Kolaborasi Bareng Naykilla Lewat Single “Two Tickets”
The People of the Sun (POTS) dengan bangga mengumumkan perilisan single terbaru mereka berjudul "Two Tickets", yang menjadi bagian dari album perdana yang akan datang. Grup rock asal Surabaya tersebut konfirmasi kolaborasi bareng penyanyi wanita cantik berbakat yang karirnya saat ini sedang memanas, Naykilla lewat karya “Garam dan madu”.
Sebagai single ketiga POTS, "Two Tickets" merupakan lanjutan dari maxi-single yang dirilis akhir 2024. Lagu ini membawa harapan besar untuk menjadi gerbang menuju album perdana mereka.
Di tengah pengerjaan maxi-single "Akal/Bagaimana Jika Gelap", Naykilla diminta untuk mengisi vokal di salah satu trek. Saat itu pula, ide kolaborasi vokal di single "Two Tickets" muncul dan berhasil dieksekusi, membuat lagu ini menjadi kolaborasi pertama POTS dengan musisi lain.
Dengan kolaborasi dan eksplorasi musik yang matang, unit yang digawangi oleh Adria Riswinanda (gitar, produser), Johannes Febrianto Elyas (gitar, vokal), Rahmana Wiradanu (bass, vokal), dan Bimo Putranto Widiyahutomo (drum, songwriter) ini berharap "Two Tickets" dapat menyentuh hati pendengar dan menjadi karya yang relevan bagi siapa pun yang mendengarkannya.
Bimo Putranto Widiyahutomo, drummer POTS, menjelaskan bahwa lagu ini adalah eksplorasi dari berbagai elemen yang telah lama ada.
"Liriknya sudah ditulis sejak 2016 tetapi tidak menemukan tempat yang tepat. Baru di 2022, ketika POTS terbentuk dan kami aktif workshop, ide untuk memasukkan lirik dan vokal muncul. Namun, proses pengerjaannya baru rampung pada 2024 setelah pergantian personil yang membawa semangat baru," ucap Bimo.
Dalam liriknya, lagu ini menghadirkan perspektif seorang pria yang mengungkapkan perasaannya terhadap pasangan, menggambarkan momen-momen kebersamaan yang begitu berarti hingga ia yakin untuk menawarkan "dua tiket hingga akhir dunia"—sebuah kiasan indah untuk mengajak ke jenjang hubungan yang lebih serius.
Proses kreatif dalam penggarapan "Two Tickets" melibatkan seluruh personil POTS, dari para pemain tambahan hingga manajer band yang berkontribusi dalam aransemen. Lagu ini sepenuhnya dikerjakan secara in-house di 912studio, milik gitaris mereka, dengan dukungan Naykilla, yang turut mengisi vokal. Mixing dan mastering dilakukan oleh Avedis Mutter, menghasilkan kualitas audio yang memuaskan.
Single "Two Tickets" adalah karya dengan nuansa soft, mengurangi elemen elektronik dan lebih fokus pada pendekatan organik. Lagu ini mencerminkan proses kreatif yang jujur, tanpa banyak intervensi distorsi, dengan aransemen vokal yang memberikan kesan emosional mendalam.
Perjalanan Singkat POTS
Setelah merilis EP pertama pada 2023 dan menjalani tur mandiri di tahun yang sama, POTS mengalami pergantian personil yang membawa pengaruh pada gaya bermusik mereka. Dengan mengurangi elemen synth dan elektronik, POTS kini memilih pendekatan musik yang lebih organik dan "ngeband".
Pergantian ini membawa vibrasi segar bagi proses kreatif mereka, termasuk dalam penyelesaian single "Two Tickets". Di single ini, mereka terus menunjukkan perkembangan karakter musik dengan menghadirkan karya yang lebih menyentuh dan personal.