BRAINFART, Duo Rock Alternatif Bersaudara Asal Denpasar dengan Energi Brilian “Bravo-Foxtrot-101”

Categories: Music

Share
Di tengah derasnya nama baru yang muncul di skena independen, Brainfart hadir mencuri perhatian. Duo bersaudara asal Denpasar ini memperkenalkan diri melalui album debut “Bravo-Foxtrot-101”, sebuah karya brilian yang memantapkan identitas mereka sejak langkah awal.

Sebagai pendatang baru, Brainfart menempatkan dirinya melalui musik yang rapih dan terstruktur. Album penuh untuk rilisan perdana memberi sinyal bahwa kehadiran mereka tidak bersandar pada momentum singkat. Setiap ide disusun dengan kesadaran bahwa debut tak hanya memperkenalkan karya saja, melainkan sebuah komitmen artistik.

Format duo, DXC dan AGJ sapaan akrab mereka, menciptakan ruang interaksi yang lebih fokus. Komposisi gitar, bass, dan vokal yang harmoni dan bekesinambungan. Energi saudara kandung terasa pada kedisiplinan ritme dan pilihan melodi.

Secara sonik, “Bravo-Foxtrot-101” beroperasi dalam ruang rock alternatif dengan jejak punk dan sentuhan ska yang muncul sebagai aksen. Tekstur ini menghadirkan palet yang cukup berwarna untuk sebuah debut, tapi mereka membuktikan tone yang konsisten. Setiap track menampilkan karakter masing-masing, namun masih berada dalam spektrum yang sama.

Di antara keseluruhan materi, “Reinkarnasi” dan “Strong to Survive” menjadi track paling personal bagi mereka, dua lagu yang memuat kritik terhadap manusia yang kerap lupa “pulang”, sekaligus dorongan untuk terus melaju. 

“Bagi kami lagu yang paling menonjol adalah Reinkarnasi, lagu yang mengritisi semua orang yang lupa untuk "pulang" dan Strong to Survive, dan tetap kuat untuk terus melaju. Sebenarnya ada  saling keterkaitan antar lagu yang kalo dilihat dari liriknya akan jelas tersirat.” Kata mereka kompak.

Melalui lirik-liriknya, korelasi antar track akan terlihat jelas ketika pendengar yang menelusurinya secara cermat.

Perjalanan produksi album berlangsung selama satu tahun, dengan dinamika yang tumbuh dari proses yang awalnya sederhana. Brainfart sempat berencana merilis dua single saja hingga masukan dari sound engineer Helldean Records membuka jalan yang berbeda: menambah lagu, sekalian album. 

Pengalaman sekaligus tantangan pada proses produksi album tersebut yaitu seputar nada vokal. Kadang terlalu tinggi, kadang terlalu rendah, dan pada track “Lost”, pencarian nada yang “pas” justru menjadi momen yang paling menguji kesabaran dan naluri musikal mereka.

Dalam proses penggarapan album “Bravo-Foxtrot-101”, SE mereka, yang juga gitaris The Dissland, memberi kehadiran teknis dan perspektif yang melekat pada struktur album. Di luar itu, ada kontribusi kakak mereka, Gus Kleneng (Revelation), serta interaksi kecil dengan beberapa kawan musisi lain yang sesekali menajamkan materi.

Ada yang menarik untuk artcover album mereka, sebuah pesawat yang baru lepas landas, selaras dengan pembuka album berjudul “Pilot”. Seperti episode awal sebuah seri, cover tersebut bekerja sebagai tanda bahwa bab awal baru saja dibuka. Nama “Bravo-Foxtrot-101” sendiri memadatkan identitas mereka yaitu Brainfart (BF), sementara 101 menjadi simbol perkenalan.

“Dengan album ini kami berkenalan dan mengajak passenger/pendengar untuk menikmati musik kami.” Ungkap mereka menggebu.

Brainfart hadir sebagai pendatang baru yang membawa karakter musik yang segar. “Bravo-Foxtrot-101” menunjukkan komitmen yang matang, identitas yang jelas, dan kepekaan musikal yang berpotensi dan patut pula diwaspadai.

“Kami ingin pendengar merasakan keberagaman emosi dan energi yang selama ini kami simpan dan kembangkan bersama.” Tutup mereka.

Dengarkan semua track “Bravo-Foxtrot-101” yang baru saja mengudara, bak kapal yang telah lepas landas membawa pendengarnya terbang di udara. Congratulations! (INQ)

The BAPUK rilis Album EP "Menengah ke Bawah Volume 1" untuk Para Warga Kalcer

Categories: Music

Share
Bayangkan ketika dua sahabat lama bertemu di Yogyakarta. Bukan di puncak kesuksesan, tapi mungkin justru ditengah aktifitas padat yang mulai high pressure. Dari pertemuan itulah, The BAPUK lahir sebagai bagian dari semangat bermusik sejak medio 2015 yang sempat mati suri karena sesuatu dan lain hal. Sebuah nama yang sengaja dipilih dengan sedikit nyeleneh untuk mengolok-olok diri sendiri sebelum dunia luar yang melakukannya. 'Bapuk', sebuah kata satir yang sering kita ucapkan untuk barang usang, rusak atau sebagai ungkapan kekecewaan terhadap sesuatu. 

Atas dasar semangat bermusik para bapak-bapak yang tidak pernah lelah, akhirnya The BAPUK melepas resmi Album EP perdana mereka, ‘Menengah ke Bawah Volume 1’ pada Agustus lalu. Enam lagu didalamnya berisi serangkaian potret nyata yang akrab disekitar kita seperti keresahan, pengkhianatan dan anthem luapan keluh kesah para low to middle class heroes serta semangat untuk menjalani hidup. Ini adalah playlist bagi mereka yang hari-harinya dihabiskan untuk bertarung demi keluarga, bukan untuk pamer kemewahan. 

Musiknya sendiri disajikan berdurasi 2-3 menit perlagu dengan ragam nuansa punk-rock, grunge, ska hingga pop yang sederhana namun jujur. Tidak ada orkestra megah atau produksi yang berlebihan. Selayaknya seperti teman ngobrol di warung kopi, mereka bercerita dengan nada yang blak-blakan, lirik sedikit kritis dan dengan irama mudah dicerna. 

Yang uniknya lagi nih, para personel band The BAPUK lebih suka disebut sebagai "warga komplek" sebagai profil mereka. Ada Pak RT si bassis, Pak Bogang sang gitaris, lalu diikuti oleh Pak Tresno (drum), Lik Gan (gitar) dan Pak D (vokal). Konsep ini merupakan personifikasi dari karakter musik mereka yang dekat, merakyat, dan tanpa jarak. 

Bahkan mereka pun lebih senang menyapa pendengarnya dengan sebutan ‘Para Warga’. Sebuah panggilan yang terasa akrab dan menggalang komunitas. Di tengah industri musik yang seringkali terasa eksklusif, The BAPUK justru membangun “Perum Kompleksnya” sendiri.

Meski baru terbentuk resmi Mei 2025, energi kebapakan mereka tak main-main. The BAPUK langsung berani tampil on stage di Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-30 dan event kolektif ‘WAGGIGS Vol.5’ di Milli by Shaggydog dan beberapa gigs lokal Yogyakarta. Sebuah pernyataan bahwa mereka memang serius, meski lebih sering disebut dengan label om-om bapuk daripada label bujang lapuk.

Lagu ini sabi didengar ditengah krisis hidup yang serba pas-pasan dan butuh penyemangat with same level and pain, go and check it now at all Digital Streaming Platform (DSP) kesayangan para warga karena Album EP The BAPUK, ‘Menengah ke Bawah Volume 1’ adalah jawabannya. The BAPUK datang sebagai kawan yang berkisah tentang keluh kesah yang sama dan terkadang itu rasanya lebih dari cukup.

“Gak papa gak punya rumah
Gak hidup mewah
Gak punya sawah
Diperas sama yang memerintah
Sampai hampir pasrah...”

“Kelas menengah kebawah, Tak pernah menyerah !!!” — The Bapuk 2025
(INQ)

MARRYANNE, Band Shoegaze Asal Cirebon Rilis Ulang EP Bertajuk "INTO THE VOID" di Atlas Records

Categories: Music

Share
Getaran gitar yang melayang halus diiringi vokal sendu menyelubungi ruang itu, kembali hadir. Marryanne, salah satu nama yang konsisten mengusung bendera shoegaze/alternatif asal Cirebon yang digawangi Erlinda Nazwa Rahmadani (vokal), Cyril Muhammad Falih (gitar/vokal), Andhika Dwi Himawan (bass), Arrest Bupala Rafiadi (drum), dan Erlangga Eka Pratama (gitar) secara resmi merilis ulang EP perdana mereka, “Into The Void” yang dirilis pertamakali pada 02 Agustus 2024 lalu. EP tersebut membuka eksplorasi terhadap tema-tema kesepian, pencarian jati diri, dan usaha manusia menemukan kedamaian yang tertuang pada empat tracks lagu yaitu "Violet," "Solitude," "Bookshelves Epilogue" and "Numb".

Kali ini, yang memberi sentuhan baru adalah kolaborasi mereka dengan Atlas Records, label kenamaan yang berbasis di Kota Semarang. Rilisan ulang ini mencakup CD dan T-shirt eksklusif untuk para kolektor dan pendengar setia Marryanne.

“Into The Void” merupakan sebuah perjalanan Marryane. Empat tracks didalamnya dipenuhi nuansa drive, reverb yang menggema dan soundscape ambient bersatu padu menjadi sebuah narasi melodius yang langsung menyentuh relung hati paling dalam. Sebuah mahakarya yang layak untuk diabadikan dalam format fisik.

Momen spesial ini juga tidak lepas dari agenda Marryanne menyambut akhir tahun: Tur Jawa “Into The Void”! Tur yang akan menyambangi beberapa kota di Pulau Jawa ini direncanakan berlangsung dari awal November hingga akhir Desember 2025.

Rilisan ulang EP “Into The Void” hadir tidak hanya sebagai merchandise pendukung tur, tetapi juga sebagai penanda perjalanan dan komitmen Marianne terhadap perkembangan musik dan scene shoegaze di Indonesia. Sebuah keinginan untuk diingat dan sebuah langkah kekal untuk melangkah lebih jauh lagi.

“Kami mengharapkan momen ini menjadi doa dan support kami untuk melangkah kedepannya dalam mengembangkan musik dan scene shoegaze di Indonesia.” Tutup mereka. (INQ)