Satu dekade terakhir mungkin terlalu sayang dilewati tanpa sebuah band reggae dub dari Indonesia yang bisa mengangkat semangat kolektif dengan dengan sikap, Rastakrina Soundsystem sebuah kolektif berisi delapan kepala dari Yogyakarta yang meledakkan debut albumnya “Jahbless Krina” di tahun 2025. Album ini menandai tonggak penting dalam perjalanan musikal band yang terbentuk sejak Oktober 2022 ini.
Mereka meracik sembilan trek di “Jahbless Krina”. Di tengah stagnasi banyak rilisan reggae lokal yang sekadar sound system tanpa substansi, Rastakrina memelintir harapan dengan energi dub dan delay, mengangkat berbagai tema sosial yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Mulai dari keberanian menantang ketimpangan yang membusuk di akar rumput, sindiran tajam bagi mereka yang lantang di kata namun lumpuh dalam tindakan, hingga kemarahan yang tertahan terhadap rezim mafia tanah yang mencuri tanah-tanah hidup. Di antara bara itu, ”Jahbless Krina” juga menyelipkan ajakan untuk merayakan kenangan, membangun kebersamaan, dan perlahan berdamai dengan realitas yang tak selalu ramah.
Seluruh amarah dan harapan itu dibalut dalam lanskap reggae dub sebagai fondasi, dipelintir dengan aroma roots dan sentuhan Jamaican ska yang membuat setiap trek punya suhu dan denyutnya sendiri. “Jahbless Krina” ajakan untuk saling menopang, bertahan dalam kebenaran tanpa saling menjatuhkan, percaya bahwa meski jalan berliku, Tuhan tak pernah meletakkan langkah manusia secara sembarangan.
“Lucu Negriku” dan “Penindasan” hadir dengan protes yang tak sudi dibungkam dan sebuah dentuman untuk negeri yang retak. Di sisi lain, “All of The Time” dan “Never Forget” membuka pintu-pintu kenangan tentang lagu-lagu yang menoleh ke belakang bukan untuk terjebak, tapi untuk mengingat bahwa memori bisa diasah jadi senjata. Di antara gemuruh sosial, album ini juga sangat menyentuh hal personal. Sebab berdamai dengan kenyataan bukan berarti menyerah, tapi belajar mengatur ulang strategi bertahan, ya hari demi hari.
Alih-alih terjebak dalam kekakuan dan standar “produksi”, “Jahbless Krina” justru menghadirkan pendekatan unik dengan memadukan rekaman studio dan live recording, memberikan nuansa autentik dari pengalaman panggung Rastakrina Soundsystem sejak 2023.
Rastakrina mengeksplorasi sound yang lebih kaya dengan instrumen-instrumen seperti trombone, djimbe, dan kolaborasi dengan alat musik tradisional. Pada vokalis ada Andreas Saragih yang menyerang lirik dengan kesadaran sosial. Faiz Yusuf memeluk gitar dengan groove keras kepala. Brema Sembiring, sang selecta, mengurus delay dan sirene seperti juru mantra. Bass dari Nicholas Siahaan, drum sendiri digebuk oleh Rawang Asman, dan trombone Jose Martianomempertebal kabut sonik. Tambahan djimbe Igo Kaba dan bantuan teknis dari manajer Chandra
Adapun kolaborator seperti Galuh Ihsan Nazar dengan petikan Kecapi Sunda yang mistis, Ghefira dengan vokal yang mengiris senyap, hingga parade saksofonis yang meniupkan angin liar ke dalam aransemen—semua hadir membawa napas baru. Genre-blending dalam album ini merupakan sebuah usaha untuk menyatukan tradisi dan distorsi dalam satu ruang dengar yang utuh, kompleks namun menyentuh!
Tunggu apa lagi? Putar “Jahbless Krina” sekarang juga. Biarkan vibrasi dari Warkop Tuwuh dan dentuman dari musiknya merayap ke dalam jiwamu (INQ)