Knucklechain dan Monumen Amarah Bernama "A King to Nothing"

Categories: Music

Share
Bayangkan sebuah palu godam yang diayunkan tepat ke telinga bersamaan dengan kebisingan mesin chainsaw industri yang menggilas besi tua dibungkus kuat kemarahan yang begitu personal sambil bergoyang two step ala sentimental Groovy Beatdown Hardcore. Seperti itulah kira-kira pengalaman pertamamu ketika mendengar debut album Knucklechain, "A King to Nothing".

Knucklechain, unit metallic hardcore beatdown asal Yogyakarta ini tidak main-main dalam menggarap album debutnya. Setelah sekian lama bergaung di bawah tanah, mereka akhirnya meluncurkan album perdana yang bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah manifesto. Sebuah album penuh teriakan ditengah pesta pora kehancuran dunia.

Album yang diproduseri oleh Bugis Putra punya premis yang ambisius yakni sebuah refleksi tentang manusia yang diberi mandat sebagai "penguasa" di bumi, tapi justru menjadikannya puing-puing tanpa masa depan. Kita adalah raja sebenarnya yang tak punya kerajaan, pemimpin yang gagal memimpin dirinya sendiri dan rakyatnya.  "A King to Nothing" adalah judul yang sinis dan pas.

Secara musikal, Knucklechain tidak menawarkan kompromi dan memang sengaja album ini dirancang untuk menghancurkan. Riff gitar Aziz dan Reza berat, kotor, dan menggerus seperti gerinda tanpa ampun. Betotan Bass Priayang berpacu dengan gebukan drum Andjas cepat, tajam, dan meledak-ledak bagai rentetan tembakan. Dan di atas semua itu, ada vokal Bintang yang bukan sekadar menyanyi, melainkan meneriakkan mantra-mantra keputusasaan. Suaranya mencabik, penuh sakit, seolah ia adalah juru bicara dari semua kekecewaan yang terpendam.

Lagu seperti "Bring you to hell" yang menampilkan Nvndtgr adalah puncak dari kemarahan itu.  Bagaikan kutukan yang dilantangkan langsung untuk para penguasa dan penindas. 

Namun, dibalik teriakan itu ada sebuah pengakuan yang jujur seperti yang tersirat dalam press releasenya, kemarahan ini bukan hanya untuk "mereka", tapi juga untuk "kita", untuk "aku", dan untuk diri Knucklechain sendiri. Ada elemen introspeksi yang membuat amarah mereka terasa lebih dalam dan tidak sekadar latah pada album ini.

Menariknya, Knucklechain tidak hanya merilis album. Mereka langsung membungkusnya dengan tur promo bertajuk, "90° FATAL OVERHEAT". Sebuah tema perjalanan yang menggambarkan situasi dimana mesin-mesin kemanusiaan yang sudah kegerahan dan bersiap untuk meledak!!! Jadwal tur mereka akan menjangkau Jakarta hingga Bali, dari Oktober hingga Desember 2025 adalah bukti keseriusan Knucklechain membawa "monumen amarah" ini langsung kehadapan penikmatnya. 

Bayangkan kekacauan dan kebrutalan di lantai moshpit ketika lagu-lagu ini mulai bergema keras. Karena itu bukan lagi sekadar panggung, melainkan sebuah ruang emosi diantara celah kegelapan.

"A King to Nothing" adalah album untuk mereka yang pernah merasa muak, frustasi, dan terasingkan di dunianya sendiri. Knucklechain berhasil mengubah perasaan-perasaan negatif itu menjadi 9 tracks lagu penuh energi yang jujur, brutal tapi agak mengerikan.

Pada akhirnya, album ini adalah pengingat dibalik segala ilusi kuasa dan kontrol kita semua, pada akhirnya, hanyalah A King to Nothing

Overall, Knucklechain berani membisikkan distorsi keras ke telinga kita. Hellyeah!

"A King to Nothing" sudah dapat di-streaming di Spotify. Ikuti perjalanan chaos mereka di Instagram @knucklechain__  Congratulations! (INQ)

ASHN Rilis Debut Full Album "Waves in Two" Terinspirasi Game Horor Silent Hill

Categories: Music

Share
Buat kalian para pencinta musik shoegaze dan alternative rock, perkenalkan ASHN, unit band asal Bandung yang dikenal dengan vibes dreamy dan melancholic-nya. Salah satu band pilihan BVCKLE SMIGGLE, akhirnya ngerilis album perdana bertajuk "Waves in Two" pada awal Oktober 2025 kemarin. Momen tersebut merupakan yang ditunggu-tunggu setelah mereka udah cukup lama bikin demo dan single yang akhirnya muncul dengan album penuh dalam mewakili ekspansi artistik dan langkah maju memperkenalkan ASHN kepada khalayak yang lebih luas.

ASHN dibentuk pada tahun 2022 silam yang terdiri dari Bryan Arkan (gitar), Nafisa Almira (vokal), Bryan “Popon” Pongtiku (vokal dan gitar), Rafi Azani (bass), dan Irfan Al Hafizh (drum). Bryan Arkan memimpin penulisan lagu dan bertindak sebagai  produser  utama  album,  didukung oleh Irfan, Popon, Nafisa, dan Rafi dalam berbagai aspek penulisan lagu dan produksi.

Album “Waves In Two” yang berisikan 10 lagu yang siap membawa kita menyelami berbagai lautan perasaan sedih, senang, melankolis, cinta, sampe kesepian yang amat dalam. Semuanya dibungkus dengan narasi suara yang immersivedan kohesif. Karakter low key, drum beat dan distorsi gitar berat pada beberapa lagu seperti Farewell, Knife, Waves in Two dan In Circles cukup membuat lagu dialbum ini menjadi unik dan berbeda dari unit shoegaze lain. Selain itu ciri khas duet vokal yang terdengar samar ikut memperkuat karakter musik ASHN yang secara sadar ingin menciptakan atmosfer kegelapan yang introspektif dan kontemplatif dengan kesan melankolis yang kuat. Judul "Waves in Two" sendiri dipilih sebagai nama album karena dianggap paling mewakili identitas musik dan lirik ASHN.

Nah, buat yang suka sesuatu yang eksperimental, ada satu lagu yang kolaborasi sama unit elektronik Ftlframe pada laguEndless sangat layak untuk dinikmati saat sedang ingin chillin, merasakan ketenangan atau sekedar menikmati sensasi mendalam dan menerawang pikiran kita.

Inspirasi utama album ini selain dari pengalaman pribadi juga berasal dari salah satu game horror yaitu Silent Hill yang memiliki begitu banyak karakter ikonik dengan tema psikologis yang mendalam seperti dosa (sin), penebusan (redemption), dan penerimaan (acceptance). No wonder kalau album ini punya nada yang gelap, dreamy dan atmospheric!

Untuk rencana kedepannya, ASHN bakal gelar showcase pada 1 November 2025 buat merayakan rilisan album ini. Mereka juga lagi pertimbangin buat bikin music video, tergantung ketersediaan sumber daya nantinya. Cant wait fren!

As a final result, "Waves in Two" adalah proyek penuh yang jenius, berani dan jujur dari ASHN. Album ini bukan cuma buat fans lamanya tapi juga sebagai pengenalan buat pendengar baru sekaligus sebagai langkah penting dalam eksistensi mereka di scene musik independen Indonesia yang sangat berbahaya. Hellyeah! (INQ)

THE UPSTAIRS: 24 TAHUN BERSELANCAR DI GELOMBANG WAKTU DAN “SATELIT” YANG KEMBALI MENYALA

Categories: Music

Share
Awal Oktober lalu, tanpa gembar-gembor dan pesta besar, The Upstairs diam-diam meniup lilin ke-24 perjalanan karir bermusik mereka. Sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari era Antahberantah melewati ledakan Semburat Silang Warna, dari panggung kecil di Cikini hingga melintasi batas kota dan generasi. Alih-alih merayakannya dengan kemewahan, band legendaris ini memilih cara yang lebih intim dan penuh makna yaitu dengan menghidupkan kembali “Satelit”, salah satu lagu ikonik mereka.

Bagi Jimi Multhazam sang vokalis, “Satelit” bukan sekadar lagu lama yang diangkat dari lorong waktu. Lebih dari itu sebagai penanda personal pada sebuah titik balik dalam caranya memandang lirik. Di titik itulah ia mulai melihat proses menulis sebagai semacam teater di dalam kepalanya mulai dari menyusun adegan, membentuk ruang, menghadirkan narasi dan rasa sinematik yang kuat. 

“Satelit jadi titik itu buat gue dalam pencapaian lirik yang paling berarti,” tegas Jimi. Dari lagu inilah ia merasa memasuki babak baru sebagai seorang penulis.

“Satelit” pertama kali mengudara di album Energy (2006), sebuah era di mana The Upstairs sedang berada di puncak euforia disko dan new wave. Hampir dua dekade berselang, lagu ini kembali dibaca dengan napas yang sama sekali berbeda. Adalah Rian Ajhi, sang drummer yang menghidupkannya kembali dalam rupa electronic dance yang berdenyut modern. Rian banyak bereksperimen dengan sampling sound yang diolah dan dipadukan dengan tekstur analog. 

“Prosesnya tidak sebentar. Saya benar-benar keseimbangan agar energi elektroniknya tetap terasa dinamis dan hidup, bukan sekadar ritme yang datar,” ungkap Rian.

Hasilnya adalah sebuah versi “Satelit” yang memompa namun tetap terasa hangat. Futuristik tapi jejak nostalgianya tak hilang.

Namun, perayaan ini tidak berhenti pada satu versi saja. The Upstairs ternyata juga menyiapkan “Satelit (V.2)”, sebuah interpretasi akustik bernuansa chamber. Versi ini berawal dari permainan gitar Jimi di studio yang kemudian dikembangkan secara apik oleh Gabby Miranda, sang keyboardist. Gabby menciptakan ruang baru di dalam lagu lama itu kemudian menjadikannya lebih intim dan melankolis tanpa mengikis karakter aslinya.

Menurut Jimi, kedua versi ini adalah cerminan sempurna dari kepribadian musik para personel yang berbeda namun saling melengkapi. 

“Rian punya naluri tajam terhadap musik electronic dance, sementara Gabby punya ketertarikan kuat pada musik klasik dan jazz. Kita bebaskan mereka bikin versinya sendiri. Kalau ini dijadikan rilisan 7 inch, side A-nya remix by Rian Ajhi, side B-nya remix by Gabby Miranda,” Jimi menambahkan.

Untuk visual, The Upstairs mengambil langkah yang tak kalah berani. Video musik “Satelit” digarap dengan berbasiskan Artificial Intelligence (AI) oleh Caezz (AI Artist) dan Ricky Malau (Story). Video tersebut menjadi representasi visual dari bagian interpretasi lagu. 

“AI ini kayak alat buat mewujudkan hal-hal yang dulu cuma bisa ada di kepala. Kita pengen hasil yang dramatis dan bisa memancing perbedaan cara pandang.” ujar Kubil Idris, gitaris. 

Mungkin tidak semua mata akan langsung menangkap maksudnya, tapi justru disitulah letak daya tariknya dengan membuka ruang tafsir baru tentang cara kita memandang The Upstairs hari ini.

Di balik layar, produksi “Satelit” juga didukung oleh sejumlah nama sebagai kekuatan internalnya. Rian Ajhi tidak hanya meremix tetapi juga mengerjakan aransemen, sementara Haryo Widi (bass) turun tangan menangani mixing. Moko Aguswan bertanggung jawab atas mastering, dan sentuhan visual artwork dipercayakan kepada seniman Aliefya Stann.

Lagu “Satelit” versi anyar ini sudah bisa kamu dengarkan di berbagai digital streaming platform. Sementara video musiknya yang penuh teka-teki sudah tayang perdana di kanal YouTube resmi The Upstairs pada Kamis, 23 Oktober 2025 lalu.

Rilisan ini merupakan sinyal pertama dari fase baru The Upstairs di usianya yang telah 24 tahun. Jika “Satelit” adalah sebuah transmisi, maka album baru yang dijadwalkan rilis saat mereka genap berusia 25 nanti adalah jawabannya.

Dua puluh empat tahun telah berlalu. Dunia musik telah berubah berkali-kali, tapi The Upstairs tetap melaju. Dan memang, tak ada kalimat yang lebih pas untuk merangkum semangat mereka selain, the party must go on! (INQ)

The Upstairs:
Jimi Multhazam: Vocal
Kubil Idris: Gitar
Rian Ajhi : Drum 
Haryo Widi: Bass & Synth Bass
Gabby Miranda: Keyboards
Passia Akilla: Backing Vocal