Kolaborasi Lintas Pulau: Tansyah feat Arulissaa "Perihal Waktu"

Categories: Music

Share
Solois muda asal Cikampek, Karawang, Tansyah kembali merilis single terbarunya "Perihal Waktu" bersama musisi muda berbakat asal Gorontalo Arulissaa sebagai teman duetnya.
Single dengan nada intro yang bernuansa Indonesia banget ini Tansyah mencoba mengekspresikan diri dengan mengeksplorasi musiknya lebih dalam. Sebelumnya solois ini merilis EP Menuju Titik Temu pada 2024.

Proyek Kolaborasi Jarak Jauh

Dari Cikampek ke Gorontalo berjarak 2.605 km tak membuat Tansyah gentar untuk berkarya dan mengajak Arulissaa untuk berkolaborasi, sehingga mereka saling kirim file saat proses produksi. Tansyah juga menjelaskan awal perkenalannya dengan Arulissaa "Awal gue kenal Arulissaa kita saling follow di IG, dan juga DM-DMan lalu kami lanjut ke WhatsApp dan akhirnya ya ngobrolin projekan ini siih." Ucap Tansyah. 

Perihal Waktu bagi Tansyah menjadi sebuah penanda dan pembuka bagi perjalanan karir musiknya. Single ini ditulis dan diaransemen oleh Tansyah, serta memiliki makna yang begitu dalam. Lagu tersebut bercerita tentang sebuah peran seseorang dalam hidup kita yang datang dan pergi silih berganti. Tansyah menyelipkan pesan dalam lagu ini bahwa kita harus tetap menatap kehidupan yang ada di depan sana, mengikhlaskan sesuatu memang tidak bisa dipaksakan, sebab pada akhirnya semua hanya datang dan pergi.

Dikemas Dengan Nuansa Berbeda 

Perpaduan antara musik indie pop dan alternative yang dikemas dengan nuansa lebih gloomy meskipun essentials pop nya masih kuat sekali, single ini sedikit berbeda dengan konsep EP sebelumnya yang lebih ke arah indie folk, meskipun begitu namun lagu ini tetap easy listening untuk dinikmati sambil menyeduh kopi di sore hari. Single Perihal Waktu sudah tersedia di semua Digital Platform Streaming sejak 27 Juni 2025. Dengarkan dan nikmati karya Tansyah feat Arulissaa yang satu ini guys!!! (RCAF)

Steps Behind Mencoba Gebrakan Baru Bersama Sansan “Pee Wee Gaskins” Bertajuk “Empty Page” Hasilnya Diluar Dugaan

Categories: Music

Share
Langit Jakarta belum sepenuhnya gelap. “Empty Page” dari Steps Behind hadir bak hantaman pertama setelah sunyi lumayan lama. Single ini membawa vibes yang cukup berbeda dari biasanya, emosional yang kental, dan menggema dari kepala-kepala yang kehilangan arah.

Kehadiran Fauzan “Sansan” dari Pee Wee Gaskins memberi warna yang lebih mengguncang. Vokal khasnya membawa dinamika geram dan mentah, memberi tekanan emosional yang mendalam sesuai dengan karakter suarnya. Diluar dugaan tidak hanya sebagai kolaborator, tetapi juga menjadi katalis emosi yang menuntun lagu ini ke sebuah proses menuju Steps Behind yang baru. 

Menariknya proses rekaman vokal juga berlangsung di Jejak Digital Records bersama Chandra Erin (Sunrise/KILMS), sementara urusan mixing dan mastering diolah oleh Fakhri Nurluthfi dari RFNP Records. Setiap detail dalam lagu ini dirancang untuk menjaga energi presisi Steps Behind itu sendiri. Masih dengan formasi yang sama Alessandro W (vokal), Fakhri Nurluthfi (Gitar dan Vokal), Muhammad Afrizal (gitar), Bagja Satria (bass) dan Sigit (dram).

Untuk lirik ditulis langsung oleh sang vokalis Alessandro W yang dikenal dengan sapaan Ale dan Taufik Maulana(NVNA), lagu ini menyuarakan keresahan yang akrab yaitu sebuah krisis identitas dan kepercayaan diri yang remuk akibat trauma yang terus membekas. Lirik-liriknya terasa seperti isi jurnal seseorang yang enggan dibaca siapa pun, namun justru menyentuh banyak jiwa yang sedang berproses. Dimana kebanyakan orang merasakan kehilangan jati diri, kehilangan perasaan mencintai dan juga krisis kepercayaan karena berbagai trauma yang telah dilewati mereka.

“Empty Page” memberi ruang bagi pendengarnya untuk memproyeksikan luka-lukanya sendiri. Setiap ketukan, setiap distorsi, adalah tempat berlindung bagi mereka yang sedang merasa goyah namun tetap ingin berdiri. Lagu ini terasa seperti teman seperjalanan, hadir di tengah gelap yang belum tahu kapan reda, namun tidak pernah benar-benar sendiri.

Lagunya sudah bisa didengar oleh kita semua di seluruh digital platform resmi milik mereka, sekali lagi congratulations! there was great colaboration (INQ)

  • Berkolaborasi Bersama Musisi Amerika, JVSAN Gandeng Gazeng Bertajuk “Limerence” Gaungkan Pesan Untuk Tidak Menyerah

Categories: Music

Share
Di tengah gempuran arus industri musik yang kian kalkulatif, hadirnya “Limerence” dari JVSAN, yang kali ini berkolaborasi dengan penyanyi asal Las Vegas, Gazeng. Apa jadinya jika kesedihan, ketakberdayaan, dan secercah harapan diracik dalam satu komposisi? Jawabannya ada di “Limerence”. Yang pada hari ini tanggal 18 Juli 2025 dirilis, dibawah naungan label FAM 88Rising.

Memanifestasikan Duka dan Harapan dalam Nada

Sebuah bagian dari proyek JVSAN tahun ini, merilis his own legacy setiap bulannya “Limerence” tepat menjadi single ketujuh, melanjutkan jejak rilisan sebelumnya seperti “Ephemera”, “Campfire”, hingga “Sonder”. Namun dibanding karya-karya sebelumnya, “Limerence” lebih personal dan relate dengan kehidupan sehari-hari. Lagu ini seperti medium tenang yang mengajak pendengar menyelami rasa lelah, kehilangan, dan keinginan untuk berhenti kemudian perlahan merangkul mereka untuk tetap bertahan.

Secara tema, lagu ini membicarakan depresi dan putus cinta, tapi dengan pendekatan yang lebih lembut. Lewat kesederhanaan lirik dan suara yang tulus, “Limerence” terasa menyentuh dan personal. Gazeng-pun ikut andil memberikan warna baru seolah ia bertugas menyemangati dengan tenang.

“You’re going through your darkest days / I know what you wanna say / ‘Oh you think that you could save me?’ / Don’t give up, don’t give up!”

Penggalan yang terdengar nyaman dari seseorang yang tak menghakimi, hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri.Limerence” menawarkan teman seperjalanan bagi siapa pun yang sedang mencari cahaya di tengah gelapnya hari-hari.

Sejatinya “Limerence” mengajak kita untuk menyadari bahwa luka pun bisa bersuara. Lagu ini hadir sebagai sapaan hangat dari seseorang yang tahu bagaimana rasanya tersesat, kepada siapa pun yang masih bertahan.

Produksi sebagai Ruang Psiko-Emosional

JVSAN merancang pengalaman emosional. Setiap elemen musik dari harmoni yang dibangun perlahan, hingga keheningan kecil terasa seperti bagian dari narasi yang ingin ia sampaikan. Musiknya menjadi ruang aman, tempat rasa sakit bisa hadir tanpa harus disembunyikan.

Kolaborasinya dengan FAM 88rising juga membawa misi yang lebih luas. “Limerence” menjadi sebuah misi gerakan kolektif untuk memperluas representasi musisi Asia, termasuk Indonesia, di panggung global. Di industri yang kerap memberi sorotan pada suara-suara dominan, kehadiran lagu ini membangun dari pinggir panggung dengan lirih dan bermakna.

Gaungkan Pesan Untuk Tidak Menyerah

Sejak mulai menulis lagu di tahun 2020, JVSAN yang lahir di Jakarta kemudian tumbuh dengan disiplin musik klasik sejak kecil dan kemudian memperdalam ilmu komposisi secara akademik. Namun, pilihannya untuk tidak terjebak dalam pola yang “laku secara lokal” menjadi bukti konsistensinya dalam menciptakan karya yang otentik.

“Semua orang memberi tahu saya bagaimana sekelompok orang di industri ini memulai dengan mengeluarkan barang-barang yang akan laku di Indonesia. Idealnya, itu akan membuat Anda lebih populer dengan lebih mudah, tetapi saya tidak ingin memasuki industri musik dengan cara itu.” ungkapnya.

Pernyataan ini menegaskan posisinya sebagai seniman yang mencoba merefleksikan dualitas emosionalnya, bergerak dari introspeksi yang gelap dan berjuang ke jenjang lebih baik meskipun perlahan. "Limerence" adalah pesan bagi siapa pun yang berada di ambang kehancuran bahkan dikondisi terburuk mereka dengan lembut mengingatkan untuk tidak menyerah, seseorang itu masih percaya kita semua dapat melewatinya.

Dentuman pengingat di tengah kesunyian yang paling pekat, mereka menyampaikan pesan lewat kalimat majemuk dengan indah bermaksud untuk “jangan menyerah.”

Menuju Sebuah Epilog Bernama Album

“Limerence” juga memberi isyarat halus tentang arah langkah JVSAN selanjutnya: sebuah album penuh yang direncanakan untuk menutup tahun 2025. Jika lagu-lagu sebelumnya ibarat kepingan cerita yang berdiri sendiri—emosi yang tercecer di sepanjang waktu—maka album nanti mungkin adalah rumah tempat semua itu bertemu, utuh sebagai satu perjalanan.

Dengarkan “Limerence” yang sudah bisa didengarkan serentak di platform musik digital milik mereka. Dan rasakan vibesbaru yang mungkin bisa menjadi ruang syahdu tersendiri untukmu. Congratulation! (INQ)