Zevakx Mengguncang Skena Hip-Hop dengan Album Debut "Slengean"

Categories: Music

Share
Rapper independen asal Karawang, Jawa Barat, Zevakx, siap menggebrak kancah hip-hop lokal
juga nasional dengan album debutnya, "Slengean". Dirilis secara independen, album ini menjadi penanda awal perjalanan Zevakx untuk memperkenalkan ciri khas musik rap-nya kepada pendengar yang lebih luas. Dengan energi yang lugas dan lirik yang jujur, "Slengean" adalah pernyataan berani yang membuktikan bahwa Karawang juga punya tempat di panggung rap Indonesia.

Album "Slengean" berisi 13 lagu yang seluruhnya ditulis oleh Zevakx sendiri. Setiap lagu bukan hanya sekadar trek, melainkan potongan kisah nyata yang dikemas dalam beat rap yang agresif namun penuh emosi. Dari awal hingga akhir, album ini dirancang sebagai perjalanan musik yang intens, menampilkan sisi keras kehidupan jalanan hingga sudut paling personal dalam diri Zevakx.

Album ini lahir dari denyut nadi kehidupan anak muda di Karawang, tempat Zevakx merangkum beragam pengalamannya. Kehidupan jalanan menjadi latar belakang utama, tetapi ia tidak berhenti di sana. Zevakx memadukan kisah-kisah keras tersebut dengan pergulatan batin yang lebih dalam, seperti cerita tentang patah hati, kecemasan, dan pertanyaan-pertanyaan yang sering menghantui anak muda. Perpaduan ini membuat "Slengean" terasa relevan, keras di permukaan, tetapi menyimpan kedalaman yang jarang ditemukan dalam rilis rap independen.

Proses kreatif album ini dimulai pada Februari 2025 dan rampung pada Juni 2025. Seluruhnya dikerjakan secara mandiri di studio rumahan yang ia beri nama Yeaingstudio. Di sinilah setiap beat dan lirik disusun tanpa campur tangan label atau produser besar. Keterbatasan justru menjadi ruang eksplorasi, memungkinkan Zevakx bebas bereksperimen dengan flow dan aransemennya, memastikan setiap lagu punya identitas yang kuat sesuai visi awalnya.

Dari total 13 lagu, Zevakx memilih "Jangan Tanya (feat. Obyrins)" sebagai single andalan yang merefleksikan sikap tegasnya dalam menghadapi pandangan orang lain. Sementara itu, lagu "Jaga Diri (feat. Whereisryo)" menjadi trek paling personal, terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat menghadapi masa-masa sulit. Kedua lagu ini menunjukkan keseimbangan tema yang diusung "Slengean": sisi keras kehidupan jalanan dan sisi emosional seorang anak muda.

Dalam meracik "Slengean", Zevakx banyak terinspirasi oleh musisi rap internasional seperti Playboi Carti, Yeat, YoungBoy Never Broke Again, dan Nosgov. Dari mereka, ia menyerap energi dan cara membangun karakter suara yang khas, lalu mengolahnya dengan perspektif pribadi. Hasilnya adalah album yang tidak sekadar meniru, melainkan menciptakan identitas baru yang berakar dari pengalaman hidupnya sendiri. Melalui "Slengean", Zevakx ingin membuktikan bahwa rap bisa menjadi medium untuk menyuarakan realitas jalanan sekaligus pergulatan batin yang lebih dalam.

Album "Slengean" akan resmi dirilis pada 22 Agustus 2025 dan tersedia di seluruh platform streaming digital, mulai dari Spotify, Apple Music, hingga YouTube. Dengan perilisan ini, Zevakx berharap musiknya bisa menjangkau pendengar yang lebih luas dan membuka mata publik bahwa skena rap independen Karawang layak mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan kota-kota lain di Indonesia. (INQ)

“Romantic Misery” dan “3 AM”, Manifesto Lumeenals Melawan Sindrom Malas dan Abu Kota

Categories: Music

Share
Unit indie asal Serang yang digawangi oleh Sakti (gitar dan vokal), Gibran (Gitar dan vokal), Ichlasul (gitar akustik dan vokal), Dwi (bass) dan Fajri (drum) atau dikenal dengan Lumeenals, resmi merilis maxi single terbaru mereka yang berisi dua nomor segar berjudul “Romantic Misery” dan “3 AM.” Dua lagu ini menjadi penanda fase baru band setelah merilis EP Membiru (2023), sekaligus menghadirkan karya yang lebih matang.

Bagi Lumeenals, romansa bukan sekadar perkara cinta, bunga ataupun rayuan. Romansa adalah kegelisahan yang telanjang: rasa sakit yang tak terjawab, malam yang tak kunjung selesai, dan pertanyaan hidup yang hanya bisa dipeluk. Lewat Romantic Misery dan 3 AM, mereka menggambarkan kesepian sebagai jam biologis dalam tubuh yang letih, namun pikiran yang terus berseliweran.

Namun, proses di balik maxi single ini tidak mudah. Seperti halnya sistem kolektif lainnya, Lumeenals sempat terjebak dalam “sindrom tangan buntung”—metafora untuk sikap malas, ketika ide hanya dilempar tanpa respon. Alih-alih kandas, sindrom itu justru melahirkan proses terseok dan tarik-ulur yang pada akhirnya menghasilkan dua lagu yang lebih otentik.

Latar kota Serang menjadi konteks yang tak terpisahkan. Di tengah panas, polusi, dan sinisme urban, Lumeenals membuktikan bahwa musik masih bisa tumbuh. Seperti tanaman liar yang muncul di retakan beton, Romantic Misery dan 3 AM menjadi bukti bahwa bahkan di kota dengan abu sekeras ini, masih ada ruang untuk bernapas dan bertahan.

Maxi single ini adalah manifesto Lumeenals sebuah perlawanan kecil terhadap sindrom malas dan absurditas kota. Bahwa romansa masih bisa menjadi strategi bertahan hidup, dan bahwa pertumbuhan sejati sering kali lahir justru dari kerikil-kerikil kecil yang tak terlihat.

Maxi single ini tidak hanya menambah catatan perjalanan band, tetapi juga menandai pertumbuhan sebuah skena. Bahwa musik di Serang bukan sekadar mengejar eksitensi, melainkan proses menemukan identitas. Lumeenals—dengan segala kerentanannya—sedang menuju kematangan. Dan lewat Romantic Misery serta 3 AM, yang sudah dapat didengarkan dan bisa disimpan dalam playlist diseluruh digital platform favoritmu! (INQ)

Comeback Mengejutkan, Fletch Rilis “Zarah” Single dengan Pesan Sejati yang Bikin Merinding

Categories: Music

Share
Setelah merilis single terakhir pada 2023, Fletch kembali menghidupkan langkahnya di dunia musik lewat karya terbaru berjudul “Zarah”. Single ini menjadi simbol kembalinya energi kreatif sekaligus menegaskan kematangan secara musikal. Fletch—yang digawangi oleh Richard (vokal, gitar), Danti (ukulele), Ridla (vokal, keyboard), Naufalia (bass), Amanda (biola), dan Ade (drum)

Fletch tidak sembarangan memilih judul “Zarah.” Dalam bahasa Arab, kata ini merujuk pada zat atau partikel terkecil. Dalam Al-Qur’an, ia hadir sebagai pengingat bahwa sekecil apa pun amal maupun dosa, semuanya tetap akan mendapat balasan. Makna tersebut kemudian Fletch wujudkan dalam bentuk musikal, menjadikannya fondasi konseptual dari single terbaru mereka.

“Lagu ini berisikan peringatan hingga sindiran tentang kehidupan yang sebenarnya sering kita
dengar namun kerap kita abaikan” ucap Ridla, keyboardist sekaligus penulis lirik “Zarah”. 

Ridla bercerita bahwa proses penulisan lagu ini lahir dari perenungan yang mendalam, sebuah refleksi diri. Rangkaian kalimat yang tercipta awalnya ia tulis sebagai pesan pribadi untuk dirinya sendiri, sebelum akhirnya berkembang menjadi sebuah lagu  benar-benar bermakna.

“Harapannya, Zarah bisa jadi pengingat sekaligus tamparan halus soal hidup yang sering kita anggap remeh” tambah Ridla.

Secara musikal, “Zarah” hadir dengan warna yang lebih matang. Lapisan-lapisan instrumen terjalin lebih intim: petikan ukulele yang ringan, gesekan biola yang menyusup halus, dentuman drum yang kokoh mengikat, hingga vokal yang menyiratkan wejangan dengan tegas. Vibrasinya mampu membuat pendengar sejenak menunduk, merenung, dan kembali mengingat kefanaan hidup.

Rangkaian nasihat yang bergetar begitu dalam, berpadu dengan harmoni musik yang menyelubung, membuat siapapun yang mendengarkan sukses dibuat merinding.

Fletch menyebut “Zarah” sebagai tanda bahwa mereka masih berdiri dan berkarya. Single ini menjadi pembuka jalan mereka comeback sebagai lineup di beberapa perhelatan musik di bulan Agustus ini.

Mulai hari ini 20 Agustus 2025, “Zarah” sudah bisa kamu dengarkan di semua platform digital. “Zarah” sebuah partikel kecil yang mampu menyalakan kesadaran lewat telinga kita. Congratulations! (INQ)