“REDAM”: Antara Gelombang Post-Punk dan Kebingungan di Era RAM yang Lemot

Categories: Music

Share
Ada momen dihidup kita yang rasanya stuck kayak aplikasi aka nge-lag. Bukan karena RAM (Random Access Memory) kamu habis, tapi justru saat kamu tahu masih banyak memori tersisa malah semuanya terlihat seperti berjalan delay, patah-patah bahkan tidak responsif. Kepala penuh deadline, notifikasi, dan ekspektasi tapi isinya terasa kosong melompong. Badan bergerak dari tempat tidur ke meja kerja, tapi jiwa kayaknya masih rebahan di suatu tempat yang jauh dan menatap langit-langit dengan muka nonchalant

Dari fase lag eksistensial itulah duo electronic noise its named DIZROBOT asal Bandar Lampung melahirkan single kedua yang absurd  berjudul “Redam”.

“Redam” lahir dari diam yang gaduh. Diam dimaksud ialah diam dalam keadaan bingung—mau mulai dari mana? Seperti mencoba menyalakan mesin motor tua dipagi hari namun hanya mendengar keluh kesah yang melelahkan, tanpa usaha dan kemampuan yang menyala.

Secara musik, “Redam” bagaikan perjalanan malam dengan aroma post-punk yang repetitif. Cocok untuk diputar saat kamu menyusuri jalanan kota yang sepi, pura-pura menjadi tokoh utama di film indie tentang alienation urban. Gitar yang mengawang dan cepat, mengiris udara bak alarm kecemasan. Kick drum yang berdetak penuh ledakan, memberi denyut pada kebingungan itu sendiri. Dan diatas semua itu, vokal Anthony yang terdengar lesu, hampir “tidak niat”, justru menjadi pusat gravitasi emosional. Ia dibungkus reverb yang luas, seolah teriakan yang ditahan di dalam ruang kedap suara, penuh makna namun teredam oleh lapisan elektronik yang dingin.

“Di lagu ini kami sengaja nggak ngejar klimaks yang lega, karena difase itu memang nggak selalu ada resolusi,” jelas Anthony.

 “Kadang yang bisa dilakukan cuma bertahan dan menunggu, pokoknya redam dulu semuanya.”

Dan dalam  fase ‘bertahan’ itulah, DIZROBOT menemukan kekuatannya. Duo funky yang terbentuk tahun 2023 ini adalah pertemuan dua kutub energi, Anthony Caesar sang penikmat musik garis keras yang ingin menyalurkan kekacauan, dan Bagus Anggoro, gitaris serba bisa yang permainannya penuh tekstur padat dan eksplosif. Saat Anthony mendengar gitar Bagus, yang ada hanyalah anggukan kepala sambil bergumam,

 “nah, ini dia !!!”. 

Dari sana, mereka mulai menciptakan suara-suara apokaliptik, dengungan yang tak masuk akal, dan kecerian yang kacau dan semata-mata hanya untuk bersenang-senang dan berekspresi.

Inspirasi mereka berakar dalam tapi tidak terikat: ada distansi dingin ala Molchat Doma dan Twin Tribes, energi dansa gelap New Order, gesekan gitar tegang Gang of Four dan The Strokes, serta sensibilitas melankolis Blur dan Boy Harsher. Semua dilebur menjadi suara yang otentik, terkesan dark, upbeat namun tetap catchy.

“Redam” analogikan layaknya bertahan di dalam gelombang kebisingan diri sendiri adalah pencapaian tersendiri. Lagu ini adalah teman saat momen ketika kamu memutuskan untuk tidak melawan lag itu, tapi justru menyelam kedalamnya dan menemukan irama di tengah kebekuan.

Maka, biarlah gelombang “redam” dengan musik agresifnya membungkusmu dan untuk sementara jadilah tokoh utama di dalam kebingunganmu sendiri. Karena DIZROBOT sedang ada di sana, bersama-sama, menciptakan keindahan dari manifesto yang kacau. Lagunya sudah ada diseluruh DSP ya!! Congratulations! (INQ)

Wakeupkids! Rilis "Titik Temu", Pop Punk dari Pelosok yang Menyentuh Kota

Categories: Music

Share
Alkisah dari padukuhan pesisir selatan Gunung Kidul bernama Walikangin, hiduplah trio anak muda belia yang bernama Wakeupkids!. Para personil yang terdiri dari Afilan Bagti (Gitar, Vokal), Shiddieq (Bassist, Vokali) dan Danu (Drum) membawa dentuman pop punk dari tanah yang masih kental dengan tradisi. Rilis single terbaru bertajuk, "Titik Temu".

Dalam industri musik yang sering kali terpusat dan elitis, Wakeupkids! muncul dengan narasi yang natural. Anak-anak pedesaan yang kesehariannya mengiringi kesenian Jathilan, namun malamnya mungkin masih memeluk gitar dan berteriak tentang kegamangan cinta mereka terhadap Blink 182, NOFX, NUFAN, New Found Glory dan masih banyak lagi. "Titik Temu" adalah impact dari paradoks yang indah ini dan bagaimana mereka fokus memainkan musik yang identik dengan kegelisahan urban, sementara akarnya masih kuat tertanam di tanah para dewa.

Liriknya sederhana, personal, namun universal yaitu tentang kisah seorang pemuda yang hampir putus asa dalam percintaan, lalu menemukan secercah harapan. Bercerita tentang kehidupan yang mereka (dan mungkin banyak pendengar) alami, dengan bahasa musik yang mereka cintai.

Produksinya mungkin tidak semegah band-band ibukota, tapi justru di situlah pesonanya. Ada raw energy, kejujuran, dan semangat yang terasa murni. Dengan Riff-riff energik berbalut vokal khas Afilan Bagti terdengar seperti teman yang curhat di tepi sawah sambil memandang langit kota yang jauh. Lagu ini berhasil menjadi "jembatan" seperti yang mereka cita-citakan, antara kesepian dan kebersamaan, antara kegaduhan pop punk ditengah keheningan desa.

Menurut  Afilan Bagti tentang lagu ini sangat menyentuh, 

"Band ini dibentuk untuk menciptakan ruang dimana setiap emosi bisa diterjemahkan menjadi musik yang membuat pendengar merasa 'ada yang ngerti',” ungkapnya.

Tentang menemukan titik temu antara mimpi dan realita, antara desa dan kota, antara tradisi dan modernitas.

Sebagai pembuka menuju debut EP "Cycle of Affection" tahun 2026 ini, "Titik Temu" adalah langkah yang cukup tepat. Pendewasaan identitas Wakeupkids! bahwasanya mereka dari pelosok, punya cerita, dan musik yang layak didengar.

Wakeupkids! mengingatkan kita bahwa kreativitas tidak mengenal kode pos daerah. Faktor geografis bukan penghalang, justru bisa menjadi sumber kekuatan yang unik. Di tengah banjirnya musik yang serupa, suara mereka terasa seperti angin segar atau lebih tepatnya, seperti angin laut dari Walikangin yang membawa cerita baru.

"Titik Temu" telah dirilis pada Desember kemarin diberbagai platform digital audio streaming. Dengarkan lagu mereka sepenuh hati. Dan rasakan gelora pop punk yang bisa tumbuh subur di tanah yang tak terduga. Percaya bahwa musik terbaik sering lahir dari kontras, dan Wakeupkids! membuktikan. Congratulations! (INQ)

No Heart Feeling Rilis Maxi Single “Unresisted/Kill Myself”, Ratapan untuk Kota Depresif yang Tak Pernah Sembuh

Categories: Music

Share
Kembali lagi ke kota Malang, sebuah kota yang tak pernah lelah melahirkan luka dalam bentuk chord dan raungan. Julukan “Kota Emo” tampaknya tak terlalu berlebihan hingga saat ini vibrasinya masih menggaung, masih berdarah dan masih setia melahirkan suara-suara yang berbicara tentang retakan jiwa para pemberontak romantis. Yapp, suara itu datang dari No Heart Feeling, sebuah unit yang sejak 2017 telah menyimpan amunisi kesedihan dan akhirnya meluapkannya dalam maxi single “Unresisted/Kill Myself”.

Setelah melalui kondisi pasang surut ala perjalanan anak band berbasis pertemanan SMA, No Heart Feeling tak sekadar “comeback”. Mereka juga melakukan rebranding, seolah memutuskan untuk menggali lebih dalam luka lama sekaligus membalutnya dengan riff gitar yang pedih, dan menjadikannya senjata maut. Rekaman yang dirilis bulan lalu bentuk penegasan bahwa tidak ada keputusasaan yang berhak dibungkam.

“Unresisted/Kill Myself” dari judulnya saja tampak seperti pengakuan yang tercekat. Dua sisi koin pertarungan batin antara bertahan atau menyerah. Bak comfort zone bagi yang terluka dan teriakan emosional yang semakin depresif. Well you’re not alone My fellas~

Secara musik, No Heart Feeling dengan jelas bermain di area emo era 2000-an awal dengan sentuhan getirnya post-hardcore. Pengaruh band-band seperti Pierce The Veil dan Saosin terasa, terutama dalam dinamika gitar yang berlapis dan vokal yang berayun antara melankolis dan ledakan emosi. Tapi yang paling menyita perhatian adalah scream yang melengking pilu seolah menjadi suara dari segala dendam yang tak terucapkan. Rekaman di Haum Studio oleh Dheka, Axel, dan Abu berhasil menangkap keautentikan. Dengan sentuhan aransemen yang kasar juga distorsi yang mencekam.

Untuk segi lirik, mereka implementasikan potret generasi yang lelah namun masih ingin memberontak. Relate bagi pendengar yang sedang  terasing di tengah keramaian. Melihat sudut kota Malang sebagai metafora untuk kekosongan yang harus dihadapi.

Setelah vakum sejak 2023, No Heart Feeling kembali dengan persona yang lebih gelap, lebih matang, dan lebih berbahaya. Di penghujung 2025, mereka berhasil menyalakan kembali semangat emo yang tak pernah redup. Mereka siap meramaikan lagi scene lokal, mengingatkan kita bahwa musik emo adalah bahasa perlawanan terhadap keputusasaan bukan hanya sekedar elegi patah hati.

“Unresisted/Kill Myself” sudah tersedia di seluruh platform streaming. Dengarkan, rasakan dan jika kau pernah merasakan kesendirian maka ingatlah, No Heart Feeling mampu luapkan isi kepalamu. (INQ)