Yuhuu fren! Buat kalian yang nungguin rilisan album yang segar di scene musik Indonesia terutama pada genre math rock/ midwest emo, maka kamu wajib pantengin salah satu band jagoan dari Malang, The Polar Bears. Band ini baru aja meluncurkan album perdana mereka yakni, “Threadbare” pada bulan September kemarin dan udah bisa streamingeksklusif di semua music platform dan Bandcamp lewat label indie Malang, Haum Entertainment sejak 20 September 2025.
By the way, nama band mereka ternyata inspired by sama salah satu lagu legenda Midwest Emo, Tiny Moving Parts, yang judulnya "Polar Bear” So, bisa ditebaklah music influence mereka kuat banget dari para jagoans genre ini kayak Covet, CHON, Free Throw, sama American Football. Kalo di Indonesia pastinya wajib ada Eleventwelfth dong, hehehe.
Band Trio yang terdiri dari Yudhistiro Lilo Pambudi (Guitar/Vocal), Reffyga ‘Pey’ Pratama Yudana (Bass/Vocal), dan Marcellino Gibrany (Drum/Percussion/Vocal) ternyata awal bikin The Polar Bears tahun 2022 itu cuma sebagai proyek iseng belaka lho! Tapi seiring dengan berjalannya waktu, sekarang band ini udah jadi band solid dengan satu visi yang relate banget buat nemenin kita-kita yang lagi melewati fase quarter life crisis. Vibesnya tipikal Midwest Emo/Math Rockyang twinkly banget, dengan guitar chops yang variatif plus vokal yang gritty tapi tetep melodius. Trust me, buat kalian yang suka dengerin aliran ini, rasanya kayak ketemu long-lost sibling dari Amrik sono!
Album “Threadbare” milik para Beruang Kutub ini sejatinya kayak diary digital yang isinya curhatan emosional seputar jatuh cinta, patah hati, hingga suka duka fase kedewasaan, dan arti self-reflection. Lewat 10 lagu yang disusun secara naratif, kita diajak nyebur kedalam aransemen musik yang twinkly dan lirik yang dalem banget. Tracks yang wajib kamu pantengin di album Threadbare: “More than You Can Chew”, “Cold Feet” sama “Being Alone Means...” Oh iya, lagu yang judulnya “524” juga keren tuh karena liriknya satu-satunya yang bahasa Indonesia di album tersebut.
“Di umur middle age 20’s ini, kami ngerasa proses hidup emang harus lewatin momen senang dan sedih buat bikin kita jadi pribadi yang lebih matang. Dan semua itu tertuang secara kompleks di album Threadbare sesuai sudut pandang kami sendiri,” jelas Reffyga.
Nah untuk proses produksi albumnya juga pure independent banget! Mereka ngumpulin lagu-lagu buat bikin album ini sejak 2024 sampe 2025 via home recording di beberapa studio hingga terkumpulah 10 tracks yang menjadi karya final di album “Threadbare”. Asli semuanya dikerjain sendiri seadanya, tapi hasilnya aesthetic banget pokoknya!
“Kami sadar produksi album butuh resource yang nggak murah, jadi kami bagi tugas dan bikin sebagian lewat pendekatan rekaman rumahan,” tambah Marcel.
Kesimpulannya, Album “Threadbare” milik The Polar Bears adalah sebuah rollercoaster emosi dimana perpaduan kerumitan instrumen teknikal yang memukau otak, lirik yang berkisah secara jujur dan vokal yang berteriak menyentuh jiwa. Sungguh sebuah pengalaman yang melelahkan secara emosional namun juga menghibur.
Kondisi sebuah pelarian yang justru membuat kita berhadapan dengan perasaan sendiri, dan akhirnya merasa lebih ringan dan tidak sendirian setelahnya setelah mendengarkan album ini..
Jadi, buat kalian yang lagi cari soundtrack jatuh cinta atau sebuah catatan emosional ketika tumbuh maupun terluka, wajib dengerin lagu - lagu mereka. Pejamkan mata sejenak dan rasakan sensasi makna dari semua lagu di Album “Threadbare”, The Polar Bears. Congratulations! (INQ)